Madiun (beritajatim.com) – Sebanyak 155 warga Madiun terjangkit diare sepanjang 6 bulan di tahun 2023. Sebanyak, 60 persen atau sekitar 92 kasus diantaranya merupakan anak-anak. Pun, data itu berdasarkan jumlah pasien diare yang dirawat di RSUD Caruban Madiun.
“Ada peningkatan 8 sampai 9 persen, namun tidak signifikan. Mayoritas anak-anak yang terjangkit. Persentasenya 60 dibanding 40 persen,” ujar Suyono Kabid Pelayanan RSUD Caruban, saat ditemui di ruangannya, Jumat (14/7/2023).
Jika dibandingkan dengan tahun 2022 sebanyak 134 pasien. Baik usia anak anak maupun usia dewasa. Menurut dia, anak- anak cenderung kurang disiplin dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Setelah bermain, mereka langsung makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Kemudian, yaitu pola hidup kebersihan, seperti cuci tangan, kebersihan makanan dan minuman kurang higienis. Hingga cara menyimpan makanan yang kurang benar.
“Peningkatan mungkin disebabkan karena pola hidup kurang sehat. Ditambah Idul Adha kemarin, daging yang disimpan terlalu lama di kulkas terus dimasak ulang, dan pengolahannya kurang benar. Ada faktor stress, kejiwaan, ketakutan, faktor cuaca. Tapi tidak terlalu signifikan pengaruhnya,” sambung Suyono.
Dirinya juga menjelaskan, cara pencegahan dan penanganan penyakit diare, apabila terjadi peningkatan jumlah buang air besar, maka harus berhati-hati.
“Sehari bisa lebih dari 3 kali. Kalau buang air besarnya bersifat cair, harus waspada. Tak lupa mengganti cairan tubuh yang sudah keluar, jika disertai muntah. Kalau diare saja, tanpa muntah, cukup diberi minuman oralit atau minuman biasa. Tujuannya adalah agar tidak timbul dehidrasi,” imbuh Suyono.
BACA JUGA:
Berkomorbid Asma, 1 Pasien Diare di Pacitan Meninggal Dunia
Umumnya, tanda dehidrasi pada diare antara lain, suhu badan panas, bibir kering, sampai muncul kegelisahan, khususnya pada anak anak.
“Jadi waspada, segera dilarikan ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat supaya mendapat pertolongan lebih lanjut,” pungkasnya. [fiq/but]






