Sampang (beritajatim.com) – Warga yang tinggal di daerah bencana kekeringan, diimbau oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sampang, untuk menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) saat musim kemarau. Pasalnya, banyak penyakit yang mengintai ketika ketersediaan air bersih minim.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat, Dinkes setempat Agus Mulyadi menjelaskan, kondisi bencana kering kritis berkenaan dengan sanitasi yang otomatis dapat berpengaruh terhadap terjangkitnya sejumlah penyakit terutama penyakit yang ditimbulkan oleh air kotor. “Penyakit yang muncul disebabkan dari air kotor,” ujarnya, Jumat (7/7/2023).
Ia menjelaskan, di musim kemarau yang paling rentan diserang penyakit yaitu balita. Selain karena faktor gizi, keberadaan air bersih yang cukup sangat berpengaruh terhadap kesehatan apalagi, warga hanya tergantung pada keberadaan penampungan air hujan, bukan pada ketersediaan sumber air.
Ditanya penyakit apa yang berpotensi menyerang warga di musim kemarau?. Agus Mulyadi menjelaskan bahwa beberapa penyakit yang berpotensi muncul dalam kondisi minim ketersediaan air bersih yaitu seperti Ispa, Diare dan penyakit kulit. “Kita telah melakukan pemetaan dan penanganan dalam kondisi itu yaitu melakukan penyuluhan dan upaya peningkatan imun,” imbuhnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Madura. Menyatakan bahwa tahun 2023, wilayah yang mengalami kering kritis di daerahnya mengalami penurunan.
Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan dan Logistik BPBD, H. Mohammad Imam menyampaikan bahwa tahun ini sebanyak 62 desa mengalami kekeringan, sementara pada tahun 2022 lalu ada 64 yang desa mengalami kekeringan. “Ada penurunan dua desa yang tidak mengalami kering kritis,” terangnya
Ia menjelaskan, dari 14 Kecamatan se Kabupaten Sampang yang tidak masuk pada kategori kekeringan ada empat kecamatan. Meliputi Kecamatan Camplong, Omben, Jrengik dan Ketapang. “Sementara sisanya yakni, Kecamatan Sampang, Torjun, Pengarengan, Sreseh, Karang Penang, Sokobanah, Banyuates, Kedungdung, Robatal dan Tambelangan,” jelasnya.
Masih kata Imam, jumlah data desa yang sudah dilakukan rekap wilayah kekeringan, sudah dilakukan pengajuan kepada BPBD Provinsi Jawa Timur, untuk menerima bantuan air besih ke wilayah terdampak bencana kekeringan tersebut. “Kami sudah mengajukan data desa kekeringan ke BPBD Provinsi Jatim untuk mendapatkan bantuan,” tandasnya.
Sekedar diketahui, bencana kering kritis adalah kategori kekeringan dengan pusat sumber air bersih berada lebih dari 3 kilometer dari permukiman penduduk.[sar/kun]
BACA JUGA:






