Selesai sudah. Setelah mengalami tiga kekalahan beruntun sebelumnya, Persebaya Surabaya menutup Liga 1 2023-24 dengan kemenangan 2-1 atas Persik Kediri, di Gelora Bung Tomo, Minggu (28/4/2024). Tak ada lagi mantan yang menjebol gawang Andhika Ramadhani. Dengan 42 angka, Persebaya selamat dari zona degradasi dan menduduki peringkat 12.
Tak ada satu pun Bonek yang berkenan mengenang musim ini. Tak ada yang bisa dibanggakan dari Persebaya. Peringkat 12 adalah peringkat terburuk sejak Persebaya berkompetisi di Liga 1 pada 2018. Mereka hanya mencetak 10 kemenangan, 12 hasil imbang, dan 12 kekalahan. Bahkan selisih gol pun minus 13. Persebaya hanya mencatatkan 33 gol dan kebobolan 46 gol.
Setelah menjuarai Liga 2 2017, Persebaya membuat terpukau publik sepak bola nasional dengan menduduki peringkat 5 dengan mengemas 50 angka, dari 14 kemenangan, 8 hasil seri, dan 12 kekalahan. Persebaya menjadi tim terproduktif di Liga 1 dengan mencetak 60 gol dalam 34 pertandingan, namun kebobolan 48 gol. Rata-rata penonton yang hadir di Gelora Bung Tomo mencapai 28.536 orang menurut data Transfermarkt.
Musim 2019 ini boleh dibilang musim terbaik Persebaya. Setelah sempat menduduki peringkat 9 hingga pekan ke-29, Persebaya melesat ke peringkat 2 setelah menyapu bersih lima pertandingan terakhir, termasuk menang 2-1 di kandang Persija Jakarta dan menghantam Arema 4-1 di Gelora Bung Tomo.
Persebaya terpaut 10 angka di bawah Bali United yang menjadi juara. Ketajaman lini depan Persebaya bukan kaleng-kaleng. Mereka mencetak 57 gol dalam 34 pertandingan, lebih bagus daripada produktivitas sang juara liga yang mencetak 48 gol, dan terproduktif kedua di bawah Arema yang mencetak 59 gol.
Namun lini belakang Persebaya masih mudah dijebol dengan kebobolan 43 gol. Mungkin itu yang membuat Bajul Ijo gagal menjuarai Liga 1. Manajer Manchester United Alex Ferguson pernah mengatakan, lini serang yang tajam memenangi pertandingan, dan lini belakang yang tangguh memenangi kompetisi liga.
Gelora Bung Tomo pada musim ini masihlah angker. Kendati rata-rata jumlah penonton berkurang menjadi 16.472 orang dibanding musim sebelumnya, Persebaya tak mudah ditaklukkan di sini. Tercatat dari 17 laga kandang, Persebaya hanya kalah sekali, dari PSS Sleman dengan skor 2-3 yang menyebabkan Bonek mengamuk.
Musim 2019 sebenarnya menjadi momentum kebangkitan Persebaya. Manajemen memperkuat skuat untuk menghadapi musim berikutnya. Menjuarai Piala Gubernur dengan menaklukkan Persija Jakarta 4-1 di Gelora delta Sidoarjo menjadi permulaan yang bagus. Namun pandemi menghancurkan segalanya.
Setelah dua musim tanpa kompetisi, Persebaya kembali bertanding tanpa penonton karena regulasi kesehatan pandemi, pada musim 2021-2022. Kali ini Persebaya menduduki peringkat kelima dengan mencatatkan 63 angka yang diperoleh dari 18 kemenangan, 9 hasil seri, dan 7 kekalahan.
Lini depan Persebaya menjadi yang tertajam kedua, dengan mencetak 56 gol. Terpaut satu gol lebih sedikit dibandingkan sang juara Bali United. Dibanding musim-musim sebelumnya, pertahanan Persebaya membaik dengan kebobolan hanya 35 gol.
Tradisi lima besar Persebaya gagal dijaga pada musim 2022-2023. Bajul Ijo menduduki peringkat keenam dengan mengemas 52 angka, dari 15 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 12 kekalahan. Sebanyak 52 gol dicetak dan 45 gol bersarang di gawang Persebaya. Rata-rata jumlah penonton di GBT pun anjlok menjadi 6.276 orang setiap pertandingan.
Awal musim 2023-2024, Presiden Persebaya Azrul Ananda menjanjikan gelar juara. Perubahan di tubuh PSSI pasca Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 mempertebal keyakinannya. Bonek pun menyambut optimisme itu dengan membuat tifo mosaik raksasa di tribun utara GBT bertuliskan ‘Spirit of Champions’.
Persebaya yang dilatih Aji Santoso mengawali musim ini dengan meyakinkan: menaklukkan Persis Solo 3-2 di Stadion Manahan. Namun optimisme itu tak bertahan lama. Persebaya tak pernah mendulang kemenangan dalam lima pertandingan berikutnya.
Perjalanan Persebaya musim ini jauh dari karakter juara. Alih-alih juara, capaian tertinggi Persebaya musim ini hanya pada peringkat 3 setelah menang di kandang Persis. Berikutnya, Persebaya lebih banyak menghindari zona degradasi. Bahkan selama putaran kedua, Persebaya kesulitan menembus 10 besar klasemen.
Dua pelatih menjadi tumbal kegagalan Persebaya. Aji Santoso dan Josep Gombau lengser dan sempat digantikan asisten pelatih Uston Nawawi. Paul Munster menjadi pelatih Persebaya pada pekan ke-24, dan mengakhiri tren tidak pernah menang selama 10 pertandingan, sejak menang 3-1 atas Arema di GBT pada 23 September 2023.
Tidak ada keajaiban yang dibawa Munster dari tanah leluhurnya di Irlandia Utara. Dalam sepuluh pertandingan tersisa, Persebaya hanya mencatatkan tiga kemenangan, tiga hasil imbang, dan empat kekalahan.
Bahkan pada pekan ke-30, Persebaya masih rawan terdegradasi. Mereka terselamatkan hasil imbang 1-1 antara Persik dengan Persita Tangerang, yang memastikan Persebaya tak terdegradasi kendati kalah tiga kali berturut-turut pada pekan 31 hingga 33.
Kemenangan atas Persik 2-1 pada pekan terakhir di hadapan 8.372 penonton menjadi akhir yang manis di musim yang buruk. Dua gol yang dicatatkan Persebaya di papam skor dicetak dua penyerang yang sama-sama memiliki produktivitas minim, Wildan Ramdhani pada menit 52 dan Paulo Henrique pada menit 90+1. Sementara gol Persik dicetak Fitra Ridwan pada menit 56.
Ini gol kedua Wildan dan gol keempat Henrique musim ini. Kendati miskin gol, Henrique mencatatkan momentum bersejarah. Menurut StatsRawon, dia mencetak gol ke-650 Persebaya sejak kompetisi Liga Indonesia pertama kali digelar pada musim 1994-1995.
Gol ini juga cukup heroik, karena dicetak pada menit terakhir oleh pemain yang selalu diolok-olok oleh suporter Persebaya sendiri. Selebrasi Henrique menunjukkan betapa berartinya gol tersebut.
Kemenangan ini tak menyelamatkan seluruh skuat dari evaluasi Paul Munster. Sejumlah pemain yang bermain di bawah ekspektasi jelas akan terdepak. “Persebaya harus memiliki tim yang kuat, dengan pemain yang lebih baik. Saya sudah mulai merekrut pemain. Jadi, Anda tidak akan melihat tim seperti ini musim depan, pastinya tidak,” katanya, dilansir Beritajatim.com, Senin (22/4/2024).
Pekerjaan rumah Munster cukup berat. Dia harus menciptakan tim yang kompak dan tidak tergantung pada satu dua pemain. Persebaya pada musim ini sangat bergantung pada sosok Bruno Moreira. Data statistik StatsRawon menunjukkan betapa pemain Brasil berusia 25 tahun itu ‘menggendong’ Persebaya.
Tak hanya mencetak 10 gol dan 4 assist, Bruno paling banyak bermain (31 pertandingan), mencatatkan 19 tembakan tepat sasaran, paling banyak menerima kartu kuning (8), terbanyak melakukan pelanggaran (99 kali), terbanyak dilanggar (58 kali), terbanyak memulihkan penguasaan bola (21 kali), paling sukses menggiring bola (26 kali), dan paling banyak melakukan tekel sukses (62 kali).
Pemilihan pemain harus diperkuat dengan data rekam jejak yang jelas. Manajemen perlu menempatkan pemain-pemain muda hasil kompetisi internal untuk magang. Khusus untuk pemain asing, jangan mudah termakan omongan agen. Munster harus dipercaya memilih pemain yang sesuai dengan skemanya.
Manajemen Persebaya harus mulai memperhatikan aspek nonteknis seperti mental dan psikis pemain, dengan memekerjakan psikolog profesional. Mental yang kuat menjadi kunci untuk memenangi kompetisi yang panjang. Liga 1 bagaikan maraton, bukan adu lari jarak pendek.
Saatnya Persebaya berbicara banyak musim depan jika tak ingin semakin ditinggalkan penonton. Rata-rata jumlah penonton di GBT musim ini yang hanya 8.919 orang sudah cukup untuk menunjukkan betapa tidak diminatinya Persebaya. Hanya kemenangan dan tentu saja trofi juara mengembalikan atmosfer yang hlang musim depan. [wir]






