Surabaya (beritajatim.com) — Aroma kopi yang menguar dari stan pameran menjadi salah satu daya tarik dalam gelaran “AURUM TERRA: Pameran Kelompok Tani Kopi & Tani Beras Sehat” di pada 14–15 Maret 2026.
Di antara para peserta yang memamerkan hasil panennya, Hadi Prastyowanto dari Kelompok Tani Berkah Tani Nyawiji, Desa Sumberdem, tampak antusias memperkenalkan kopi yang mereka bawa langsung dari kebun.
Bagi Hadi, keikutsertaan dalam pameran ini bukan sekadar kesempatan untuk menjual produk, tetapi juga menjadi penanda perubahan yang mulai dirasakan para petani setelah mengikuti berbagai pelatihan dan pendampingan. Program tersebut dijalankan oleh tim dosen dari sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas petani kopi di Malang.
“Kami merasa sangat terbantu, khususnya dalam memahami pengelolaan kopi secara menyeluruh dari hulu ke hilir, mulai dari perawatan lahan hingga pascapanen,” ujar Hadi. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya banyak petani hanya fokus pada proses budidaya, tanpa memahami bagaimana pengelolaan usaha yang baik dapat meningkatkan nilai produk mereka.
Pelatihan manajemen keuangan yang diberikan, lanjutnya, membuat kelompok tani lebih tertib dalam menyusun pembukuan. Di sisi lain, pelatihan media sosial juga membuka wawasan baru tentang cara mempromosikan produk secara kreatif.
“Sekarang kami jadi punya bekal untuk membuat konten dan memperkenalkan kopi serta potensi desa kami ke pasar yang lebih luas,” tuturnya.
Hadi mengaku, program pendampingan yang dilakukan para dosen tersebut telah membawa perubahan nyata bagi kelompok tani. Salah satunya terlihat dari meningkatnya kualitas hasil produksi kopi mereka. Ia pun berharap kerja sama antara petani dan dunia akademik tidak berhenti di satu program saja.
“Harapannya kolaborasi ini bisa terus berkembang menjadi kerja sama strategis yang berkelanjutan di masa depan,” katanya.
Pameran AURUM TERRA sendiri menjadi puncak dari rangkaian program hibah yang berlangsung hampir satu tahun. Kegiatan ini menghadirkan berbagai kelompok petani kopi, kelompok tani padi beras sehat, hingga kelompok usaha binaan GKJW.
Selain menjadi ruang promosi produk, pameran ini juga membuka peluang penjualan sekaligus mempertemukan petani dengan konsumen secara langsung.

Ketua tim hibah, Prof. Dr. Dra. Juniarti, M.Si., Ak., menjelaskan bahwa pameran ini dirancang sebagai etalase bagi produk-produk pertanian lokal berkualitas.
“Pameran ini menghadirkan kelompok petani kopi, kelompok tani padi beras sehat, dan kelompok usaha binaan GKJW. Tujuannya memperkenalkan produk kopi dan beras sehat sekaligus membuka kesempatan penjualan serta pertumbuhan produk lokal bagi para petani dan UMKM yang terlibat,” jelasnya.
Tidak hanya menampilkan produk, rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan workshop mengenai teknik pengolahan kopi pascapanen hingga cara memahami selera pasar. Melalui kegiatan tersebut, petani diharapkan dapat memahami kebutuhan konsumen sekaligus meningkatkan nilai jual produk mereka.
Program pendampingan ini merupakan bagian dari hibah sebesar AUD 25.000 dari yang berada di bawah . Program tersebut berlangsung sejak 25 April 2025 hingga 28 Februari 2026 dengan fokus pada komunitas petani kopi PATUWEN di Malang.
Di balik reputasi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi dunia, masih banyak petani kecil yang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tata kelola usaha, pencatatan keuangan, hingga akses pasar yang terbatas. “Produk kopi mereka sering kali berkualitas tinggi, tetapi dijual dengan harga yang belum mencerminkan nilai sebenarnya,” ungkap Juniarti.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim dosen UK Petra memberikan berbagai pelatihan yang dirancang untuk memperkuat keberlanjutan usaha petani. Materi yang diberikan antara lain perhitungan biaya produksi, pelaporan keuangan digital, pemanfaatan teknologi blockchain dan e-commerce, hingga pengembangan konten pemasaran kreatif.
Tim ini juga melibatkan sejumlah dosen lintas bidang seperti Hariyo Priambudi Setyo Pratomo dari bidang Sustainable Mechanical Engineering and Design, Yohan Gunawan Henuk dari Digital Business Transformation, serta Hendri Kwistianus dari Business Accounting. Peserta program adalah komunitas PATUWEN yang terdiri dari tiga kelompok tani kopi dan satu kelompok tani beras.
Melalui penguatan tata kelola usaha yang lebih profesional, program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi para petani kopi PATUWEN untuk naik kelas. Bagi Juniarti, peningkatan kapasitas petani bukan hanya soal teknik budidaya, tetapi juga kemampuan mengelola usaha secara berkelanjutan.
“Langkah ini bukan sekadar meningkatkan aspek teknis. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan kemandirian petani dan memperkuat daya tawar mereka dalam rantai nilai industri kopi di Indonesia,” pungkasnya. (fyi/suf)






