Posisi calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi buruan banyak orang. Setidaknya ada 12 orang tokoh yang memperebutkan rekomendasi lima partai politik untuk pencalonan bupati dan wakil bupati dalam pemilihan kepala daerah Kabupaten Jember saat ini.
Lima partai politik yang membuka penjaringan bakal calon bupati dan wakil bupati dengan cara yang masing-masing berbeda adalah PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Golongan Karya, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Nasional Demokrat.
PDI Perjuangan, Nasdem, dan PKB membuka pendaftaran. Sejauh ini, ada delapan nama yang sudah mendaftarkan diri di PDI Perjuangan, lima nama mendaftarkan diri di PKB, dan tujuh nama di Nasdem. Sementara Partai Golkar dan PKS mengundang kandidat-kandidat potensial tanpa membuka pendaftaran.
Bupati petahana Hendy Siswanto dan politisi Gerindra Muhammad Fawait mendaftarkan diri dalam penjaringan calon bupati di PDI Perjuangan, PKB, dan Nasdem, serta diundang untuk memaparkan visi dan misi di PKS dan Golkar.
Faida, mantan bupati Jember, memburu tiket rekom cabup dalam penjaringan di PDI Perjuangan, Nasdem, dan PKB. Sebagaimana Hendy dan Fawait, dia juga diundang untuk memaparkan visi dan misi di PKS dan Golkar.
Selain tiga nama tersebut, ada nama tokoh di luar politisi yang juga berburu rekom yakni pensiunan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nanang Handono Prasetyo (berburu rekom di PDIP, Nasdem, PKS, Golkar), mantan kepala Dinas Pendidikan Jember Achmad Sudiyono (PDIP, Nasdem, PKB), mantan rektor Universitas Islam Jember dan Wakil Ketua Pengurus Cabang NU Jember Abdul Hadi (PKB), Kepala Desa Silo Kamiluddin (PDIP), dan akademisi Universitas Muhammadiyah Jember Luluk Masluchah (Nasdem).
Sementara politisi atau kader partai yang ikut berburu rekom adalah tiga anggota DPRD Jember 2019-2024, yakni Hadi Supaat dan Agus Sofyan yang mendaftarkan diri ke PDI perjuangan, serta Dedy Dwi Setiawan yang mendaftarkan diri ke Partai Nasdem. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Karimullah Dahrujiadi juga menjadi kandidat dari partainya.
Jika mengacu hasil survei Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI), hanya Hendy, Fawait, dan Faida yang memiliki elektabilitas di atas sepuluh persen dan berpotensi bersaing. Sementara nama-nama lain memiliki elektabilitas rendah, atau bahkan tak tercantum dalam hasil survei.
Sebut saja Karimullah yang memiliki tingkat popularitas 40,1 persen dan penerimaan 17,5 persen, namun hanya memiliki tingkat elektabilitas untuk calon wakil bupati 8,2 persen. Begitu juga Nanang Handono yang memiliki tingkat popularitas 33,7 persen dan penerimaan 19,2 persen. Namun elektabilitasnya sebagai calon bupati hanya 4,3 persen.
Kendati demikian, sejumlah tokoh yang tak diperhitungkan itu menunjukkan semangat untuk berkompetisi. Abdul Hadi datang ke kantor DPC PKB di Jalan Danau Toba dengan menumpang becak dan ditemani sembilan orang abang becak.
“Saya sebagai kader Nahdlatul Ulama membawa sembilan becak, menandakan sembilan bintang. NU bintangnya sembilan. Akhirnya saya bawa becak sembilan. Ini semua yang mengikuti saya adalah warga Nahdlatul Ulama. Ketika kader NU jadi pemimpin Jember, mereka ini yang perlu diselamatkan, baik pendidikan maupun kesehatannya,” kata Hadi.
Hadi dengan percaya diri menawarkan program pendidikan dan kesehatan. “Saya pelaku pendidikan dan kesehatan. Saya melihat bidan dan perawat di puskesmas dengan gaji Rp 300 ribu, menangis saya. Mudah-mudahan Allah menakdirkan kami bersama rakyar Jember,” katanya.
“Sebagai wakil ketua NU Jember, saya merasa terpanggil untuk menjadi khadam, pelayan masyarakat. Saya mendaftar sebagai wakil bupati. Saya persilakan calon-calon bupati, kalau saya bisa dipercaya, saya siap diajak bersama-sama membangun Jember,” kata Hadi.
Sementara itu, Agus Sofyan mendaftarkan diri menjadi calon wakil bupati di PDI Perjuangan untuk menyuarakan keinginan rakyat Marhaen. “Saya akan memakai nama panggilan Pakde Agus. Senin besok saya akan tumpengan sembari mengembalikan berkas pendaftaran,” katanya.
Dengan mencitrakan diri sebagai seorang ‘pakde’ atau paman, Agus mencoba mendekatkan diri dengan masyarakat bawah, terutama petani. “Piye kabare boyoke, Pakde. Piye kabare asam urate. Pakde yo macul, yo matun, yo nggawe pupuk bokasi, makani wedus,” katanya bercanda.
“Pakde ini adalah sosok yang sudah matang dalam berbagai hal. Orang yang sudah dewasa. Orang yang sudah berpengalaman, terutama saya di politik. saya kan berbasis pertanian. Tahu benar kondisi riil di bawah. Tidak muluk-muluk. Saya akan suguhkan hal-hal yang perlu kita bangun bareng-bareng,” kata Agus.
“Jadi pemimpin tak harus menawarkan program besar, ayo kita benahi dari yang kecil. Program kecil yang barangkali bisa mengangkat nama Jember ke tingkat nasional. Tak perlu anggaran ratusan miliar. Skala prioritas tidak perlu selalu menyerap anggaran besar. Jember ini minimal kita tingkatkan dalam satu sektor yang itu bisa tampil ke kancah nasional. Kalau urusan pendidikan, kesehatan, saya pikir Jember tidak diragukan lagi,” kata Agus.
Direktur ARCI Baihaqi Siraj mengingatkan, untuk saat ini, hanya ada tiga kandidat yang memiliki elektabilitas di atas sepuluh persen yakni Bupati Hendy Siswanto, Muhammad Fawait, dan Faida. Namun masih ada waktu bagi semua kandidat untuk menggenjot elektabilitas sampai 27 November 2024.
“Belum ada calon yang dinyatakan aman. Kalau seorang calon bupati berada pada posisi elektabilitas 50-60 persen baru bisa dikatakan relatif aman. Kalau ingin mengejar ketertinggalan, maka mereka harus meningkatkan popularitas dan akseptabilitas dengan cara turun ke masyarakat langsung,” kata Baihaqi.
Baihaqi mengatakan, para kandidat yang ingin mengejar Hendy, Fawait, dan Faida, harus memiliki peta politik dan peta sasaran pencitraan yang jelas supaya bisa dikenal. “Karena tingkat keterkenalan mereka masih lemah,” katanya.
Peluang terbuka karena berdasarkan survei ARCI pada 18-16 April 2024, 40,7 persen pemilih masih mungkin mengubah pilihan. Namun mereka harus didekati dengan tatap muka langsung, karena sebanyak 38,9 persen menyukai kampanye door to door. Cara konvensional seperti kampanye terbuka dan kampanye terbatas hanya disukai masing-masing 4,2 persen dan 8,8 persen pemilih.
Mayoritas responden menyukai sosok calon bupati dan wakil bupati yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap masyarakat (37,2 persen), jujur bersih dari korupsi (25,2 persen), dan religius taat beragama (16,2 persen).
Namun kampanye tatap muka saja tak cukup untuk mengubah pilihan. Sebanyak 71,2 persen responden menyatakan hanya akan mengubah pilihan karena diberi uang atau bingkisan. Visi dan misi tak penting dan hanya bisa meyakinkan 2,3 persen untuk mengubah pilihan. “Isi tas yang bisa mengubah elektabilitas,” kata Baihaqi.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember Ayub Junaidi mengatakan semua kandidat diperlakukan sama sesuai regulasi partai. “Semua sama melalui tahapan yang telah ditetapkan Dewan Pimpinan Pusat PKB,” katanya.
Tinggal dua partai parlemen di DPRD Jember yang belum membuka pendaftaran atau penjaringan, yakni Partai Amanat Nasional dan Partai Persatuan Pembangunan. Ketua Tim Penjaringan Dewan Pimpinan Daerah PAN Jember Nyoman Aribowo mengatakan, penjaringan akan dilakukan pada 25-26 Mei 2024. “Kami akan mengundang calon-calon yang kami nilai potensial untuk memberikan paparan kepada pengurus PAN,” katanya.
Sementara itu, PPP akan membuka pendaftaran pekan depan sebelum Ketua Dewan Pimpinan Cabang PPP Jember Madini Farouq bertolak ke Tanah Suci untuk beribadah haji. “Nanti kami akan kabari teman-teman pers,” kata Madini. [wir]
Para Bakal Cabup dan Cawabup yang Ikut Penjaringan Partai
PDI Perjuangan
1. Hendy Siswanto (Petahana) mencalonkan Bupati
2. Nanang Handono Prasetyo (mantan pejabat kementerian PUPR) mencalonkan Bupati
3. Muhammad Fawait (Anggota DPR Provinsi Jatim) mencalonkan Bupati
4. Kamiludin (Kades Silo) mencalonkan Wakil Bupati
5. Hadi Supa’at (Anggota DPRD Jember) mencalonkan Wakil Bupati
6. Achmad Sudiyono (mantan KADIKNAS Jember) mencalonkan Bupati
7. Agus Sufyan (Wakil Ketua DPRD Jember) mencalonkan Wakil Bupati
8. Faida (mantan Bupati 2016-2021) mencalonkan Bupati.
PKB
1. Hendy Siswanto (Petahana) mencalonkan Bupati
2. Muhammad Fawait (Anggota DPR Provinsi Jatim) mencalonkan Bupati
3. Achmad Sudiyono (mantan Kadispendik Jember) mencalonkan Bupati
4. Faida (mantan Bupati 2016-2021) mencalonkan Bupati.
5. Abdul Hadi (Wakil Ketua PCNU Jember) mencalonkan wakil bupati
Partai Nasdem
1. Hendy Siswanto (Petahana) mencalonkan Bupati
2. Muhammad Fawait (Anggota DPR Provinsi Jatim) mencalonkan Bupati
3. Achmad Sudiyono (mantan Kadispendik Jember) mencalonkan Bupati
4. Faida (mantan Bupati 2016-2021) mencalonkan Bupati.
5. Abdul Hadi (Wakil Ketua PCNU Jember) mencalonkan wakil bupati
6. Nanang Handono Prasetyo (mantan pejabat kementerian PUPR) mencalonkan bupati
7. Dedy Dwi Setiawan (Wakil Ketua DPRD Jember 2019-2024) mencalonkan bupati
8. Luluk Masluchah (akademisi)
Partai Golkar
1. Karimullah Dahrujiadi (Ketua DPD Golkar Jember) mencalonkan bupati
2. Hendy Siswanto (Petahana) mencalonkan Bupati
3. Muhammad Fawait (Anggota DPR Provinsi Jatim) mencalonkan Bupati
4. Faida (mantan Bupati 2016-2021) mencalonkan Bupati.
5 Nanang Handono Prasetyo (mantan pejabat kementerian PUPR) mencalonkan bupati
PKS
1. Hendy Siswanto (Petahana) mencalonkan Bupati
2. Muhammad Fawait (Anggota DPR Provinsi Jatim) mencalonkan Bupati
3. Faida (mantan Bupati 2016-2021) mencalonkan Bupati.
4. Nanang Handono Prasetyo (mantan pejabat kementerian PUPR) mencalonkan bupati






