Setelah menyelesaikan lagu Selir Hati, Ahmad Dhani mendadak mencari Hendy Siswanto. “Datang ya Pak Bupati? Oh, datang? Kalau begitu, dua periode,” katanya sambil tersenyum lebar dari atas panggung.
Pemilihan kepala daerah masih setahun lagi, dan tentu Dhani tak sedang berkampanye. Namun ucapan Dhani yang disambut teriakan histeris penonton itu tak urung membuat Hendy tertawa.
Senyum Hendy makin lebar, saat Dhani mengumumkan, bahwa lagu ketujuh yang dibawakan bersama Ahmad Band khusus diperuntukkannya malam itu. “Lagu untuk Pak Bupati: Madu Tiga.”
Teriakan pun terdengar dari dua puluh ribu penonton yang menyaksikan Konser Pesta Rakyat di Stadion Jember Sport Garden, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (15/10/2023) malam itu. Madu Tiga adalah lagu yang dinyanyikan P Ramlee, seniman Malaysia, untuk film komedi yang berjudul sama dan ditayangkan pertama kali pada 12 Februari 1964.
Liriknya jenaka dan sering menjadi bahan candaan, soal lelaki yang beristri dua perempuan. Hendy yang sebelumnya memilih duduk tenang selama menyaksikan Andra And The Backbone dan Ahmad Band, kali ini memilih berdiri dari kursi VIP, dan berjoget bersama sang istri, Kasih Fajarini.
Senangnya dalam hati kalau beristri dua.
Seperti dunia, ana yang punya.
Kepada istri tua, kanda sayang padamu.
Kepada istri muda, I say I love you.
Usai lagu, Dhani kembali bertanya kepada Hendy. “Gimana, Pak Bupati? Sudah senang? Lagu ini khusus permintaan Pak Bupati.”
Tawa terdengar dari sebagian penonton. Hendy juga tertawa. Tentu saja, ia tak hendak menduakan Kasih Fajarini seperti kata P. Ramlee. Baru bulan lalu Hendy memperbarui pernikahannya dengan Kasih Fajarini di kawasan Rembangan. Bisa-bisa benar-benar pecah temberang.
Lagipula Dhani juga cuma bercanda. Sapaannya kepada Hendy adalah bentuk keakraban yang sudah terbentuk sejak belasan tahun silam. “Saya sudah mengenalnya sejak 2007-2008 saat kami sekeluarga tinggal di Jakarta,” kata Hendy kepada saya.
Dan Konser Pesta Rakyat yang dipromotori Saga Indonesia ini tak ubahnya momentum perjumpaan antara dua kawan lama. Turun dari mobilnya yang berhenti di halaman Pendapa Wahyawibawagraha, Minggu siang, Dhani dan gitaris Andra Ramadan disambut jabat tangan erat dari Hendy dan Wakil Bupati Jember Muhammad Balya Firjaun Barlaman. Anak-anak dan menantu Hendy pun ikut menyambut di teras.
Bersama personel Andra and The Backbone, gitaris Stevie Morley Item dan vokalis Deddy Lisan, serta sejumlah kru dan promotor, Dhani dan Andra dijamu makan siang di ruang utama pendapa. Hendy mengenakan kaos hitam bergambar logo album Laskar Cinta dan mengenakan udeng atau penutup kepala tradisional. Mereka terlibat pembicaraan hangat sambil menanti Kasih Fajarini, yang sibuk mengulek sambal untuk para tamunya.
Bukan pertama kali ini Kasih Fajarini mengulek sambal sendiri di hadapan para tamunya. Saat Anies Baswedan berkunjung ke rumah pribadi Hendy di Jalan Sultan Agung, ia juga melakukannya. Sambal itu menjadi bagian dari sajian rawon pecel khas Jember. “Ayo, Mi, Mas Dhani lapar ini,” kata Hendy kepada istrinya.
“Mas Dhani, di Jember kita ada rawon. Rawon ini khas Jawa Timur. Rawon kita ini rawon pecel. Rawon tapi toppingnya pecel,” kata Hendy.
Dhani memerintahkan asistennya untuk mengambil gambar aktivitas Kasih Fajarini yang sedang mengulek sambal. “Di-close up dong Ibu Bupati ngulek,” katanya.
“Ini teh tariknya gak dicoba dulu?” tanya Kasih Fajarini.
“Ini namanya standing party,” kata Dhani sembari mengambil secangkir teh tarik dari nampan yang disodorkan petugas perjamuan makan rumah dinas bupati.
Kasih Fajarini mendadak teringat Ari Lasso, vokalis pertama Dewa 19. “Mas Dhani, Mas Ari Lasso itu adik kelas saya di Madiun,” katanya. Lasso memang pernah tinggal dan bersekolah di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, tempat kelahiran Kasih Fajarini.
Hendy mengenang masa saat anak-anak dan keponakannya membentuk grup musik bernama Seven Dream, dan Dhani menjadi produser sekaligus menyanyikan lagu berjudul Adzan bersama mereka. “Yak opo lagunya? Bila adzan telah memanggil,” Hendy melantunkan sepotong lirik awal lagu itu.
Adzan dirilis oleh Nagaswara pada 2012 dan syuting untuk video klipnya dilakukan di kawasan Gunung Bromo. Sejak diunggah di Youtube pada 15 Juni 2012, video lagu itu sudah ditonton 609.827 kali.
Siang itu Dhani bertemu Yudho Andriansyah, vokalis Seven Dream yang tampil bersamanya dalam video klip Adzan. “Tuwek ya sing nyanyi nang Seven Dream. Mosok kalah karo aku?” katanya kepada Yudho.
Yudho yang disindir pun hanya ketawa. “Original ini,” katanya.
Seven Dream sudah tutup buku, dan kini orang lebih mengenalnya sebagai nama grup bisnis keluarga Hendy yang dikelola Aruna, putra sulungnya. ‘Adzan‘ tentu saja tak dimainkan oleh Dhani dalam konser Pesta Rakyat pada Minggu malamnya. Namun kelompok musik Linkrafin yang dibentuk Yudho dan juga diperkuat anggota keluarga Hendy menjadi pembuka Pesta Rakyat, sebelum Andra And The Backbone, Ahmad Band, dan Dewa 19 tampil.
Dan ini memang benar-benar pesta yang ditunggu sejak lama oleh Baladewa, sebutan untuk penggemar kelompok musik Dewa 19. Aan Nugroho, founder dan CEO Saga Indonesia, mengatakan, penonton malam itu datang dari Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Kediri, Malang.
“Saya kulik-kulik, terakhir Dewa main di sini pada 2006,” kata Di Muhammad Devirzha, vokalis termuda Dewa, yang malam itu membawakan sepuluh dari 21 lagu bergantian dengan Marcello ‘Ello’ Tahitoe.
Saat itu, Once Mikel masih menjadi frontman Dewa dan tampil di Lapangan Talangsari yang jauh dari kata megah. Ini sebuah lapangan sepak bola biasa di tengah kawasan padat penduduk pusat kota Jember. Tahun 2014, Bupati MZA Djalal meresmikan pembangunan Stadion Jember Sport Garden, yang Minggu malam itu menjadi tempat perjumpaan puluhan ribu orang dengan kelompok musik idola mereka.
Tampil lebih dulu, Andra And The Backbone adalah proyek idealis Andra. Lagu-lagu seperti Muak, Kepayang, dan Lagi dan Lagi memiliki karakter yang lebih garang daripada lagu-lagu Dewa. Jika Dhani adalah sahabat sejati Andra sejak SMP, Stevie Item adalah sosok ‘counterpart‘ permainan gitar Andra. Kemampuan Stevie menggubah melodi-melodi gutar sepadan dengan Andra yang disebut Ari Lasso sebagai sosok perfeksionis.
Lagu ‘Sempurna‘ adalah contoh sempurna duet ini. Inilah lagu Andra And The Backbone yang paling dinanti penonton malam itu. Dimainkan dengan format band lengkap dan bukan hanya dengan iringan gitar akustik, lagu Sempurna memghadirkan suasana ceria, terutama pada saat bagian reffrain dinyanyikan.
Jika Andra And The Backbone adalah proyek idealis Andra, maka Ahmad Band jelas wadah tumpahan ego bermusik dan sikap politik Ahmad Dhani. Mungkin hanya Dhani yang benar-benar bisa disebut sebagai musisi-politisi di Indonesia dalam arti sebenarnya. Ia pernah menjalani penjara selama satu tahun karena urusan politik, dan mencalonkan diri menjadi legislator DPR RI dari Partai Gerindra di Daerah Pemilihan Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo dalam Pemilu 2024.
Lirik ‘Ode Buat Extrimist‘, yang membuka reportoar Ahmad Band malam itu, dengan terang-benderang mengecam praktik politik di Indonesia. Lagu ini ada dalam album Idelogi Sikap Otak yang dirilis pada 1998, saat perubahan politik besar-besaran sedang terjadi di Indonesia. Sebuah masa di mana sebagian besar penonton malam itu belum lahir atau masih kanak-kanak.
Itu namanya kriminalitas
Bukan politik bukan taktik
Akhirnya jadi bahan lelucon
Yang tak lucu dan tak cerdik
Sementara itu, ‘Distorsi‘ boleh dibilang manifesto politik Dhani yang membongkar hipokrisi politik di Indonesia. Penonton membalasnya dengan teriakan saat ia meneriakkan nama Harun Masiku dan Ferdi Sambo.
Yang muda mabuk yang tua korup
Yang muda mabuk yang tua korup
Korup terus mabuk terus
Jayalah negeri ini
Jayalah negeri ini
Merdeka
Tak hanya lagu, Dhani juga melemparkan candaan politik dari atas panggung. “Andra temannya Ari Lasso. Kalau Ahmad Dhani temannya siapa? Siapa? Prabowo?” Penonton pun ketawa.
Namun tentu saja malam itu Dewa 19 adalah yang paling dinanti. Tampil dengan dua vokalis, Ello dan Virzha, Dewa 19 menunjukkan kepada semua orang bagaimana sebuah kelompok musik era 1990-an bisa menciptakan segmen penggemar baru dari generasi yang lebih muda. Saat banyak band era 1990-an kepayahan membujuk generasi Z dan generasi milenial, Dewa seperti tak punya kesulitan mendapatkan ribuan penggemar baru dengan lagu-lagu lama mereka.
Sejak merilis album ’19’ pada 30 November 1992, Dewa sudah merilis sebelas album. Album terakhir Dewa 19 adalah Kerajaan Cinta yang dirilis pada 12 Maret 2007 oleh EMI Music Indonesia. Dan sejak saat itu, selama rentang hampir dua dasawarsa, Dhani lebih suka meremajakan lagu-lagu lamanya seperti ‘Kangen’, ‘Mahameru’, ‘Satu Hati‘, disesuaikan dengan selera generasi baru.
Perpisahannya dengan Ari Lasso dan pertengkarannya dengan Once tak membuat Dewa padam. Ello dan Virzha berhasil menggantikan kehadiran dua vokalis terdahulu dan berhasil membetot fans dari generasi baru. Virzha memiliki warna suara yang mirip dengan Once, dengan jangkauan nada yang lebih rendah. Sementara Ello tak hanya enak didengar, tapi juga enak dilihat. Ketampanannya membuat para lelaki yang membawa pacar malam itu cemburu.
Keringat yang meleleh dari dahi dan leher Ello, membuat penonton perempuan gemas. “Aduh, ingin kuusap dengan tisyu,” kata seorang perempuan berusia 40 tahunan yang malam itu datang dengan pasangannya.
Anas, seorang wartawan televisi lokal, mengatakan, malam itu sebagian besar penonton bukanlah generasi 1990-an. “Kalau kulihat sih mereka kelahiran tahun 2000-an,” katanya.
Kecintaan terhadap Dewa diturunkan dari orang tua mereka. “Saya tahu Dewa dari ayah,” kata Vena, seorang perempuan kelahiran 2000.
Maka tak heran, jika kemudian 21 lagu Dewa malam itu tak ada yang gagal menciptakan koor raksasa dari bibir puluhan ribu penonton. ‘Kangen‘ membuat ribuan bintang tercipta dari cahaya ponsel penonton yang duduk di tribun dan berdiri di kelas fetival. Satu-satunya penyesalan saya dan banyak penonton lain adalah tidak dinyanyikannya Restoe Bumi. Ini lagu pada masa Ari Lasso masih menjadi vokalis dalam album Terbaik-Terbaik.
Sementara lagu ‘Hadapi dengan Senyuman‘ yang dinyanyikan Dhani hanya dengan gitar akustik mengingatkan saya pada hari-hari di rumah sakit saat pandemi Covid. Adik saya mengirimkan rekaman lagu itu via ponsel untuk menyemangati saya agar cepat sembuh.
Konser malam itu ditutup dengan ‘Separuh Nafasku‘ dan kembang api yang menghantam langit. Hendy Siswanto dan istrinya berdiri bersama ribuan penonton memberikan aplaus panjang untuk para personel Dewa yang membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan terakhir di atas panggung. Sebuah penutup yang manis untuk perjumpaan yang telah dinantikan selama belasan tahun. [wir]






