Lamongan (beritajatim.com) – Sejumlah wilayah di Kabupaten Lamongan memiliki corak dan karakter yang cukup beragam, salah satunya adalah Desa Balun, Kecamatan Turi. Desa Balun ini terbilang unik karena punya tradisi yang masih terjaga hingga saat ini.
Berikut adalah 7 fakta menarik terkait Desa Balun yang keberadaannya lumayan mencuri perhatian dari berbagai kalangan.
1. Dikenal Sebagai Desa Pancasila
Desa Balun ini dijuluki sebagai Desa Pancasila karena kebhinekaannya. Penduduk di desa ini ada yang menganut agama Islam, Kristen dan ada pula yang Hindu. Mereka hidup berdampingan satu sama lain.
Menurut Kepala Desa Balun, Khusyari, sebutan Desa Balun sebagai Desa Pancasila ini tidak disematkan atau dibuat sendiri oleh warga di desanya. Melainkan oleh warga luar desa saat berkunjung dan mengeksplorasi Desa Balun.
“Sebutan sebagai Desa Pancasila ini sebenarnya sudah lama dan viral pada tahun 2013 lalu dan yang menyematkan julukan sebagai Desa Pancasila itu pun bukan kami, tapi warga luar desa,” kata Kusyairi, Minggu (18/6/2023).
2. Menjunjung Tinggi Toleransi
Bukan secara tiba-tiba, Desa Balun mendapat julukan sebagai Desa Pancasila itu karena desa ini sangat menjunjung tinggi rasa toleransinya atas perbedaan yang ada. Bahkan, penghargaan itu dinilai sangat layak disematkan, karena rasa toleransi terjaga dengan baik sejak dulu.
“Awalnya julukan Desa Pancasila ini muncul dari media dan dari para mahasiswa maupun peneliti yang melakukan penelitian di desa kami. Desa kami dinilaui mampu menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama yang ada,” ujar Kusyairi.
Khusyairi menegaskan, warga Desa Balun tak pernah mempermasalahkan perbedaan agama yang dianutnya. Selain itu, warga juga saling gotong royong untuk membina kenyamanan dan memajukan desa bersama-sama.
BACA JUGA:
Melongok Desa Pancasila di Lamongan saat Harlah Pancasila
Meski pemeluk agama Islam menjadi penghuni yang terbanyak di Desa Balun, namun toleransi agama tetap mereka pegang dengan teguh dan semuanya tetap membaur setiap saat.
“Tepatnya sekitar tahun 2014-2015, tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat di desa ini kemudian bermusyawarah terkait predikat Desa Pancasila itu, dan disetujui. Hingga kini julukan sebagai Desa Pancasila kian melekat,” ungkapnya.
3. Masjid, Gereja dan Pura Bersebelahan
Toleransi dan keharmonisan umat beragama di Desa Balun ini tergambar dari letak tempat ibadah yang bersebelahan, yakni Masjid, gereja dan Pura yang lokasinya hanya dipisahkan oleh jalan kecil dan lapangan desa.
Secara rinci, Masjid Miftahul Huda berada di sebelah barat lapangan. Masjid ini terpisah oleh jalan desa selebar lebih kurang 4 meter dengan Pura Sweta Maha Suci, tempat ibadah bagi umat Hindu di desa setempat.
BACA JUGA:
Pawai Ogoh-ogoh di Desa Pancasila Lamongan Digelar Kembali
Kemudian, letak gereja di desa ini juga sangat dekat, berada di sebelah timur masjid dan hanya dipisahkan oleh lapangan desa dengan jarak sekitar 50 meter yang menghadap ke arah masjid. Gereja di desa ini bernama Gereja Kristen Jawi Wetan.
“Masjid Miftahul Huda, Gereja Kristen Jawi Wetan dan Pura Sweta Maha Suci ini telah hidup berdampingan secara rukun dan damai. Telah berlangsung setengah abad lebih,” beber Khusyairi.

4. Pengambilan Nama Desa
Desa Balun adalah salah satu desa tua di Kabupaten Lamongan yang syarat akan nilai sejarah. Terdapat makam Sunan Tawang Alun I atau Mbah Sin Arih di desa ini yang konon merupakan Raja Blambangan.
Menurut Kades Kusyairi, Sunan Tawang Alun I atau Mbah Sin Arih memiliki kaitan erat dengan asal muasal nama Balun. Khusyairi menyebut, Mbah Alun adalah tokoh yang mengabdi dan berperan besar terhadap terbentuknya desa Balun sejak tahun 1600-an.
“Mbah Alun berasal dari Sunan Tawang Alun I atau Mbah Sin Arih yang dulunya Raja Blambangan bernama Bedande Sakte Bhreau Arih. Mbah Alun belajar mengaji ke Sunan Giri IV (Sunan Prapen). Selesai mengaji dia kembali ke tempat asalnya untuk menyiarkan agama Islam sebelum diangkat menjadi Raja Blambangan,” papar Kusyairi.
BACA JUGA:
13 Ogoh-ogoh di Desa Balun Lamongan Diarak dan Dibakar
Selama pemerintahan di Blambangan, Mbah Alun diserang dari Mataram dan Belanda hingga kedaton Blambangan hancur yang membuat Sunan Tawang Alun melarikan diri ke arah barat menuju Brondong untuk mencari perlindungan ke anaknya, yaitu Ki Lanang Dhangiran.
“Mbah Sin Arih kemudian diberi tempat di desa kuno bernama Candipari yang kini menjadi Desa Balun. Di sini, Mbah Alun mulai mengajar mengaji dan menyiarkan ajaran Islam sampai wafat tahun 1654, berusia 80 tahun sebagai seorang Waliyullah,” imbuhnya.
Diceritakan, Mbah Alun adalah ulama hasil gemblengan Giri Kedaton, yang menguasai ilmu Laduni, Fiqh, Tafsir, Syariat dan Tasawuf. Mbah Alun dikenal sebagai sosok yang tegas, kesatria, cerdas, Alim, Arif, persuatif, dan menjunjung tinggi toleransi.
Desa tempat di mana makam Mbah Alun ini di kemudian disebut Desa Mbah Alun yang kemudian menjadi Balun. Makam Mbah Alun hingga saat ini masih kerap diziarahi oleh orang-orang, terutama pada Jum’at kliwon akan banyak ditemui rombongan peziarah yang datang ke Desa Balun yang berjarak sekitar 4 km dari kota Lamongan ini.
5. Mayoritas Penduduknya Petani

Desa Balun memiliki luas wilayah sekitar 621,103 hektar yang terdiri dari 2 Dusun, yakni Dusun Balun dan Dusun Ngangkrik dengan jumlah penduduk mencapai 4.477 jiwa.
“Sekitar 60 persen penduduk Desa Balun saat ini berprofesi sebagai petani tambak. Lahan tambak yang dimiliki biasanya dalam setahun bisa dua kali panen untuk ikan dan sekali untuk padi,” jelas Khusyairi.
6. Awal Masuknya Kristen dan Hindu
Kusyairi memaparkan, agama Kristen dan Hindu mulai ada di Desa Balun pada sekitar tahun 1967, yakni pasca tragedi yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).
Kala itu, ungkap Kusyairi, ada seorang anggota TNI bernama Bati, yang ditugaskan di Desa Balun. Seiring berjalannya waktu, Bati yang diangkat menjadi kepala desa itu mendapat laporan dari warga adanya temuan soal potongan kitab Injil.
“Dari temuan potongan kitab Injil itu, barulah diketahui bahwa ada sejumlah warga desa beserta keluarganya yang memeluk agama Kristen,” paparnya.
BACA JUGA:
Jelang Iduladha 1444 H, Pesanan Pisau dan Golok Sembelih di Lamongan Meningkat
Seiring dengan itu, tambah Kusyairi, masuklah tokoh agama Hindu dan menetap di Desa Balum. Sehingga bagi warga desa yang telah menganut ajarannya, diarahkan masuk Hindu seperti anjuran pemerintah.
“Hingga kini, di Desa Balun ada satu rumah yang dihuni oleh lebih dari 1 pemeluk agama,” imbuhnya.
7. Pengamanan Bersama Saat Hari Raya
Saat pelaksanaan peringatan hari raya agama masing-masing, umat dari agama lain di Desa Balun akan turut membantu dalam mengamankan jalannya upacara keagamaan.
Jika umat kristiani merayakan Natal, maka umat muslim dari remaja masjid, anak pondok serta pemuda dari Hindu pun akan ikut menjaga gereja bersama TNI dan Polri.
Sama halnya saat umat Hindu menggelar pawai ogoh-ogoh sehari sebelum Hari Raya Nyepi, umat dari agama lain akan ikut mempersiapkan dan berpartisipasi dalam memeriahkan pawai tersebut.
“Setiap ada kegiatan keagamaan kami saling membantu. Begitu pula saat ada warga yang meninggal dunia atau ketika ada hajatan, kami semua ikut membantu. Pas bulan puasa kemarin misalnya, kami juga menggelar buka bersama antar umat beragama di lapangan desa,” pungkasnya. [riq/suf]






