Jakarta (beritajatim.com)- Pemerintah memperkuat keamanan pangan nasional melalui Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Perum BULOG.
Per 23 Juni 2026, stok beras di Bulog mencapai 5,17 juta ton. Angka ini menjadi bantalan utama untuk bantuan pangan, beras SPHP, kebutuhan golongan anggaran, dan tanggap darurat.
Stok tersebut tidak berdiri sendiri. Bapanas mencatat pengadaan setara beras dari produksi dalam negeri sejak awal 2026 telah mencapai 3,23 juta ton. Stok juga ditopang cadangan akhir 2025 sebesar 3,24 juta ton.
Cadangan akhir 2025 itu bersumber dari pengadaan dalam negeri tahun 2025 sebanyak 3,43 juta ton tanpa impor.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menyebut posisi stok saat ini sebagai capaian penting. Ia memastikan ketersediaan beras nasional tetap aman di tengah antisipasi dampak El Nino.
“Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita tahun 2023. Alhamdulillah kita lolos. Stok kita sampai detik ini, itu 5,2 sampai 5,3 juta ton. Itu stok tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Amran.
Penyaluran CBP sudah tembus 1,02 juta ton
Pemerintah juga mempercepat penyaluran Cadangan Beras Pemerintah ke masyarakat. Per 23 Juni 2026, realisasi penyaluran CBP untuk anggaran 2026 mencapai 1,02 juta ton.
Jumlah tersebut terdiri dari bantuan pangan beras 601,7 ribu ton, beras SPHP 367,8 ribu ton, golongan anggaran 38 ribu ton, dan tanggap darurat 11,3 ribu ton.
Dengan stok yang kuat, pemerintah juga telah memutuskan tambahan bantuan pangan beras selama tiga bulan pada semester kedua 2026.
Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga konsumsi rumah tangga.
Dampaknya langsung terasa bagi masyarakat, terutama ketika harga pangan bergerak pada masa tanam dan musim paceklik.
Sebelumnya, dalam Rapat Koordinasi Terbatas Perkembangan Harga Komoditas Pangan pada 9 Juni 2026, pemerintah menugaskan Bulog melanjutkan program bantuan pangan selama tiga bulan mulai Juli 2026.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa bantuan tersebut akan diberikan kepada 33,2 juta keluarga. Program ini menjadi instrumen untuk menjaga daya beli sekaligus membantu stabilisasi harga beras.
“Pemerintah menugaskan BULOG untuk melanjutkan program Bantuan Pangan selama tiga bulan kepada 33,2 juta keluarga yang akan dimulai pada bulan Juli 2026. Program ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus membantu stabilisasi harga pangan,” ujar Zulkifli Hasan.
Bapanas juga memantau harga beras medium pada 22 Juni 2026. Secara umum, harga masih berada dalam koridor Harga Eceran Tertinggi.
Di Zona I, rata-rata harga beras medium tercatat Rp13.080 per kilogram. HET di zona ini sebesar Rp13.500 per kilogram. Di Zona II, rata-ratanya Rp13.704 per kilogram dengan HET Rp14.000 per kilogram.
Di Zona III, rata-ratanya Rp15.244 per kilogram dengan HET Rp15.500 per kilogram.
Pemantauan harga ini penting. Pemerintah tidak hanya menyiapkan stok di gudang. Pemerintah juga menggerakkan beras ke masyarakat melalui bantuan pangan dan SPHP agar pasokan tetap terasa di pasar.
Penguatan stok beras nasional juga didorong dari sisi hulu. Hingga 3 Juni 2026, Bulog telah menyerap 3.008.626 ton gabah dan beras petani atau sekitar 75 persen dari target nasional 4 juta ton pada 2026.
Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani menyebut serapan tersebut menunjukkan kehadiran negara untuk petani. Kebijakan
Harga Pembelian Pemerintah gabah kering petani sebesar Rp6.500 per kilogram juga memberi kepastian pasar bagi petani.
Dengan serapan yang berjalan, stok yang kuat, dan penyaluran yang bergerak, pemerintah optimistis keamanan pangan nasional tetap terjaga. Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pasokan beras.
Pemerintah bersama Bapanas, Bulog, kementerian/lembaga, dan pemerintah daerah akan terus menjaga distribusi agar harga tetap terkendali. [aje]






