Kediri (beritajatim.com) – Sebanyak 3 jemaah haji Kabupaten Kediri dilaporkan wafat di tanah suci Makkah. Ketiganya tergabung dalam kloter 29 dan 30.
Ke-3 jemaah haji Kabupaten Kediri yang wafat sudah berusia lanjut. Mereka menghadap sang khalik pada 28 dan 30 Juni 2023 serta 1 Juli 2023 kemarin.
Informasi wafatnya 3 jemaah haji Kabupaten Kediri ini disampaikan oleh pihak Kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat. Ini indentitas ketiganya.
Baca Juga : Tiga Jemaah Haji Asal Kabupaten Malang Meninggal Dunia
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri Achmad Fa’iz menyampaikan simpatik dan duka cita yang mendalam atas berpulangnya almahum kehadirat Allah SWT.
Pihaknya berharap kepergian almarhum merupakan yang ketiga dan juga terakhir untuk jamaah haji Kabupaten Kediri yang Wafat di tanah suci.
“Semoga Jamaah Haji Kabupaten Kediri lainnya senantiasa dilindungi oleh Allah SWT, sehingga semuanya bisa pulang ke tanah air dengan sehat dan selamat,” ungkapnya, pada Selasa (4/7/2023).
Baca Juga : Total 5 Jemaah Haji Asal Magetan Wafat di Tanah Suci
Data dari Kemenag Kabupaten Kediri, pada 28 Juni 2023 Almarhum Muhtadi, asal Desa Sekoto Kecamatan Badas Kabupaten Kediri dari kloter 29 wafat di Mina.
Lalu, pada 30 Juni 2023 jamaah haji atas nama Moesiran warga kelurahan Pare Kecamatan Pare Kabupaten Kediri dari kloter 29 wafat di Makkah.
Ketiga, Raechan Muhamad Dasuki, warga Dusun Plosorejo Desa Janti Kecamatan Papar Kabupaten Kediri yang tergabung dalam kloter 30 embarkasi Surabaya.

Almarhum telah dipanggil menghadap sang Khalik pada hari Sabtu tanggal 1 Juni 2023 di Makkah dalam usia 88 tahun.
Baca Juga : Catat! Begini Ketentuan Barang Bawaan Jemaah Haji di Garuda Indonesia dan Saudia Airlines
Ketua Kloter 30 Thontowi Jauhari melaporkan kabar duka itu ke Kemenag Kabupaten Kediri. Menurut laporannya, saat almarhum bergeser dari Makkah ke Arafah, masih dalam kondisi yang cukup stabil.
“Artinya makan dan berkomunikasi dalam kondisi kesadaran penuh, namun demikian sesampainya di Arafah tim kesehatan kloter tetap melakukan tindakan perawatan dengan memasang alat inpus di tubuh pasien,” terangnya.
Demikian juga saat bergeser dari Arafah ke Muzdalifah kondisi almarhum masih terlihat cukup stabil. Amarhum masih mau makan, minum serta berkomunikasi pun dalam kondisi normal.
Baca Juga : Menag Yaqut Sampaikan Sederet Masalah yang Dialami Jemaah Haji Indonesia
Tetapi setiba di Mina almarhum kembali mengalami gangguan kesehatan, sehingga oleh tim kesehatan kloter dilakukan treatment darurat dengan tetap memasang inpus dan tindakan pengobatan lainnya.
Setelah selesai melaksanakan kegiatan mabit dan lontaran jumroh, seluruh jamaah haji kloter 30 termasuk almarhum kembali ke hotel di Makkah.
Saat tiba di Makkah almarhum masih dalam kondisi normal. Waktu siang hari ketika dokter kloter bersama petugas kloter yang lain melakukan visitasi, almarhum masih bisa makan,minum dan berkomunikasi secara normal.
“Akan tetapi saat sore hari ketika dokter kloter melakukan visitasi, almarhum sudah dalam keadaan meninggal dunia,” sambungnya.
Baca Juga : Seluruh Jemaah Haji Asal Tuban Sudah Lempar Jumrah di Mina
Sebenarnya tim kesehatan kloter dan petugas kloter yang lain telah berkomunikasi dengan pihak Klinik Kesehatan Haji Indonesia ( KKHI) untuk di rujuk ke KKHI.
“Tetapi saat dokter kloter dan timnya datang untuk menindaklanjuti rencana tersebut almarhum sudah dipanggil Yang Maha Kuasa,” kata Thontowi. [nm/ted]






