Sidoarjo (beritajatim.com) – Pameran Seni Aksara Jawa Kuna “Nawasena” di gelar di Rumah Budaya Malik Ibrahim, Sidoarjo Sabtu (4/5/2024) sampai Minggu (26/5/2024) mendatang. Dalam pameran tersebut terdapat sekitar 15 karya seniman dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta tentang Aksara Jawa Kuno.
Ketua panitia Syska Liana mengatakan program ini kerja sama dengan Dana Indonesiana Kemendikbud Ristek RI. Sebelum membuat karya untuk pameran ini, para seniman juga telah mengikuti program Kelas Belajar Aksara Jawa Kuna dan program Kunjungan ke situs-situs Sejarah Kuna di Mojokerto dan Sidoarjo.
“Dari kegiatan program kelas belajar menghasilkan keluaran karya yang dapat diapresiasi publik sebagai distribusi pengetahuan sejarah dan warisan budaya kita,” ucapnya di sela-sela pembukaan pameran.
Banyak karya spektakuler yang dipersembahkan oleh para seniman. Seperti karya milik A. Khafidz Fadli (Toyol Dolanan Nuklir) Dimensi Bervariasi 2024.
KAWI=IWAK besi, kuningan, timah, seling, klinting – kluntung, pick up gitar, kayu. Kawi – Iwak merupakan sebuah persembahan yang menggabungkan pengetahuan tradisional tentang aksara Kawi dengan unsur-unsur visual untuk menciptakan pengalaman multisensori semua indera.
Toyol Dolanan Nuklir tidak hanya memasukkan aksara Kawi secara fisik pada setiap bagian pusaka unen-unen yang berbentuk iwak, tetapi juga menghadirkan suara yang menggambarkan keberadaan dan kekuatan aksara tersebut.

Dengan 11 instrumen dawai, Toyol dolanan nuklir terpacu untuk menyimbolkan 11 dimensi yang terdapat pada teori dawai, yakni penggabungan teori fisika antara anti gravitasi dan kuantum. Hal inilah yang menjadi penggambaran energi yang terjadi saat isra miraj dan juga moksa yang dilakukan oleh para leluhur terdahulu. keterangan soal KAWI=IWAK.
Karya lainnya dari Ika Arista soal
Bherras Dhumpa berbahan Besi, gerabah Dimensi Bervariasi 2024. Dalam karya itu dijelaskan dalam dunia pusaka atau tosan aji terutama keris, aksara kuno tidak berdiri sendiri hanya sebagai aksara atau alat komunikasi. Aksara kuno di lain pihak dianggap sebagai nilai yang menentukan relevansi dengan spiritualitas serta fakta-fakta kultural atau digunakan juga sebagai bagian dari rajah yang posisinya tidak dapat digantikan dengan aksara baru sebab akan memberikan nilai sakral yang berbeda.

Karya ini merupakan rekontruksi penggunaan aksara kuno pada masa modern yang tidak hanya sebagai romantisme masa lalu tetapi juga masih memungkinkan untuk membaca nilai sakralitas aksara kuno sebagai bagian dari warisan budaya leluhur.
Ada lagi karya Yosep Arizal (Akara) Widya berbahan perunggu, kanvas, sendok garpu, cat, tinta Dimensi Bervariasi 2024. Dalam tertulis, karya ini merupakan metafora tentang imajinasi nilai-nilai intelektual yang eksklusif, sakral, sarat akan muatan spiritual, dan aspek-aspek kultural lainnya dari aksara Kawi sebagai salah satu peninggalan budaya kuno yang memiliki relasi kontekstual dengan masyarakat pemiliknya di masa silam, serta bagaimana posisi dan fungsi aksara Kawi saat ini dihadapkan dengan masyarakat modern, pembelajaran inklusif dengan segenap perangkat pemikiran dan metode modernnya sebagai usaha pelestariannya, kemungkinan- kemungkinan komodifikasi, eksotifikasi, dan ‘gaze’ dari masyarakat modern terhadap aksara Kawi dan juga peninggalan budaya kuno lainnya. (isa/ian)






