Jember (beritajatim.com) – Ada 16 desa dan kelurahan di Kabupaten Jember, Jawa Timur yang berkomitmen untuk ramah terhadap perempuan dan anak. Penandatanganan komitmen ini dilakukan di hadapan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga, dalam acara Rembuk Perempuan, Anak, Disabilitas, dan Lansia, di Aula PB Sudirman Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (21/2/2024).
Keenam belas desa dan kelurahan itu adalah Kelurahan Wirolegi, Desa Rambipuji, Desa Lembengan, Desa Sumberpakem, Desa Puger Kulon, Desa Kasiyan, Desa Wringintelu, Desa Ledokombo, Desa Sumberlesung, Desa Karangpaiton, Desa Sumberanget, Desa Sukogidri, Desa Slateng, Desa Sumberbulus, Desa Sumbersalak, dan Desa Suren.
“Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), dari 2,5 juta lebih penduduk Jember, 50 persennya perempuan dan 27 persen anak-anak. Artinya perempuan dan anak adalah potensi luar biasa bagi Kabupaten Jember,” kata Bintang.
Potensi ini, menurut Bintang, akan menjadi penting melalui regulasi dan kebijakan pemerintah daerah yang memiliki perspektif gender dan ramah anak. “Ketika kita melihat data apakah itu indeks pembangunan manusia, indeks pembangunan gender, ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat panjang yang harus kita selesaikan,” katanya.
Ada lima arahan Presiden Joko Widodo kepada Kementerian PPPA. “Pertama, pemberdayaan perempuan di bidang kewirausahaan berperspektif gender, Kedua, peran ibu dalam keluarga dalam pendidikan dan pengasuhan. Ketiga, penurunan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Keempat, penurunan angka pekerja anak. Kelima, pencegahan perkawinan anak,” kata Bintang.
Kementerian PPPA membutuhkan sinergi dan kolaborasi untuk menyelesaikan lima agenda tersebut, dan mendampingi perempuan dan anak. Bintang memuji komitmen Pemerintah Kabupaten Jember. “Tidak hanya mendapatkan predikat Kabupaten Layak Anak tingkat nindya, tapi tahun depan harus mendapatkan peringkat utama,” kata Bintang.
Bintang menegaskan, untuk menyelesaikan lima isu arahan presiden, Kementerian PPPA telah bersinergi dan berkolaborasi dengan Kementerian Desa untuk mewujudkan desa ramah perempuan dan peduli anak. “Hari ini kami menyampaikan apresiasi setulusnya untuk pengukuhan 16 desa di Jember rmenjadi model desa ramah perempuan dan anak,” katanya.
Bintang berharap 16 desa dan kelurahan itu melaksanakan kegiatan secara bergotong royong untuk pengasuhan anak. “Konsep model yang kami kembangkan di Kementerian adalah gotong royong. Hadirnya pemerintah dari pusat hingga daerah, hadirnya para akademisi, hadirnya dunia usaha yang menjadi bapak asuh, serta hadirnya tokoh-tokoh masyarakat akan mempercepat hadirnya model desa ramah perempuan dan anak,” katanya.
Bintang Puspayoga memandang pentingnya edukasi terhadap orang tua agar bisa mendampingi anak-anak dalam mengisi waktu luang dengan baik. “Komitmen pemerintah daerah menjadi penting untuk mengoptimalkan dan melestarikan budaya, aktivitas-aktivitas dibuka sebanyak-banyaknya, mungkin tidak hanya di sekolah, tapi juga di RT dan RW. Itu salah satu bentuk untuk mengisi waktu luang bagi anak-anak kita,” katanya.
Salah satu yang diwaspadai adalah penggunaan gadget pada anak. Kementerian PPPA sebenarnya sudah berkomunikasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengedukasi cara pengasuhan di rumah. “Gadget tidak selalu jelek atau negatif. Tapi penting juga ada kesepakatan bersama yang dibangun dengan anak tentang kapan waktu dan berapa lama boleh (menggunakan gadget). Kita harus beri edukasi kepada orang tua untuk memberikan pendampingan yang terbaik kepada anak-anaknya,” kata Bintang.
Konten media sosial dan internet, menurut Bintang, juga perlu dipantau orang tua. “Konten mana yang bisa diakses dan tidak oleh anak. Orang tua harus punya waktu lebih untuk mendampingi anak-anak di era globalisasi,” katanya. [wir]






