Magetan (beritajatim.com) – Jumlah siswa-siswi setingkat SD SMP di Magetan yang dilaporkan melakukan self harm bertambah. Data yang diterima Pj Bupati Magetan Hergunadi, sudah 100 lebih siswa siswi yang menyanyat kulit lengan sendiri.
Hergunadi mengatakan, dari hasil skrining mulai Senin (16/10/2023) hingga Sabtu (21/10/2023), dilaporkan sudah nyaris 200 siswa siswi yang secara fisik ditemukan bekas luka sayatan tipis di permukaan kulit lengan bawah.
“Saat ditanya, memang ada yang memiliki masalah dengan orang tua atau masalah keluarga, ada juga yang karena putus cinta atau soal asmara. Kemudian, ada juga yang cuma gabut atau ikut-ikutan saja,” kata Hergunadi, Sabtu (21/10/2023).
Baca Juga: Indonesia Wajib Bangun Pondasi Pangan Mandiri untuk Atasi Krisis Pangan
Hergunadi masih belum mendapat detail terkait berapa jumlah siswa yang melakukan self harm imbas persoalan yang berat. Namun, setahu dia, banyak yang melakukan self harm itu karena gabut, yang artinya karena tak ada kegiatan.
“Untuk yang persoalan berat kami sudah perintahkan guru bimbingan dan konseling (BK) di masing-masing sekolah untuk memantau anak-anak yang mungkin punya masalah. Jika ada masalah di rumah, anak bisa cerita ke guru begitu pula sebaliknya,” lanjut mantan Sekda Magetan itu.
“Sementara untuk yang ngakunya karena gabut ini, berarti kan dia gak punya kegiatan. Karenanya kami akan evaluasi.lagi bagaimana selama ini kegiatan ekstrakurikuernya. Siswa harus lebih intensif lagi dalam berkegiatan yang positif jika merasa banyak waktu luang,” lanjutnya.
Baca Juga: Mahfud MD Ternyata Pernah Kalahkan Anies Baswedan
Menurutnya, adanya temuan siswa yang menyayat lengan meski lukanya tidak dalam ini seharusnya menjadi pengingat. Baik guru dan orang tua. Keduanya berperan penting dalam mendidik generasi muda yang usianya masih labil itu.
“Khususnya orang tua, ini segera harus mengubah pola asuh. Intinya harus melekat pada anak. Berbeda dengan jaman saya dulu yang ketika orang tua membiarkan itu gak akan berbuat yang aneh-aneh. Nah, anak sekarang tidak bisa begitu, artinya pendidikannya harus melekat. Kemana, sedang apa, dengan siapa, yang paling penting, apakah mereka ada masalah. Orang tua harus tau. Begitu pula guru,” katanya.
Pun, Hergunadi tak mau meng-kambinghitamkan sosial media yang diduga jadi penyebab awal para siswa-siswi itu melihat konten self harm. Yang ingin dia tekankan adalah pendidikan anak di sekolah dan di rumah.
Baca Juga: Undang Gibran dan Erick Thohir, Prabowo Deklarasi Cawapres Besok di Jakarta
Karenanya, pihaknya segera meminta tolong pada ahli di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Khususnya untuk meneliti bagaimana ilmu parenting yang cocok untuk mendampingi generasi Alpha kali ini.
“Kami akan tanyakan pada mereka bagaimana cara menangani dan mengasuh anak jaman sekarang ini. Supaya apa, di kemudian hari mereka tidak sampai melukai diri sendiri dan memilih kegiatan yang positif,” pungkasnya. [fiq/ian]






