Tuban (beritajatim.com) – Ecoton kali ini bersinergi dengan Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban dalam sebuah aksi nyata peduli lingkungan. Kegiatan bersih-bersih pantai dan Brand Audit di Pantai Boom Kabupaten Tuban diikuti oleh 30 relawan, menunjukkan komitmen mereka terhadap kelestarian lingkungan.
Aksi bersih pantai ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan masalah sampah plastik yang dapat merusak ekosistem laut. Pantai Boom, yang merupakan destinasi pariwisata, sering kali terabaikan dan tergenang sampah plastik.
Koordinator kegiatan, Alaika Rahmatullah, menjelaskan bahwa melalui aksi bersih pantai, mereka berusaha membangkitkan kesadaran dan melibatkan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Pantai Boom Tuban memiliki lokasi yang strategis, tepat di sebelah utara alun-alun Tuban, dan terdapat kegiatan pariwisata. Di kawasan bibir pantai, banyak sekali sampah plastik yang menumpuk,” terangnya.
Menurutnya, pantai yang kotor oleh sampah dapat merusak ekosistem laut, sekaligus mengancam kesehatan manusia dan biota di sekitarnya. “Oleh karena itu, perlu dilakukan bersih-bersih pantai dan brand audit untuk melihat karakteristik sampahnya,” lanjut Alaika.
Aksi bersih pantai diikuti oleh upaya Brand Audit, sebuah kegiatan yang melibatkan analisis akuntabilitas perusahaan terhadap sampah yang dihasilkan, sesuai dengan amanat pasal 15 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008.
Hasil dari kegiatan ini mencengangkan, dengan relawan berhasil mengumpulkan sebanyak 167,515 Kg sampah. Dari hasil brand audit, diketahui bahwa 90% sampah didominasi oleh plastik sekali pakai seperti kresek, kemasan sachet, dan sedotan.
Bahkan, relawan menemukan kemasan shampoo sachet yang masih berasal dari tahun 90-an, menunjukkan bahwa sampah plastik memiliki dampak jangka panjang yang signifikan.
Manager Advokasi dan Litigasi Ecoton, Azis, S.H., menjelaskan dampak serius dari sampah plastik terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
“Sampah plastik yang terbuang ke lingkungan dapat menyebabkan kontaminasi mikroplastik. Mikroplastik sangat berbahaya apabila masuk ke tubuh manusia karena dapat mengganggu sistem hormon bahkan memicu kanker,” ungkap Azis.
Oleh karena itu, produsen diimbau untuk ikut bertanggung jawab dengan mengambil kembali sampahnya dan menciptakan sarana pengumpulan sampah yang efektif, serta menghindari penggunaan kemasan sachet yang sulit didaur ulang.
Rio, seorang Mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Ronggolawe Tuban, menyoroti pentingnya perluasan kegiatan bersih-bersih tidak hanya di pantai, tetapi juga di sungai-sungai.
“Sampah yang berakhir di laut berasal dari sungai-sungai. Oleh karena itu, kita perlu memberikan perhatian khusus pada kondisi sungai agar dapat mengurangi jumlah sampah yang mencemari laut,” uangkap Rio.
Selanjutnya, hasil kegiatan ini akan disampaikan oleh aliansi pegiat lingkungan dari Universitas Ronggolawe kepada Dinas Lingkungan Hidup. Tujuannya adalah untuk bersama-sama membahas kebocoran sampah plastik di Kabupaten Tuban.
“Diperlukan sinergi antara pemerintah, produsen, dan masyarakat dalam menangani permasalahan sampah. Langkah-langkah konkrit seperti pembatasan plastik sekali pakai oleh pemerintah, desain produk yang ramah lingkungan oleh produsen, serta perubahan pola distribusi menuju sistem guna ulang perlu diambil untuk mencapai lingkungan yang bersih dan berkelanjutan,” tutupnya. (ian)






