Bonek Writers Forum, komunitas penulis di kalangan suporter Persebaya, menerbitkan sebuah buku berjudul Persebaya dan Dinamika Pembinaan Sepak Bola Indonesia. Ini buku kelima yang diterbitkan sejak komunitas itu berdiri pada 6 Desember 2017.
Buku ini diterbitkan bersama Pagan Press pada Juni 2023, bertepatan dengan hari jadi ke-96 Persebaya Surabaya. Ada 20 orang penulis yang menyumbangkan tulisan dalam buku yang diterbitkan secara mandiri tersebut.
“Buku ini memiliki keunikan dalam sudut pandang dan model penulisannya karena ditulis oleh berbagai kalangan. Mulai dari akademisi, jurnalis, pengamat sepak bola, guru serta mantan pengurus klub sepak bola untuk dipersembahkan dalam rangka menyambut ulang tahun Persebaya Surabaya yang ke-96 tahun,” kata Rojil Nugroho Bayu Aji, dosen Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Surabaya yang juga anggota Bonek Writers Forum.
Buku itu terdiri tiga bagian. Bagian pertama, Persebaya dan Mimpi Anak Muda di Kota Pahlawan. Ada tujuh artikel di dalamnya, termasuk profil Marselino Ferdinan, pemain muda Persebaya yang kini bermain di Liga Belgia. Dalam artikel yang ditulis Farid S. Maulana tersebut diceritakan, bagaimana sang kakak yang juga pemain Persebaya, Oktafianus Fernando, punya peran besar dalam perkembangan karir Marselino.
Sementara artikel lainnya berjudul El Faza dan Sang Legenda yang ditulis Fery Widyatama berkisah tentang El Faza, klub anggota Liga Persebaya milik Mat Halil, bek legendaris Bajul Ijo. “El Faza untuk Persebaya, Persebaya untuk Indonesia. Bahkan, saya memberikan kesempatan kepada pemain-pemain potensial yang tidak memiliki biaya untuk diberikan beasiswa,” kata Halil.
Bagian kedua buku ini berjudul Persebaya dan Pembinaan Sepak Bola di Indonesia. Ada sepuluh artikel di bab ini. Artikel berjudul ‘Dari Persebaya untuk Indonesia‘ karya Bimo Warkop bercerita soal pembinaan sepak bola di Surabaya, terutama Liga Persebaya, dan profil ringkas 20 klub pesertanya.
Dengan artikel berjudul Anak-anak Surabaya yang Tersisih dari Kotanya, Miftakhul F.S mengkritik penyelenggaraan Liga Persebaya di lapangan di wilayah Kabupaten Sidoarjo. “Ketika Liga Persebaya digelar di Sidoarjo, Surabaya sebenarnya memiliki cukup lapangan. Tak sekadar cukup, lapangan-lapangan tersebut juga memiliki kualitas rumput yang sangat memanjakan kaki untuk menggiring maupun mengumpan bola,” tulisnya.
Tak hanya soal pembinaan sepak bola di Surabaya, artikel berjudul ‘Yogyakarta Merawat Semangat Sepak Bola Indonesia‘ karya Akhmad Farizal mengkritik pendirian sekolah sepak bola di Yogyakarta yang tidak dibarengi dengan tata kelola sepak bola yang baik, mulai dari sarana prasarana hingga ketersediaan pelatih yang kompeten.
Bab ketiga buku ini, Kenangan dan Hikayat Pembinaan Sepak Bola, berisi sembilan artikel. Vecga Septian Pravangasta bertutur mengenai model kepelatihan Slave Radovski di Persema Malang yang mengikuti kompetisi Indonesian Premier League.
Sidiq Prasetyo bernostalgia dengan Diklat Salatiga yang disebutnya ‘Pabrik Pemain yang Mulai Terlupakan‘. Diklat ini telah melahirkan sejumlah pemain nasional seperti Hadi Ismanto, Suhatman Iman, dan Kurniawan Dwi Yulianto.
“Sayang, beberapa tahun terakhir, pamor Diklat Salatiga mulai luntur. Belum ada nama-nama sekelas Bambang Pamungkas maupun Gendut Doni serta Eko Budi Santoso muncul,” tulis Sidiq yang juga wartawan senior tersebut.
Yudhiakto Pramudya, dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, menulis esai tentang tiga klub sepak bola di kampusnya yang terlibat dalam pembinaan sepak bola lokal. Orion UAD FC berlaga di Liga 1 Asosiasi Kota Yogyakarta dengan komposisi pemain didominasi mahasiswa ditambah dengan pemain dari luar UAD. Sementara UAD FC menjadi peserta Liga 3 Asosiasi Sepak Bola Provinsi DIY.
“Klub Sepak Bola berbasis kampus menghadirkan adegan-adegan yang segar dalam sajian drama sepak bola nusantara,” tulis doktor lulusan sebuah universitas di Amerika Serikat tersebut.
Sementara itu, melalui artikel berjudul Mengasah Pembinaan di Akademi Sepak Bola Hizbul Wathan Yogyakarta, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Fajar Junaedi menjelaskan kiprah ormas Muhammadiyah dalam sepak bola nasional.
“Hizbul Wathan memiliki sejarah yang kuat. Dimulai dari Yogyakarta, perkumpulan sepak bola yang menyematkan nama Hizbul Wathan berdiri di berbagai kota. Umumnya Hizbul Wathan dikelola sebagai bagian dari klub anggota dari tim Perserikatan pada masa kompetisi Perserikatan dan sebagai sekolah sepak bola,” tulis Fajar. [wir]
Daftar Isi Buku
Bagian I:
Persebaya dan Mimpi Anak Muda di Kota Pahlawan
– Best Young Guns Ever?
– Antara Persebaya dan Liverpool
– Gelar Pertama dari Karanggayam
– Impian Mengenakan Jersi Klub Pujaan
– Marselino Ferdinan: Lahir dari Kesempurnaan
– El Faza dan Sang Legenda
– Pelatihan Sersan untuk Persebaya Muda
Bagian II
Persebaya dan Pembinaan Sepak Bola di Indonesia
– Dari Persebaya Untuk Indonesia
– Kompetisi U-13 Pertama di Indonesia Ada di Liga Persebaya
– Elite Pro Academy: Sarang Ideal untuk Garuda Muda
– Anak-anak Surabaya yang Tersisih dari Kotanya
– Indonesia, Kami Haus Prestasimu!
– Yogyakarta Merawat Semangat Sepak Bola Indonesia
– Warisan Rusdi Bahalwan
– Saga Dua Anak Muda Inggris dan Indonesia
– Timnas Garuda Rasa Persebaya
– Untuk (Si)apa Tradisi Pengorbitan Pemain Muda Persebaya?
Bagian III
Kenangan dan Hikayat Pembinaan Sepak Bola
– Diklat Salatiga
– Disiplin Eropa Timur ala Slave Radovski
– Hikayat Richard
– Karanggayam Bukan Melwood
– Manusia Baik
– Mengasah Pembinaan di Akademi Sepakbola Hizbul Wathan Yogyakarta
– Dari Kampus, Harapan Sepak Bola Bermartabat itu Tumbuh Terus
– Tetap Membina Meski Mati Suri
– Desersi Mentalitas Pemain Muda






