Surabaya (beritajatim.com) – Tim Ekspedisi Warisan Islam dalam Selimut Budaya Baru sedang menjahit “kain” robek agar bisa dikenakan kembali. Kami mulai menjahitnya dari Ampeldenta, Surabaya. Perjalanan luar biasa di 6 kota pada wilayah Jawa Timur, kami tempuh dalam waktu seminggu.
Terik matahari usai Sholat Dhuhur mengiringi perjalanan Tim menuju Ampeldenta. Baru saja memasuki gapura, tim ekspedisi sudah disambut senyum sumringah para pedagang yang memadati kanan kiri jalan menuju kompleks makam.
Tak hanya senyuman, mereka pun memanggil dengan sebutan abah dan mengajak untuk mampir. “Mari, Bah (abah), mampir dulu, kurmanya baru-baru,” ajaknya penuh semangat.
Sudah umum, kompleks pemakaman Raden Rahmatillah atau Sunan Ampel menjadi tempat ziarah yang top di wilayah Surabaya. Kompleks pemakaman yang terus buka, kecuali saat 10 menit menjelang sholat. Kompleks makam yang kini digandrungi pemuda-pemudi untuk membuat konten video dan hunting foto sembari berziarah.
Penelusuran ditemani oleh Pak Mustajab, abdi dalem makam. Meski penampilannya sudah terlihat sangat uzur gerak langkah kakinya sangat lincah menemani ke sudut-sudut kompleks makam. Perjalanan Sunan Ampel, hingga masjid yang menurut cerita turun temurun diarsiteki oleh Mbah Soleh menjadi obrolan yang menarik.

Menyusur proses perjalanan Sunan Ampel membuat langkah kami tergerak untuk berjalan ke barat dan terhenti di Kota Tuban. Sebagai Bumi Wali, Tuban menyimpan banyak mitos dan fakta mengenai para Sunan.
Kota yang sudah eksis sebelum tahun 1000 masehi ini menjadi labuan penting para utusan, pedagang, hingga rakyat. Wajar saja karena Tuban pernah menjadi pelabuhan internasional masa Kerajaan Majapahit.
Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel hingga Syekh Asmarakandi pernah bermukim disini. Cerita mereka juga terkubur rapi disini. Beberapa dibumbui mitos, sisanya berselimut fakta. Perjalanan di kota ini harusnya 2 hari, namun kami membutuhkan verifikasi data, sehingga bertambah menjadi 4 hari.

Bahkan, kami mengunjungi kompleks pemakaman Ronggolawe yang bikin bulu kuduk merinding. Brrrrrr, untuk kami yang tidak biasa kena angin laut, perjalanan di Tuban cukup membuat badan adem panas.
Dalam perjalanan ini kami mencoba menjahit dari kebenaran sejarah hingga selimut mitos. Leluhur kita memang cerdas, mereka melakukan asimilasi dengan berbagai kebudayaan pendatang, India, Arab, Asia Tengah, Tionghoa. Mereka meramu sedemikian rupa agar menjadi kebudayaan baru yang lebih “njawa”.
Contohnya saja seperti relief-relief gapura di kompleks makam Sunan Ampel yang cukup kental dengan budaya Tionghoa. [beq]






