Sumenep (beritajatim.com) – Jumlah pasien campak yang dirawat di Puskesmas-puskesmas dan sejumlah rumah sakit di Sumenep terus bertambah. Saat ini total pasien yang dirawat sebanyak 73. Sebelumnya ada 61 pasien yang dirawat. Semuanya anak-anak.
“Para pasien campak itu kami pastikan mendapatkan pelayanan maksimal, baik di Puskesmas maupun rumah sakit,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Kabupaten Sumenep Achmad Syamsuri, Jumat (29/8/2025).
Berdasarkan data di Dinkes P2KB Sumenep, hingga 28 Agustus 2025, total kasus campak sebanyak 2.370. Dari jumlah itu, 2.277 dinyatakan sudah sembuh, dan 20 anak meninggal. “Yang masih dirawat ada 73. Rinciannya, dirawat di rumah sakit 48 anak, dan di Puskesmas 25 anak,” terang Syamsuri.
Kasus campak di Kabupaten Sumenep telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Hingga 26 Agustus, terdata 2.268 suspect campak. 20 diantaranya meninggal dunia. Semuanya balita dengan riwayat tanpa imunisasi atau sudah diimunisasi namun tidak lengkap.
Karena itulah, selama 2 minggu sejak Senin (25/8/2025), digelar Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi campak rubella secara massal di seluruh Pusmesmas dan Puskesmas Pembantu se-Kabupaten Sumenep. Selain itu, para tenaga kesehatan juga menyisir ke sekolah-sekolah.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin saat meninjau langsung pelaksanaan imunisasi campak di Sumenep pada Kamis (28/08/2025) menyatakan bahwa Kementerian Kesehatan telah menyiapkan 11.000 vial vaksin untuk Sumenep. Rata-rata satu vial bisa digunakan untuk delapan anak.
“Dengan begitu, vaksin yang ada cukup untuk 80.000 anak. Semua logistik itu sudah kami kirim ke Madura. Semoga dalam 2 minggu ini kasus campak di Sumenep bisa terhenti,” katanya. [tem/suf]






