Bantul (beritajatim.com) – Sebanyak 84 koperasi di Kabupaten Bantul dinyatakan kritis. Kondisi ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya kepengurusan organisasi yang sudah tidak aktif dan keberadaan koperasi sudah di ambang bangkrut akibat sistem manajemen yang kurang baik.
Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah (UKM), Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bantul, Agus Sulistiyana Selasa 8 Agustus 2023 menuturkan konsentrasi Kabupaten Bantul adalah membuat puluhan koperasi yang kritis ini menjadi aktif kembali.
“Sebuah usaha bersama dan gerakan ekonomi yang berbasis masyarakat kemudian dari sisi kepengurusan tidak aktif dan ogah ogahan akan membuat koperasi yang awalnya dibentuk sebagai saka guru ekonomi di komunitas atau daerah tersebut menjadi sakit, tidak sehat hingga kritis alias mati segan hidup tak mau,” jelasnya.
Agus menuturkan beberapa faktor yang menyebabkan koperasi ini sakit hingga kritis yakni tenaga pengurus yang sudah uzur alias berumur sehingga dari sisi kecepatan pelayanan dan manajemen koperasi masih memakai manajemen lama dan akhirnya menjadi tidak efektif.
“Hal yang mendesak harus diperbaharui koperasi adalah SDM yang memang banyak koperasi di Bantul ini SDM-nya sepuh sepuh alias sudah tua dengan keterbatasan pengelolaan dalam menjalanlan organisasi ekonomi ini. Maka kami mulai konsentrasi ke sosialsiasi dan arahan untuk melakukan perbaharuan SDM di koperasi yang lebih mumpuni,” tambah Agus.
BACA JUGA:
Pilgub Jatim 2024, Pengamat UGM: Lakukan Politik Programatik
Agus menambahkan ciri sebuah koperasi ini kritis dan sakit dengan sudah tidak pernah lagi mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT), ketika koperasi ini melayani simpan pinjam maka banyak yang macet dan tidak diurus.
“Tugas kami di tahun ini adalah memetakan maka koperasi yang kritis dan bisa dibenahi mana yang sudah benar benar tidak bisa dibenahi. Yang masih bisa dibenahi dalam hal pengelolaan akan kami berikan suntikan modal serta pendampingan. Namun bagi koperasi yang sulit untuk berbenah maka seyogianya dibubarkan sebagai bagian dari efisiensi dan konsentrasi ada di koperasi yang masih bisa dibenahi,” urainya lagi.
Agus mengatakan pentingnya menggarap dan upaya penyelamatan koperasi yang krisis alias tidak sehat karena koperasi ini tidak hanya sekedar membantu dalam permodalan bagi UKM saja. Namun, ternyata beberapa dari koperasi ini merupakan koperasi produsen dan konsumen yang sekelompok masyarakat disekitar itu benar benar bergantung pada koperasi ini. Misalnya pengambilan pupuk atau benih bagi kelompok tani (klomtan) yang hanya disediakan di koperasi masing masing.
BACA JUGA:
Netralitas ASN Jadi Potensi Kerawanan Pemilu 2024 di Bantul
Berdasarkan data, Agus menegaskan jumlah koperasi di seluruh Kabupaten Bantul ada sebanyak 359 buah. Dari sekian ini 84 koperasi dinyatakan tidak sehat alias kritis.
“Sebenarnya jika dari sisi kuantitas koperasi di Bantul ini berpotensi tinggi untuk mendukung kemakmuran perekonomian warga sekitar namun yang masih sakit ini harus kita garap dan tangani secara serius,” bebernya.
Dirinya mengakui untuk koperasi jenis simpan pinjam memang saat ini tengah mengalami keterpurukan. Hal ini karena biasanya koperasi simpan pinjam akan kalah dengan perbankan yang menawarkan bunga rendah. [aje/beq]






