Jember (beritajatim.com) – Gagal panen komoditas tembakau terparah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terjadi tahun ini. Asuransi untuk petani belum jelas.
Sekitar 3.200 hektare tembakau di Kecamatan Ambulu dan Wuluhan terendam banjir, menyusul hujan lebat yang turun pada Jumat (7/7/2023) dan Sabtu (8/7/2023). “Dulu tahun 2011 (banjir) seperti ini. Saat meletusnya Gunung (Raung) tidak gagal panen, tapi tembakau tidak laku. Sekarang paling parah, karena benar-benar tak bisa dipanen,” kata Nur Yakin, Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, Rabu (12/7/2023).
Ketua Komisi B DPRD Jember Siswono meminta pemerintah daerah hadir dalam membantu para petani tersebut. “Banjir ini memukul para petani. Pemkab Jember paling tidak hadir memberikan bibit gratis atau alat-alat pertanian. Tidak ada alasan Pemkab Jember tidak memberikan bantuan,” katanya.
Siswono siap menjembatani petani dengan perbankan dalam hal relaksasi kredit. Para petani meminta agar ada keringanan tempo pembayaran pinjaman. “Kami akan mengundang perbankan agar relaksasi terhadap kredit petani. Ini sudah menyangkut musibah. Perlu ada kelunakan kebijakan,” katanya.
David Handoko Seto, Sekretaris Komisi B, sudah berkomunikasi intensif dengan para petani. “Kami sudah sampaikan kepada bupati. Harapan kami ke depan ada asuransi untuk petani tembakau,” katanya.
Informasi yang diterima David, belum ada perusahaan asuransi yang bersedia menyediakan asuransi untuk petani tembakau. “Hanya ada asuransi untuk petani tanaman pangan dan palawija. Mungkin ada pertimbangan tersendiri yang kami belum tahu,” katanya.
Petani minta pemerintah memperjelas hal-ihwal asuransi. Menurut Suryanto, petani dari Desa Kesilir, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan Jawa Timur sudah meminta data petani tembakau untuk diajukan ke asuransi usaha tani. “Kami sudah mendata. Data sudah kami kirim,” katanya. Namun ternyata Dinas TPHP Jember menyatakan asuransi usaha tani masih berupa wacana dan belum direalisasikan.
Ini yang bikin Suryanto galau. “Mendata ke petani ini beban mental. Kami ditanya loh, asuransi yang kemarin (dijanjikan) bagaimana. Ini yang menyuruh dinas. PPL (Petugas Penyuluh Lapang) terjun. Data petani kelompok dan hamparan kami masukkan, sehingga muncul asuransi. Setelah ada bencana seperti ini, kami ditagih bagaimana kelanjutan asuransi ini,” katanya. [wir]






