Banyuwangi (beritajatim.com) – Naungan pohon tua jenis Trembesi yang berbalut lumut dan anggrek menambah pesona indahnya Banyuwangi Fashion Festival. Ya, pohon tua berusia ratusan tahun itu berada di De Djawatan, Banyuwangi.
Kali ini, Fashion Show Banyuwangi itu sengaja mengambil background alam. Hasilnya ciamik, keelokan alam menyatu dengan ragam adibusana kreasi para desainer bumi Blambangan.
Kegiatan yang bertema sentire dan bermakna rasa, mewujud dalam ragam desain fasyen yang mengangkat cita rasa jajanan lokal. Kue-kue lokal seperti bagiak, klemben (roti bolu), uceng-uceng dan lainnya termanifestasi dalam motif wastra yang didesain apik.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut Banyuwangi Fashion Festival kali ini tampak berbeda. Berlatar alam semakin menunjukkan eksotisme suasana. Kondisi itu juga menjadi simbol untuk mewujudkan suatu industri yang ramah lingkungan.
“Industri fasyen ini harus bisa menjadi contoh bagi industri yang lain agar ramah lingkungan dan memperhatikan keberlanjutan,” ungkap Bupati Ipuk.
Tak hanya itu, Bupati Ipuk juga mengisyaratkan agar kegiatan ini menjadi wujud tumbuhnya industri fashion berkelanjutan dan ramah lingkungan. Termasuk berdampak pada terwujudnya kesadaran untuk saling menjaga alam.
“Memadukan keindahan alam ciptaan Tuhan dengan kreasi terbaik buatan manusia ini, semoga menghadirkan kesadaran bagi kita untuk terus menjaganya,” ujarnya.
BACA JUGA:
Senangnya Melihat Anak Banyuwangi Memengan Permainan Tradisional
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi Nanin Oktavianti menyebutkan bahwa gelaran BFF yang memasuki tahun ketujuh ini sebagai panggung bagi para perancang dan talenta model lokal untuk unjuk karya. Tak kurang dari sebelas desainer dan 35 dress maker (pembuat baju) dilibatkan dalam mewujudkan aneka outfit yang bisa dikenakan dalam ragam kegiatan. Mulai pakaian formal hingga casual.
“Kami tidak hanya melibatkan para desainer yang telah memiliki banyak prestasi dan pengalaman. Tapi, juga melibatkan para dress maker dari kalangan pelajar. Harapannya ada sharing wawasan dan pengalaman,” terang Nanin.
Lebih jauh, kata Nanin, industri fashion di Banyuwangi terus bergeliat tiap tahunnya. Mulai dari wastra atau kain nusantara yang berupa batik, hingga ragam pemanfaatannya menjadi aneka mode pakaian terus berkembang. Tak sedikit yang berhasil menembus pangsa pasar nasional hingga internasional.
BACA JUGA:
Saat Jagoan Tani Banyuwangi Pamer Inovasi
“Geliat ini terus kami dorong untuk mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Banyuwangi,” imbuhnya.
Perlu diketahui, lokasi pohon tua di De Djawatan sengaja dipilih menjadi lokasi BFF kali ini. Hal ini juga bertujuan untuk mendorong tingkat kunjungan wisata.
Kawasan bekas penimbunan kayu milik djawatan perkebunan yang telah non-aktif itu beralih menjadi hutan trembesi yang memukau. Pohon dengan dahan yang menghijau itu mengingatkan banyak orang dengan latar film terkenal besutan Peter Jackson, The Lord of The Rings. [rin/but]






