Mojokerto (beritajatim.com) – Jelang hari raya Natal dan Tahun Baru (Nataru), Pejabat (Pj) Wali Kota Mojokerto, Ali Kuncoro melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar tradisional dan pasar modern. Dari hasil inspeksi tersebut diketahui harga kebutuhan pokok dan bumbu dapur masih stabil.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Provinsi Jawa Timur didampingi Sekretaris Daerah Kota (Sekdakot) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait melakukan inspeksi di dua pasar tradisional dan satu pasar modern. Yakni Pasar Prajurid Kulon, Pasar Tanjung Anyar dan swalayan Sanrio.
Rombongan tiba di lokasi pertama yakni Pasar Prajurid Kulon di Kecamatan Prajurit Kulon. Orang nomor satu di lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto ini berinteraksi dengan sejumlah pedangang. Mas Pj (sapaan akrab, red) memantau langsung harga sejumlah bahan pokok dan bumbu dapur dari para pedangang.
Seperti pedagang cabe, daging dan beras. Sidak di lokasi pertama ditutup dengan melibat Operasi Pasar Murah yang digelar Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DiskopUKMPerindag) Kota Mojokerto di sisi belakang Pasar Tanjung Anyar.
Usai dari lokasi pertama, rombongan melanjutkan ke pasar terbesar di kota dengan tiga kecamatan tersebut. Lapak beras menjadi tujuan utama sidak yang digelar jelang Nataru tersebut. Usai dari Pasar Tanjung Anyar, rombongan ke swalayan Sanrio. Minyak, beras dan cookies.
“Hari ini bersama-sama dengan Forkompimda, Pak Sekda yang landing sektornya DiskopUKMPerindag. Kita ingin melihat langsung potensi kenaikan harga yang ada di lapangan. Tadi kita sama-sama sudah melihat di beberapa tempat, di pasar dan ini di Sanrio,” ungkapnya, Rabu (20/12/2023).
Masih kata Mas Pj, dari hasil sidak diketahui jika harga kebutuhan pokok dan bumbu dapur di Kota Mojokerto masih stabil. Indeks perubahan harga di Kota Mojokerto terkonfirmasi sebesar 1,83 persen dan rata-rata harga masih stabil, baik itu komoditi beras maupun kebutuhan pokok lainnya.
“Yang memang agak terjadi kenaikan itu soal cabe. Baik cabe merah, cabe rawit memang ada kenaikan tapi harganya masih di angkat Rp70 ribu sampai Rp75 ribu per kg. Ini juga menjadi atensi dari Pak Mendagri, karena apa? Di semua, hampir seluruh Indonesia menjadi suatu permasalahan,” katanya.
Namun, tegas Mas Pj, harga cabe dalam waktu dekat akan terjadi penurunan secara signifikan lantaran akan ada panen raya cabe. Di daerah-daerah penghasil cabe akan terjadi panen raya. Menurutnya harga cabe di Kota Mojokerto masih kondusif, aman, terkendali dan pihaknya akan memantau lonjakan harga tersebut.
“Beberapa langkah yang kita ambil oleh Pemerintah Kota Mojokerto adalah RPK (Rumah Pangan Kita) dan Peracangan TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah). Kita kolaborasi dengan Bulog dan LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), kita targetnya sampai Februari akan ada 25 titik. Saat ini sudah ada 5 titik yang beroperasi, kita harapkan ketika ada kenaikan harga bisa mengintervensi lewat Peracangan TPID,” tegasnya. [tin/adv]







