Surabaya (beritajatim.com) – Sejumlah daerah di Indonesia mulai memanfaatkan nyamuk Wolbachia untuk mengendalikan penyakit demam berdarah. Lalu bagaimana konsep pengendalian demam berdarah melalui nyamuk Wolbachia ini ?
Dosen Teknobiologi Universitas Surabaya (Ubaya) Dr Mariana Wahjudi menjelaskan bahwa nyamuk Wolbachia merupakan nyamuk Aedes Aegypti yang mengandung bakteri Wolbachia.
“Bakteri ini biasa ditemukan di tubuh serangga seperti kupu-kupu, lalat buah, lebah madu, dan cacing nematoda,” jelas Mariana, Rabu (27/12/2023).
Kata dia, keberadaan Wolbachia dalam tubuh nyamuk menyebabkan virus demam berdarah tidak bisa berkembang biak dalam nyamuk Wolbachia, sehingga tidak akan ditularkan ke manusia berikutnya.
“Dengan kata lain, nyamuk Wolbachia tidak dapat menyebarkan virus demam berdarah ke orang lain,” kata Kepala Laboratorium Purifikasi dan Biologi Molekuler Ubaya tersebut.
Ia menguraikan prosesnya. Pertama, bakteri Wolbachia diinfeksikan pada telur nyamuk Aedes Aegypti. Telur menetas dan nyamuk yang berkembang berisi Wolbachia dalam tubuhnya.
Nyamuk Wolbachia ini kemudian dilepaskan ke lingkungan dan diharapkan kawin dengan nyamuk lokal. Jika nyamuk Wolbachia jantan kawin dengan nyamuk betina biasa, maka telurnya tidak akan menetas.
“Hanya telur yang berasal dari nyamuk Wolbachia betina saja yang akan menetas. Nyamuk Wolbachia betina kawin dengan jantan biasa atau jantan Wobachia, maka telur yang dihasilkan semuanya akan menetas,” jelasnya.
Dengan menyebarkan nyamuk Wolbachia ke lingkungan, maka perbanyakan virus demam berdarah bisa ditekan dan penyebarannya dicegah dari satu orang ke orang lain.
Ia melanjutkan, jika jumlah nyamuk Wolbachia di lingkungan bertambah banyak, maka kasus infeksi demam berdarah di antara penduduk akan menurun.
Menurutnya, nyamuk biasa belum tentu mengandung Wolbachia ataupun virus demam berdarah. Ketika digigit nyamuk Wolbachia, bakteri dalam nyamuk tersebut tidak bisa menginfeksi manusia, sehingga aman bagi tubuh.
Strategi penggunaan serangga ber-Wolbachia ini juga ampuh untuk menanggulangi sejumlah penyakit lain misalnya untuk Zika, Chikungunya, demam kuning, dan malaria.
Mariana menyebut, pelepasan nyamuk Wolbachia ke lingkungan termasuk aman dan dampak bahaya dalam 30 tahun ke depan dapat diabaikan.
“Masyarakat dapat mendukung program ini dengan memiliki edukasi dan membantu menyebarkan informasi yang benar terkait strategi ini agar hasilnya maksimal,” tuturnya. [ipl/beq]






