Mojokerto (beritajatim.com) – Situs Kedaton Sumur Upas merupakan salah satu situs budaya yang berada di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Situs Sumur Upas diduga merupakan sebuah kompleks tempat tinggal bangsawan dan struktur tersebut memiliki setidaknya enam layer budaya.
Arkeolog Ismail Lutfi dalam kanal Youtube Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI menjelaskan, lapisan struktur bangunan di situs tersebut menunjukkan adanya berbagai ciri yang berbeda dari setiap lapisan struktur. Ada enam struktur batu bata berbentuk kotak di kanan-kiri sehingga berjumlah 12 buah.
“Sangat simetris. Menimbulkan dugaan ini menjadi penahan dari bangunan tertentu. Ada tiang yang disangga, ini menunjukan ada bangunan kayu di atasnya. Banyak ditemukan umpak tapi sayang sekali posisi umpak tidak diketahui dengan pasti asalnya dari mana,” ungkapnya.
Struktur bangunan tersebut diduga merupakan bangunan yang panjang, mirip bangsal. Hal ini melihat jumlah umpak yang ditemukan di sekitar situs. Struktur yang ditemukan saling tumpang tindih sehingga cukup sulit untuk membuat tafsiran yakni bagian mana saja yang berada pada lapis budaya yang sama.
“Terdapat dua teknik pembangunan bata yang menggunakan teknik kosot (gosok) dan teknik lepa (campuran untuk merekatkan batu bata. Teknik lepa nenggunakan tanah atau lempung. Di sini (Situs Sumur Upas) ada pemanfaatkan ulang bata-bata lama untuk bangunan yang baru, yang lebih mudah,” katanya.

Pada lapisan paling atas banyak ditemukan bata-bata lama tapi dibangun kembali dengan cara ditumpuk. Selain ditemukan stuktur batu bata kuno, juga terdapat batu andesit dan gerabah. Juga ditemukan batur dan umpak serta struktur bangunan menjorok ke dalam mirip tandon air.
“Teknik pembangunannya menggunakan lepa, kemungkinan ini (tandon air) dibangun belakangan yang fungsinya untuk menampung air. Beda di sisi lain, lebih dalam. Bagian tengah ada bale kambang, terdapat batu karang. Di sisi utara masih tersisa, ada ornamennya jadi itu bukti di atas candi yang lama dibangun candi yang lama,” ujarnya.
Di bagian tengah Situs Sumur Upas terdapat sumur utama yang sengaja ditutup karena dipercaya merupakan sumur beracun. Sesuai dengan namanya upas merupakan racun. Di Situs Sumus Upas juga ditemukan keramik dan arca Siwa, namun belum diketahui peninggalan era mana.
“Tempat ini dianggap tempat suci yang mempunyai nilai yang magic sehingga dipertahankan kesuciannya itu. Ini merupakan bagian penting dalam konteks wilayah Trowulan untuk dilakukan banyak kajian lagi agar semakin diketahui bagaimana posisi Sumur Upas ini dalam kontesk keruangan Majapahit sendiri,” tegasnya.
Karena dengan banyaknya temuan artefak yang ada di dalam tanah, lanjut Lutfi, hal tersebut masih menimbulkan tanda tanya. Menurutnya dengan penyebutan Kedaton dan Keraton, keduanya ada di wilayah Trowulan. Di Sumur Upas dikenal dengan nama Candi Kedaton.
“Kedaton dari kata dasar datu atau ratu, kedatu atau tempat tinggal ratu. Artinya masyarakat menyimpan memori atau kenangan jika ini merupakan tempat tinggal ratu. Bangunan arkeologi yang mengarah ke sana, di bagian luar ada umpak yang diduga merupakan bangunan besar. Di tenggara ditemukan lantai segi enam,” ujarnya.
“Dari Negarakertagama dimungkinan di wilayah Trowulan ini akan ditemukan sejumlah tempat di mana istana para bangsawan dibangun. Ada istana bangsawan utama, raja tertinggi kemudian masing-masing bangsawan penguasa daerah juga memiliki keraton di wilayah ini,” jelasnya.
Baca Juga:
Kolam Segaran Mojokerto Simbol Kekayaan Kerajaan Majapahit
Di Situs Kedaton Sumur Upas ada enam lapis budaya. Menurutnya untuk mendapatkan gambaran utuh dari Situs Kedaton Sumur Upas merupakan pekerjaan besar namun harapan sederhananya yakni mengetahui bangunan paling tua ada di lapisan mana dan abad berapa hingga paling muda.
“Apabila di Sumur Upas ini, lapisan paling bawah bisa mewakili abad ke X misalnya maka ini bisa membawa ke pemahaman ternyata di daerah Trowulan tidak hanya di Bejijong yang mempunyai penanggalan tua namun sampai ke arah selatan. Itu gambaran sementara, andai kata lapisan terbawa membawa kita pada informasi abad ke X,” urainya.
Dalam Negarakertagama, Lutfi menambahkan, Prapanca menyebutkan jika bangunan di Majapahit diberi tambahan materiil berupa baja lepra. Yakni bagian pelapis jika terkena sinar bulan akan menyala. Bukti tersebut ditemukan di beberapa sisa struktur paling bawah di Situs Kedaton Sumur Upas.
“Ada lapisan putih-putih. Apakah itu yang dimaksud oleh Prapanca sebagai baja lepra itu? Andai kata benar, baja lepra itu juga dikenal di Majapahit karena sementara ini, para arkeolog cenderung mengatakan bahwa baja lepra itu banyak digunakan pada candi-candi di Jawa Tengah dan digunakan di bagian luar,” pungkasnya. [tin/ted]






