Surabaya (beritajatim.com) – Tepat pada 2 Mei, seluruh rakyat memperingati Hari Pendidikan Nasional atau yang disingkat Hardiknas, yaitu hari lahirnya Ki Hajar Dewantara, tepatnya 1889 silam. Ki Hajar merupakan seorang kolumnis di berbagai surat kabar waktu itu, dimana salah satu tulisannya yang berjudul Als Ik Een Nederlander Was (Sekiranya Aku Seorang Belanda) di Surat Kabar De Expres,13 Juli 1913), membuat pejabat Hindia Belanda marah besar dan mengasingkan Ki Hajar ke Pulau Bangka.
Selama menjalankan pengasingan di Belanda, Ki Hajar belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi kala itu dan kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan. Sepulang ke Tanah Air, ia kemudian mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Desain pendidikan inilah yang banyak mengilhami sistem pendidikan nasional sejak dari dulu sampai kini.
Momentum peringatan Hardiknas pun memiliki makna berarti bagi banyak pihak, terutama mereka yang memiliki latar belakang pendidikan. Salah satunya adalah Dr. Lia Istifhama, aktivis perempuan yang kini menyandang posisi sebagai senator Jatim terpilih.
“Hardiknas merupakan momentum self reminder kita semua bahwa pendidikan adalah pondasi peradaban bangsa. Kekuatan dan eksistensi bangsa, tergantung pada situasi pendidikan anak bangsa,” tegasnya, Rabu (1/5/2024).
Ia kemudian menyebut salah satu pepatah lain yang populer.
“Scientia potentia est, pengetahuan adalah kekuatan, yang ditulis Sir Francis Bacon, menjadi salah satu kalimat yang sangat penting untuk menunjukkan pada kita semua, bahwa jika ingin menjadi bangsa yang kuat, maka kuatkanlah pengetahuan di dalamnya.”
Dikenal sebagai penulis, ning Lia pun menjabarkan sejarah peradaban dunia yang kuat karena pengetahuan bangsanya.
“Kita harus memetic hikmah, bahwa sejarah bangsa yang kuat, adalah yang disebabkan kuatnya pengetahuan mereka. Dinasti Abbasiyah misalnya, yang dikenal sebagai pusat peradaban dan pengetahuan pada Abad 8 dan 9 M. Abbasiyah saat itu dikenal dengan pusat perpustakaan dunia, tepatnya, di ibukota Baghdad.”
“Pengetahuan dari Yunani maupun Persia, diterjemahkan oleh cendekiawan muslim Abbasiyah, yang kemudian dari Bahasa Arab itulah, bangsa lain, bisa menterjemahkan, hingga akhirnya kita pun bisa mengetahui peninggalan filasafat kuno atau Yunani klasik, misalnya.”
Kemajuan pengetahuan, diterangkannya mengangkat peradaban bangsa.
“Kemajuan pengetahuan itulah, yang mengangkat peradaban bangsa. Bagaimana kemudian Eropa memasuki masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad ke-17 dan ke-18, dan kita pun bisa menjemput kemerdekaan karena kekuatan pendidikan pribumi. Sekalipun, penjajah telah berupaya kuat agar pendidikan tidak menjadi akses yang bisa dengan mudah diterima oleh pribumi saat itu.”
Di akhir, peraih penghargaan Person Of The Year 2023 Radar Surabaya itu, menerangkan bahwa pendidikan juga pondasi moral generasi bangsa.
“Bagaimana moral terjaga, tak lain disebabkan seberapa dalamnya kecintaan anak bangsa terhadap ilmu. Namun sayangnya, di momentum Hardiknas kali ini, kita harus menyadari bahwa tidak banyak generasi bangsa yang mau membaca. Seperti diketahui, dilansir dari data UNESCO, hanya 0,001% minat baca Indonesia. Hal itu berarti, dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang suka dan aktif membaca.”
“Hal ini tentu patut disayangkan karena membaca ataupun dunia literasi yang berkaitan dengan pendidikan, sejatinya obat utama menangkal dampak negatif digital, dimana revolusionernya digital terkadang memacu stress. Hal ini disebabkan pilihan bertransformasi teknologi di era digital bila tidak diimbangi dengan kemampuan dan ketrampilan yang bijak, pasti sangat rentan memacu problema psikis. Sedangkan, pendidikan atau ilmu inilah yang menjadi controlling moral dan mental seseorang.”
“Pada akhirnya, pendidikan harus terus menempati posisi kasta tertinggi dalam segala aspek sebagai bentuk konsistensi menjaga peradaban bangsa yang luhur dan cerdas membaca segala realitas perubahan. Perkembangan digital tanpa ditunjang pondasi pendidikan yang kuat, tentu sangat tidak mungkin menjadi sebuah perkembangan yang mampu memajukan peradaban bangsa,” pungkasnya. [tok/beq]






