Blitar (beritajatim.com) – Tumpukan sampah di bantaran Sungai Brantas di Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar menimbulkan sejumlah masalah. Selain muncul bau yang tidak sedap, cairan lindi hasil pembusukan sampah ternyata mengalir dan mencemari sungai Brantas.
Padahal cairan ini sangat berbahaya dan beracun karena mengandung konsentrasi senyawa organik maupun senyawa anorganik tinggi yang terbentuk dalam landfill (sistem pengelolaan sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah) akibat adanya air hujan yang masuk ke dalamnya. Selain itu, cairan tersebut juga dapat mengandung unsur logam, yaitu seng (Zn) dan raksa (Hg).
Sehingga bisa mencemari air sungai Brantas. Hal itu pun akan berdampak buruk pada rusaknya ekosistem sungai serta kesehatan masyarakat.
“Saya kira sudah (mencemari) ya ini tapi kan yang terdampak warga yang di bawah bukan di sini, yang di sini cuma terdampak bau aja,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar Ahmad Cholik, Sabtu (22/7/2023).
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar pun akan melakukan uji ambang batas pencemaran di air sungai Brantas. Langkah ini untuk memastikan berapa tingkat pencemaran sampah di aliran sungai Brantas yang ada di Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar.
BACA JUGA:
Bantaran Sungai Brantas Blitar Jadi Tempat Pembuangan Sampah
Dari pengamatan tim beritajatim.com, cairan sampah berwarna cokelat terus mengalir ke aliran sungai Brantas. Cairan tersebut diduga berasal dari air hujan yang merasap ke dalam tumpukan sampah di bantaran sungai Brantas.
“Harus perlu kita tingkatkan soal sosialisasi, Pembinaan bank sampah juga sudah kita laksanakan, cuman masalah kebiasaan itu proses perubahannya butuh waktu jadi kita tidak langsung menyalahkan masyarakat, kita harus saling bekerjasama sama,” imbuhnya.
DLH Kabupaten Blitar menduga bantaran sungai Brantas ini sudah dijadikan tempat pembuangan sampah sejak puluhan tahun lalu. Bukan hanya warga sekitar, namun sampah dari pasar dan sekolah yang berada tidak jauh dari lokasi juga dibuang ke situ.
Hal itulah yang membuat terjadi sampah di bantaran sungai Brantas menggunung. Proses pembersihan tumpukan sampah ini pun tidak bisa dilakukan sekali.
BACA JUGA:
Pria Loncat ke Sungai Brantas Kediri Ditemukan Meninggal, Ini Identitasnya
DLH membutuhkan waktu berkali-kali agar tumpukan sampah di bantaran sungai tersebut bisa terangkut semua.
“Itu membutuhkan waktu ya berkali-kali untuk ngaku ini nggak hanya sekali terus selesai terus kita juga terus berkoordinasi dengan pihak pemerintah Desa terkait penyelesaian sampah ini,” terang Cholik.
DLH Kabupaten Blitar pun akan membangun tempat pembuangan sampah sementara di sekitar lokasi. Hal ini dilakukan agar warga tidak kembali membuang sampah di bantaran Sungai Brantas tersebut. [owi/beq]






