Mojokerto (beritajatim.com) – Desa Kemlagi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto dikenal sebagai Kampung Madu. Ada lima orang peternak lebah di desa ini.
Salah satu peternak lebah madu adalah Irwan (45). Ia memiliki belasan kotak kayu berisi koloni lebah jenis mellifera yang ditempatkan di perkebunan sekitar rumahnya.
Selain memanen hasil budidaya lebah madu miliknya sendiri, pria yang menjabat sebagai Kepala Dusun (Kadus) Kemlagi ini juga mempersiapkan pembeli untuk datang. Pembeli bisa menikmati sensasi mengiris dan peras madu langsung dari kotak tempat koloni lebah madu tersebut.
Irwan menempatkan koloni lebah dekat dengan pepohonan dan tanaman yang berbunga. Setiap kotak ia isi dengan delapan bingkai kayu sebagai tempat lebah membangun sarang dan mengumpulkan madu. Irwan juga harus melindungi koloni lebah dari serangan tawon vespa.
Serangga dengan nama latin vespa affinis ini menjadi predator bagi lebah mellifera. Madu murni bermerek Dynastie ini ia banderol Rp100 ribu untuk kemasan botol 640 gram. Sedangkan kemasan 360 gram Rp50 ribu dan kemasan 160 gram Rp25 ribu. Beternak lebah madu sudah ia tekuni sejak lima tahun lalu.
BACA JUGA:
Tabrak Tembok, Pengendara Motor di Mojokerto Meninggal
Peternak lebah madu, Irwan (44) mengatakan, hasil budidaya lebah madu dijual secara online dan pembeli bisa datang langsung. “Kita jaga kualitas jadi kami tidak berani memberi campuran apapun. Kalau pembeli mau ke lokasi ingin iris dan peras sendiri, bisa,” ungkapnya, Sabtu (5/8/2023).
Menurutnya, beternak lebah madu gampang-gampang susah karena faktor cuaca mempengaruhi. Seperti pada tahun 2022 lalu, yang seharusnya musim kemarau namun musim hujan sehingga sari bunga yang menjadi makanan lebah tersebut kurang karena berguguran membuat pertumbuhan lebah berkurang.
“Tahun kemarin banyak yang punah, tahun semoga musim kemarau panjang sehingga lebat tersebut akan tumbuh dengan baik. Beternak lebah harus sering-sering kontrol karena apa di situ ada binatang pengganggu, seperti semut cicak, tokek dan lain-lain. Setiap hari atau dua hari sekali kita kontrol,” katanya.
Untuk mengantisipasi binatang pengganggu diperlukan pengobatan ada pengobatan obat. Jenis obat pun bermacam-macam, disemprot, obat kutu pakai seperti pestisida yang dikasih kayu, dicelupkan dan taruh dalam kotak dan obat kepingan seperti plastik. Untuk mencari makan lebah, iapun harus berpindah-pindah tempat.
“Karena kalau di sini sari bunga tidak begitu ada, kita pindah ke tempat yang banyak sari bunga. Saat ini, saya budidaya ke Jawa Tengah mengejar sari bunga randu karena itu yang bagus. Kalau di sekitar sini, ini multi karena berbagai macam bunga. Sementara kami punya 50 kotak,” ujarnya.
BACA JUGA:
Pemkot Mojokerto Gulirkan Delapan Proyek Normalisasi Pengendalian Banjir
Irwan menjelaskan, jika saat ini ia memiliki 50 kotak. Dalam setiap bulan rata-rata satu kotak menghasilkan 1-2 kilogram madu murni atau 65-70 botol 640 gram. Menurutnya, permintaan madu di tempatnya sangat tinggi tak jarang ia harus menolak pembeli lantaran kosong.
“Kita benar-benar menjaga kualitas, kalau memang pembeli itu mau ke lokasi ingin iris dan peras sendiri. Bisa, itu akan lebih baik. Soalnya kami tidak ingin dibilang dicampur dan lainnya. Untuk online, dari Surabaya, Gresik karena panen setiap hari tergantung musim, kalau hujan hasil berkurang,” paparnya.
Musim kemarau menjadi masa panen raya baginya karena rata-rata madu yang dihasilkan setiap koloni mencapai 2 kg per bulan. Jenis madu yang dihasilkan pun beragam tergantung pada jenis bunga yang dihisap nektarnya oleh koloni lebah tersebut.
“Banyak ada mangga, akasia, pahit, kelengkeng, multiflora, mahoni, liar, randu dan kaliandra. Di sini multi, madu multiflora berasal dari koloni lebah yang menghisap nektar bunga berbeda-beda. Yang bagus ya bunga randu. Makanya sekarang saya berburu ke Jawa Tengah karena randu sedang berbunga,” tegasnya. [tin/beq]







