Jember (beritajatim.com) – Penyelenggaraan Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (4/8/2023), menandai kebangkitan pelaku karnaval Indonesia pasca pandemi.
Ada 475 talents dalam sepuluh defile dari sepuluh daerah anggota Asosiasi Karnaval Indonesia (Akari) yang ikut serta. Mereka menampilkan busana karnaval yang menafsirkan identitas kedaerahan dengan modernitas.
Sepuluh daerah itu adalah Belitung Timur, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Bandung, Cirebon, Nganjuk, Malang, Sulawesi tenggara, Sulawesi Selatan, Mandalika Nusa Tenggara Barat. “Tema yang diambil adalah tentang nusantara,” kata Ketua Umum Akari David Handoko Seto.
Melalui tema ini, para peserta menampilkan karakter keragaman etnis dan budaya di daerah masing-masing. “Dalam pengangkatan budaya itu, diselipi budaya kontemporer. Kekuatan WACI ada pada local wisdom. Ini beda dengan Jember Fashion Carnaval yang cenderung bertema global,” kata David.
Akari berdiri pada 13 Desember 2013 dan beranggotakan 18 provinsi. WACI mulai digelar pada medio Agustus 2014. “Dua tahun ini kami mencoba membagi peran, bagaimana posisi JFC dan Akari. Namun JFC melahirkan Akari,” kata David.
Syarat untuk menjadi anggota Akari adalah benar-benar pelaku karnaval, bukan penata acara. “Mereka harus punya keterampilan membuat kostum. Kedua, dia harus memiliki jiwa seni atau sanggar untuk kesenian yang melestarikan kebudayaan setempat. Backbone karnaval kan seni dan keahlian membuat kostum. Pelaku harus punya passion,” kata David.
Setelah pandemi berakhir, menurut David, kebangkitan pelaku karnaval di berbagai daerah sangat terasa. “WACI sekarang sudah mengelaborasi antara kesenian tradisional dengan kesenian kontemporer. Contoh defile Mandalika yang mengintegrasikan kekuatan tarian tradisional dengan modernisasi. Ini mulai kami arahkan, baik dari kostum dan musik, sehingga dua perbedaan menjadi satu kesatuan utuh dalam berparade,” katanya. [wir]






