Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa ITS Surabaya menyulap limbah aluminium menjadi sumber energi terbarukan. Inovasi ini berangkat dari keresahan banyaknya sampah kaleng dan aluminium foil bekas di sekitar laboratoriumnya.
Inovasi ini meneliti efek dari pre-treatment aluminium menggunakan asam klorida dan natrium molybdate terhadap laju produksi hidrogen.
Dalam prosesnya, reaksi hidrolisis yang terjadi pada aluminium menghasilkan gas hidrogen. Kemudian gas tersebut diuraikan menjadi energi listrik memakai alat bernama Proton-exchange Membrane (PEM) fuel cells.
Tahap pre-treatment itu berguna untuk mendapatkan logam aluminium yang bersih dari kotoran. Dengan pre-treatment selama 60 detik, diketahui 0,5 gram kaleng aluminium dapat menghasilkan daya listrik sebesar 233,93 miliwatt.
“Daya listrik tersebut jauh lebih besar daripada kaleng aluminium tanpa melalui tahap pre-treatment, yang hanya menghasilkan 29,78 miliwatt,” Ketua tim PKM-RE ITS M Rizki Akbar, ditulis Senin (22/1/2024).
Dari hasil risetnya, tim ini berhasil menyalakan lampu kecil selama 40 menit dengan menggunakan 4 gram kaleng aluminium. Kiba, sapaan Rizki Akbar menyimpulkan bahwa riset ini berpotensi menjadi sumber energi terbarukan di masa mendatang.
“Hal ini tentu saja dengan pengolahan yang lebih baik dan bebas dari bahan kimia berbahaya,” ungkap Mahasiswa dari Departemen Teknik Fisika ITS tersebut.
Risetnya itu juga telah berhasil menjuarai Pimnas ke-36 beberapa waktu lalu. Tim berhasil membawa pulang dua medali sekaligus, yaitu medali perak untuk kategori poster dan medali perunggu untuk kategori presentasi.
Riset yang dilakukan oleh tim PKM-RE ITS ini merupakan salah satu contoh inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi limbah. Inovasi ini juga mengembangkan sumber energi terbarukan. Terobosan ini diharapkan dapat menjadi solusi mengatasi permasalahan lingkungan dan energi di Indonesia. [ipl/ian]






