Jember (beritajatim.com) – Setelah semarak dengan Jember Fashion Carnaval dan Festival Jember Kota Cerutu Indonesia, kini giliran festival musik Jazz Tebing digelar di Kafe Tebing, Taman Botani Sukorambi, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (12/8/2023).
Festival ini menghadirkan musisi Fariz Roestam Moenaf dan kelompok musik pop era 1990-an asal Bandung, Java Jive, sebagai bintang tamu. Selain itu ada tiga kelompok musik jazz lokal asal Jember yang menjadi pembuka.
Festival Jazz Tebing digagas Febrian Ananta Kahar, pemilik Taman Botani Sukorambi yang juga penggagas Festival Jember Kota Cerutu Indonesia. “Ini tahun kedua penyelenggaraan Jazz Tebing,’ katanya kepada pers.
Disebut Festival Jazz Tebing, karena berlokasi di salah satu tebing yang menjadi ciri khas kafe tersebut. Ini festival yang eksklusif karena hanya disaksikan 390 penonton sejak sore hingga malam hari.
“Konsepnya kita menikmati suasana tebing dengan mengedepankan musisi Jember. Kami mengeksklusifkan diti, karena jazz adalah sesuatu yang berkarakter. Kami harapkan dengan Jazz Tebing ini apresiasi terhadap musisi jazz Jember menjadi lebih baik,” kata Febrian.
Febrian sengaja memilih jazz, karena pertunjukan genre musik lain sudah digelar di sejumlah lokasi di Jember dalam beberapa kali kesempatan pasca pandemi. “Jazz harus mendapatkan posisi reguler dan menjadi tempat musisi kita berkarya. Itulah kenapa kami memilih musik jazz. Kami berharap Jazz Tebing bisa semakin menarik minat orang datang ke Jember,” katanya.
Febrian sengaja memilih jadwal pelaksanaan yang tidak terlalu berjarak dengan jadwal pelaksanaan Jember Fashion Carnaval 4-6 Agustus 2023. “Kami sambungkan dengan JFC. Harapannya orang datang ke Jember dan tidak keluar-keluar dari Jember. Insyaallah Jazz Tebing ini sudah masuk dalam kalender wisata program Pemkab Jember J-Fest,” katanya.
Kehadiran Java Jive dan Fariz RM dinilai tepat untuk membangkitkan citra Jazz Tebing dan Jember. Apalagi, Fariz yang akan bermain bersama The Anthology sedang merayakan 45 tahun perjalanannya berkarya di dunia musik Indonesia. Sementara Java Jive dipilih karena masih didengar dan mulai banyak musisi generasi baru yang memainkan lagu-lagu Java Jive.
“Saya sudah tiga tahun mencoba mendatangkan Java Jive. Ini faktor pertemanan juga. Selain itu, pada era saya masih muda, Mas Fariz dan Java Jive sangat berkesan dan cara mereka menerjemahkan lagu beda dengan sekarang,” kata Febrian.
Kendati menjadi pemrakarsa Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI), Febrian tidak terlampau berminat memadukannya dengan Jazz Tebing. “JKCI adalah bagaimana meningkatkan UMKM dan mengajak investor. Ini beda karakter. Tidak memungkinkan disatukan. Lebih baik dipisah, karena beda tujuan,” katanya.
Festival JKCI lebih mengarah pada penguatan ekonomi daerah. “Kalau Jazz Tebing lebih banyak ke sektor pariwisatanya,” kata Febrian. Dia yakin kelak Jazz Tebing akan menjadi bagian dari kalander pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Febrian mengakui musik jazz lebih dikenal dan diminati generasi era 1980 dan 1990-an. Festival Jazz Tebing justru menjadi tempat untuk memperkenalkan musik jazz di kalangan generasi yang lebih muda, terutama generasi Z. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal satu genre musik.
Di luar dugaan, ternyata regenerasi musisi jazz di Jember berjalan selama ini. Ini terlihat dari banyaknya band anak muda yang menjadi peserta seleksi band pengisi festival untuk mendampingi dua bintang tamu. Jazz Tebing diharapkan menjadi pemicu agar genre jazz berkesinambungan.
“Kami di Jazz Tebing menggaet perwakilan teman-teman musisi Jember yang mengenal benar bagaimana jazz dikelola. Saya juga mengundang EO dari Jakarta untuk membantu pertunjukan ini lebih profesional,” kata Febrian.
Nadia, event organizer yang ditunjuk Febrian mengelola Jazz Tebing, mengatakan, Jember makn berkembang. “Makin banyak tujuan wisata. Kami berharap Jazz Tebing dlakukan setiap tahun,” katanya.
Apa yang membedakan Jezz Tebing dengan festival lain seperti Jazz Bromo dan Jazz Ijen. “Mereka masing-masing punya karakter. Kami sudah studi banding. Tidak bisa disamakan. Yang membuat sebuah acara sukses adalah bagaimana sebuah acara dikelola dan siapa yang bermain. Itulah kenapa kami mengundang legenda musik Mas Fariz RM dan Java Jive,” kata Febrian. [wir]






