Jember (beritajatim.com) – Ribuan orang pencari kerja mencoba peruntungan 3.900 lowongan di 46 perusahaan dan 4 perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia peserta Jember Job Fair, di Gedung Serba Guna, Kabupaten Jember, Jawa Timur, 2 – 3 Agustus 2023.
“Ada 3.900 lebih lowongan kerja untuk dalam dan luar negeri. Sebagian besar perusahaan yang ikut berdomisili di Jember. Ada yang juga yang di Surabaya, Lumajang, Malang, Pasuruan, Banyuwangi, Situbondo,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Jember Bambang Rudianto, Rabu (2/8/2023).
Jenis lowongan pekerjaan yang ditawarkan beragam, mulai dari tenaga pemasaran, penjualan, operator komputer, akuntansi, tenaga otomotif, pembenihan, pertanian, dan lain-lain. “Pencari kerja yang teregister pada kami kurang lebih ada 2.400 orang, hampir 2.500 orang. Asumsi kami pencari kerja yang mengikuti job market ini sekitar dua ribu hingga tiga ribu orang selama dua hari ini,” kata Rudianto.
Saat ini Jember Job Fair digelar setahun sekali. Namun, menurut Rudianto, ke depan akan diselenggarakan dua atau tiga kali setahun. “Bupati mengharapkan tahun depan ada lompatan besar. Kalau bisa kuantitasnya 10 kali lipat. Kalau hari ini ada 46 perusahaan, tahun depan bisa 400-an lah,” katanya.
Harapan bupati ini tak lepas dari angka pengangguran terbuka di Jember. “Tingkat pengangguran terbuka Jember kurang lebih 50 ribu orang. Jadi kalau hari ini mulai kita percepat seperti ini, mudah-mudahan bisa segera terurai,” kata Rudianto.
Rudianto ingin menarik lebih banyak perusahaan untuk menjadi Jember Job Fair. “Dengan demikian lowongan kerja yang tersedia semakin tinggi,” katanya.
Rudianto menjabarkan kendala yang dihadapi para pencari kerja di Jember, yakni pengalaman dan skill atau kemampuan teknis kerja. “Seringkali mereka dari SMA umum atau vokasi yang masih tidak linier dengan dunia industri. Kemarin kami berkolaborasi dengan Politeknik Jember dan Kadin (Kamar Dagang Industri) agar ada perubahan kurikulum. Jadi spesifikasi yang dibutuhkan dunia kerja harus linier dengan edukasi sekolah,” katanya.
Bupati Hendy Siswanto mengatakan, Jember Job Fair untuk mengurangi pengangguran. “Pekerjaannya resmi di perusahaan legal. Tentunya dengan di dalam Job Fair seperti ini, pencari kerja aman terlindungi dengan catatan di perusahaan resmi,” katanya.
Disnaker Jember juga telah meluncurkan aplikasi J-Si Gajah (Jember Sistem Informasi Tenaga Kerja). “Siapapun bisa melihat kebutuhan tenaga kerja perusahaan dan melihat problem dalam sistem tenaga kerja di Jember,” kata Hendy.
“Harapan kami dengan aplikasi ini, seluruh perusahaan di Jember jika membutuhkan tenaga kerja baru, membuka lowongan tenaga kerja di bidang apa saja, mohon bisa lewat Disnaker dan dimasukkan dalam aplikasi J-Si Gajah,” kata Hendy. Melalui aplikasi ini, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja.
Hendy menargetkan tahun depan ada lebih banyak perusahaan peserta. Dengan begitu, jumlah tenaga kerja yang direkrut bisa lebih banyak. “Harapan saya, kepada seluruh anak muda yang mendapat pekerjaan ini, taruh nomor ponsel ke Disnaker agar kami bisa memonitor. Jika terjadi sesuatu, konsultasi, komplain. kami bisa memonitor. Jangan sampai sudah bekerja, tidak ngomong. Apalagi kalau sudah enak,” katanya.
Hendy tak ingin ada warga Jember yang viral di media sosial karena urusan pekerjaan. “Mohon kalau bekerja di perusahaan yang resmi. Kalau tidak mengerti, tanya ke J-Si Gajah,” katanya.
Dihubungi terpisah, Dita, seorang pencari kerja, merasa terbantu dengan Jember Job Fair. “Job Fair ini membantu pencati kerja terutama fresh graduate, lulusan S1 dan SMK. Mereka bisa mengaplikasikan ilmu ke perusahaan,” katanya.
Dita juga terbantu dengan aplikasi J-Si Gajah. “Jika kita tidak bisa datang ke Jember, kita bisa mengunduh (informasi) secara online,” katanya. [wir]






