Jember (beritajatim.com) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mencatat, 531 yayasan atau pesantren telah mendaftar menjadi mitra Badan Gizi Nasional (BGN) untuk membangun dan mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Tujuh belas SPPG sudah beroperasi, 42 SPPG diresmikan hari ini dan siap memberikan layanan. Sisanya masih dalam proses verifikasi dan pembangunan fisik dapur,” kata Ketua Tim Konsultasi dan Akselerasi Program MBG Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Fahmi Akbar Idris, dalam peresmian 42 SPPG NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (30/9/2025).
Fahmi berterimakasih kepada yayasan, pesantren, sekolah Maarif dan seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama yang telah bergotong royong mewujudkan komitmen mendukung program prioritas pemerintah ini.
“Karena memang dalam membangun SPPG ini dibutuhkan ketekunan, usaha yang sungguh sungguh, manajemen yang profesional dan tentu dukungan dana yang tidak kecil,” kata Fahmi.
Sejumlah SPPG yang diresmikan hari ini antara lain berada di Pondok Pesantren Tebuireng, Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, dan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta.
Selain itu hari ini juga diresmikan SPPG berbasis pesantren dan sekolah ma’arif luar Jawa, seperti dari Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan. “Ini menunjukan bahwa keluarga besar Nahdlatul Ulama sangat mendukung program MBG ini dan dengan serius berikhtiar menyukseskanya,” kata Fahmi.
PBNU menargetkan seribu SPPG dikelola yayasan dan pesantren. “Dalam sisa waktu tiga bulan ke depan kita sedang mengintensifkan pendampingan calon SPPG NU, agar di akhir Desember benar-benar terwujud seribu titik SPPG,” kata Fahmi.
Menurut Fahmi, PBNU terus mendampingi SPPG yang sudah berjalan agar dapat memberikan layanan terbaik kepada seluruh penerima manfaat makanan bergizi. “Kami percaya, jika dieksekusi dengan benar, program ini memberikan manfaat dan dampak yang luar biasa. Bukan hanya manfaat asupan bergizi untuk anak anak juga dampak ekonomi, sosial termasuk penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Fahmi menegaskan, program MBG bisa menjadi penggerak dan pendorong ekosistem kemandirian pesantren, sekolah maarif, dan organisasi NU. “Bahwa barangkali masih ada kekurangan di sana sini, sudah menjadi tugas kita bersama untuk bekerja maksimal, bahu-membahu memperbaiki dan menyempurnakan eksekusi program,” katanya. [wir]






