Lamongan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Lamongan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi inseminasi buatan pada ternak. Langkah ini untuk menggenjot kualitas sekaligus kuantitas ternak sapi masyarakat.
“Dengan inseminasi buatan, akan ada peningkatan genetik. Jadi performanya bisa menjadi besar, karena dari sapi-sapi pejantan pilihan, sehingga peningkatan beratnya bisa sampai satu ton, sedangkan sapi lokal betina ini awalnya kan kecil,” ujar drh. Rahendra Prasetya Eko S, Sekretaris Dinas Kesehatan dan Peternakan Hewan (DKPH) Kabupaten Lamongan, Sabtu (27/1/2024).
Rahendra mengatakan, inseminasi buatan merupakan proses memasukkan semen beku (spermatozoa) yang telah dicairkan dari jantan unggul, ke dalam saluran reproduksi betina (sapi lokal). Metode ini mampu meminimalisir risiko yang terjadi saat proses pengawinan silang untuk menghadirkan bibit sapi yang unggul.
“Kalau perkawinan alam ini risiko yang dihasilkan besar, seperti kecelakaan saat proses perkawinan karena fisik pejantang yang terlalu besar, hingga lainnya. Tapi dengan disuntik (inseminasi buatan) ini satu kali pengambilan semen beku ini bisa 200 bibit dan ini menjadikan lebih efisien, sehingga akan menghasilkan pejantan yang lebih baik,” terangnya.
Rahendra merinci, saat ini di Lamongan telah ada sekitar 96 ribu populasi sapi hasil crossing antara sapi limosin, sapi simental, sapi peranakan onggole (PO), sapi angus, maupun sapi lokal. Bahkan, tutur Rahendra, DKPH sedang mengembangkan jenis sapi baru yakni wagyu dan belgian blue yang saat ini telah tersedia 30 ekor.
“Proses buntingnya (pun juga sama, seperti sapi-sapi yang lain 9 bulan 10 hari seperti biasanya. Cuma nanti hasilnya ini fifty-fifty karena 50 persen dari genetik pejantan 50 persen dari genetik sapi lokal. Sehingga nanti diharapkan perpaduannya ada peningkatan performa menjadi 75 persen yang dihasilkan dari pejantan,” jelasnya.
Ditambahkan Rahendra, semen beku itu diperoleh dari Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari melalui Pemprov Jatim, yang kemudian akan ditampung di bank semen DPKH Kabupaten Lamongan.
Selanjutnya, petugas inseminasi buatan akan mengambil dan mendistribusikannya ke desa-desa dua minggu sekali yang diambil pada hari Rabu dan Minggu. Melalui kegiatan ini, Pemkab Lamongan mentargetkan ada 40 ribu ekor sapi yang dapat lahir dari hasil inseminasi buatan selama kurung waktu satu tahun.
“Dulu pedet (anak sapi) yang baru lahir harganya hanya kisaran 1 juta. Kalau sekarang bisa Rp2-3 juta, dan kenaikan beratnya juga cukup signifikan yang awalnya 300 kg di awal kelahiran, sehari ini bisa 1-1,5 kg kenaikannya. Sedangkan kalau sapi lokal masih di bawah 1 kg,” katanya.
Meski demikan, Rahendra mengaku, masih terdapat berbagai tantangan dalam meningkatkan populasi sapi di Lamongan. Salah satunya risiko PMK (penyakit mulut dan kuku) yang menurunkan minat beternak masyarakat. Oleh sebab itu, sosialisasi dan vaksinasi harus dilakukan secara massif di masyarakat.
“Mulai Mei 2023 Lamongan sudah zero PMK. Tapi tetap harus dimassifkan, vaksinasi tidak cukup 1-2 tahun tapi 5 tahun hingga seterusnya kita lakukan vaksinasi. Terlebih saat ini ada program pedet (anak sapi) yang baru lahir harus dilakukan vaksinasi secara rutin 3 bulan, habis itu 6 bulan sekali,” beber Rahendra.
“Kita juga terus mengembangkan inovasi seperti Olahan Limbah untuk Usaha Ternak dan Asuransi Sapi Peternak Sejahtera (Ombak Si Petra) bentuk integrasi Pertanian dan Peternakan. Serta terus memberdayakan alumni-alumni sekolah peternakan rakyat (SPR) yang tersebar di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Sambeng, Ngimbang, dan Sukorame,” pungkasnya. [riq/beq]






