Menjadikan politik sebagai hobi, Mohammad Hafidi kembali terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Jember untuk keempat kalinya dalam Pemilu 2024. Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini adalah satu dari dua anggota DPRD Jember dengan masa jabatan terlama.
Hafidi terpilih pertama kali menjadi anggota DPRD Jember dalam Pemilihan Umum 2009. Dalam Pemilu 2024, ia memperoleh 10.989 suara, terbanyak dibandingkan tujuh calon legislator PKB terpilih lainnya. “Saya berturut-turut memperoleh suara terbanyak di internal PKB sejak 2009,” katanya.
Kendati meraih sukses terus-menerus, Hafidi menganggapnya tak istimewa. “Urusan itu adalah urusan Yang Maha Kuasa, mau jadi atau tidak. Saya cuma berikhtiar,” katanya.
Hafidi mengaku tak pernah terbebani dengan urusan politik. “Politik memang berorientasi kekuasaan. Tapi bagi saya ini hobi. Saya hobi di politik. Karena ini hobi, maka apa yang saya lakukan bukan karena terpaksa, tapi karena senang,” katanya.
Dengan menjadikan politik sebagai hobi, Hafidi menciptakan kegembiraan dalam pemilu. Ini yang diharapkannya bisa diterima dan dirasakan masyarakat. “Saya mengenal politik sejak kecil, saat partai hanya ada tiga di masa Orde Baru. Saya terus mengikuti,” katanya.
Dari pengamatan dan pengalamannya, Hafidi menilai politik memang harus dijadikan hobi. Dengan menjadikan politik sebagai hobi, dia berhasil menciptakan kebersamaan dengan pemilihnya. Pria berkumis tebal ini mengaku tidak pernah serius berkampanye sebagaimana layaknya caleg lain. Relasi sosialnya dengan masyarakat terbangun jauh-jauh hari sebelum pemilu, sehingga menciptakan loyalitas pemilih.
“Itu gambar baliho saya bisa bermacam-macam, karena tidak semua gambar itu dari saya. Saya belum apa-apa, sudah banyak orang membuat balihio bergambar saya. Bahkan foto saat pemilu dulu muncul kembali. Ini berarti komitmen saya meletakkan politik sebagai hobi diterima masyarakat,” kata Hafidi.
Hafidi juga berusaha menularkan hobinya berpolitik kepada masyarakat. Ia ingin masyarakat juga punya hobi berpolitik, dan menganggap politik sebagai bagian dari hidup sehari-hari, sekaligus terdidik secara politik.
Dari empat pemilu legislatif yang diikuti, Hafidi menilai pemilu kali ini memiliki tantangan lebih besar dan berat dibandingkan tiga pemilu sebelumnya. “Saya melihat ada sebuah metamorfosis politik. Kondisi politik memang mampu mempengaruhi segalanya. Tatanan sosial dan ekonomi bisa rusak karena politik,” katanya.
“Pemilu 2024 bagi saya pribadi adalah pemilu yang barbar. Semua sudah rusak dengan segala trik menghalalkan segala cara untuk mendapatkan suara masyarakat. Pola membeli suara sudah jadi bagian dari perjalanan politik yang buruk,” kata Hafidi.
Menurut Hafidi, hari ini siapapun bisa menjadi politisi dan calon legislator dengan mengabaikan kaderisasi dalam partai. “Mereka yang tidak pernah terjun ke politik hari ini, begitu pendaftaran calon legislatif dibuka, bisa masuk. Bahkan lebih aneh lagi, banyak partai politik yang kesulitan memenuhi kuota caleg di setiap daerah pemilihan,” katanya.
Ini membuat muncul fenomena politisi ‘kutu loncat’. “Kalau pemilu kemarin di partai A, pemilu sekarang di partai B. Ini karena mereka tidak melalui proses kaderisasi partai,” kata Hafidi.
Ini berbeda dengan situasi saat pemilu dilaksanakan dengan proporsional tertutup, yakni menggunakan nomor urut seperti Pemilu 1999 dan bukan pertarungan bebas perebutan suara antarcaleg. “Mereka yang mencalonkan diri tersaring oleh partai politik. Mereka benar-benar kader yang disiapkan partai politik untuk bertarung,” katanya.
Nomor urut caleg ditentukan oleh kredibilitas dan dedikasi sang calon selama menjadi kader dan anggota partai politik yang mengusung. “Jadi kader yang maju benar-benar terseleksi dan militan,” kata Hafidi.
Kondisi seperti ini juga berdampak pada masyarakat, Mereka jenuh terhadao politik. “Celah ini yang saya manfaatkan dengan menularkan politik sebagai hobi, dengan membuat mereka melihat apa yang saya lakukan dan perbuat,” kata Hafidi.
“Dengan mengemas politik sebagai hobi, saya berinteraksi dan berkomunikasi terus dengan masyarakat. Tidak ada cerita orang punya hobi sendirian. Ketika dikatakan hobi, maka kita dituntut terus berhubungan, berbagi suka dan duka, dengan yang lain,” kata Hafidi.
Dari hasil komunikasinya dengan masyarakat, Hafidi meyakini, seseorang yang memiliki komitmen dan prinsip idealisme yang kuat akan lebih mudah mendekati masyarakat. “Ternyata walaupun pemilu barbar seperti ini, masyarakat juga tahu mana calon legislator yang baik dan tidak,” katanya.
Politik santau ala Hafidi terlihat dari baliho yang dipasang. Tidak ada satu pun yang bergambar formal. Hafidi justru memasang baliho bergambat foto dirinya yang berkaos putih dan memegang sebatang rokok yang menyala. “Itu foto propaganda. Saya ingin menyampaikan pesan: biar caleg lain mau menebarkan uang, silakan, saya lihat sambil merokok saja,” katanya.
Hafidi ingin menjadi antitesis politisi pragmatis yang lebih suka membeli suara masyarakat. “Tidak semua harus dengan uang. Saya calon anggota DPRD petahana. Kebutuhan masyarakat tinggal saya komunikasikan dengan pemerintah agar terpenuhi, seperti pendidikan dan kesehatan,” katanya.
“Harus dicatat: saya tidak punya orientasi kekuasaan. Politik adalah sarana untuk mencapai tujuan saya yakni mencerdaskan masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan untuk mendapatkan layanan pendidikan yang layak,” kata Hafidi yang juga mengelola lembaga pendidikan di Kecamatan Pakusari.
Tekad ini sudah disuntikkan Hafidi sebagai motivasi dalam berpolitik. “Saya punya tekad agar anak-anak yang saat ini masih fakir miskin punya kesempatan dan hak yang sama dengan anak-anak yang lain dalam mengukir masa depan,” kata Hafidi.
Hafidi menegaskan keinginannya itu bukan omong kosong. “Saya melakukannya bersama masyarakat untuk membangun opini bahwa pendidikan mutlak dibutuhkan untuk mengubah kehidupan umat dan bangsa,” katanya. [wir]






