Jember (beritajatim.com) – Satib, legislator Gerindra untuk Daerah Pemilihan Jember dan Lumajang di DPRD Jawa Timur, menyebut pemerintah provinsi cukup cepat bergerak dalam mengatasi masalah tingginya harga beras sejak awal tahun ini.
Pemerintah sempat menyatakan, kenaikan harga beras tak lepas dari berkurangnya produksi padi karena terdampak badai El Nino. “Kami sudah mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk melakukan operasi pasar, sehingga bisa membantu masyarakat,” kata Satib, di sela pembagian lima ton beras untuk warga miskin di rumahnya, Kabupaten Jember, Minggu (7/4/2024).
Satib mengingatkan, tingginya harga beras bisa menyumbangkan inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, inflasi bulanan di Jember pada Maret 2024 mencapai 0,63 persen dan Jatim 0,64 persen. Sementara inflasi tahunan (year-on-year) Jember sebesar 2,53 persen dan Jatim 3,04 persen.
Komoditas penyumbang utama inflasi di Jember antara lain beras, daging ayam ras, telur ayam ras, jagung manis, dan minyak goreng. Beras memberikan andil inflasi 0,17 persen, tertinggi kedua di bawah bawah daging ayam ras. “Alhamdulillah, Pemprov Jatim cukup gercep (gerak cepat), sehingga harga beras cukup bisa dikendalikan,” kata Satib.
Satib menekankan pentingnya pengendalian harga beras di Jatim. “Karena Jawa Timur ini pemasok beras tertinggi secara nasional. Ketika bicara nasional, maka wilayah kita sendiri harus lebih baik,” katanya.
Satib sendiri melanjutkan tradisi aktivitas sosialnya membagikan beras untuk warga miskin setiap jelang lebaran di Jember. “Sedikit banyak kami ingin ikut membantu sebagian masyarakat di sekitar kami agar bisa ikut menikmati hari raya Idulfitri,” kata pria yang juga pengusaha elpiji ini. [wir]






