Blitar (beritajatim.com) – Dinas kesehatan Kabupaten Blitar menyebut selama 2 bulan terakhir ada 11 kasus suspek difteri. Keseluruhan warga yang diduga terjangkit difteri ini pun harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Christine Indrawati menyebut bahwa gejala awal penyakit difteri ini mirip dengan ispa yakni batuk, pilek, nyeri leher dan demam. Namun penyakit difteri jauh lebih berbahaya dan bisa berujung pada kematian.
“Difteri awalnya landai tapi selama 2 bulan terakhir ini aku dapat data 11 orang suspek difteri, inu gejalanya mirip Ispa memang batuk pilek nyeri tenggorokan,” kata Christine, Sabtu (08/07/23).
Seluruh pasien suspek difteri tersebut bahkan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Selain dilakukan observasi, para pasien tersebut juga diberikan obat anti difteri serum.
Penyebab utama difteri adalah infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae, yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta dapat memengaruhi kulit. Bakteri yang masuk ke tenggorokan bisa membuat membran di bagian tonsil (amandel) sehingga membuat pasiennya kesulitan bernafas.
Maka dari pasien yang suspek maupun positif difteri harus memperoleh bantuan alat pernafasan atau oksigen.
“Ini cukup berbahaya bisa berujung ke kematian karena pasien difteri ini bisa mengalami gagal nafas akibat Corynebacterium diphteriae yang membuat membran di tonsil,” papar dokter perempuan tersebut.
Dinas kesehatan Kabupaten Blitar pun telah melakukan uji laboratorium terhadap 11 orang suspek difteri yang dirawat tersebut. Hasilnya 7 orang telah dinyatakan negatif sementara 4 lainnya hingga kini masih menunggu.
Baca Juga: Enam Warga Blitar Terjangkit Difteri, Satu Masih 5 Tahun
Dinkes Kabupaten Blitar pun mengimbau kepada masyarakat untuk lebih peka dan segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat jika mengalami gejala seperti Ispa ataupun difteri. Masyarakat yang mengalami gejala mirip Ispa juga diminta untuk selalu menggunakan masker demi mencegah terjadinya penularan.
Pasalnya jika ada seorang yang terjangkit difteri, maka Dinas Kesehatan harus melakukan pelacakan terhadap kontak eratnya. Seluruh warga yang pernah kontak dengan pasien positif difteri dalam kurun waktu 2 pekan terakhir harus juga mengkonsumsi obat Anti Difteri Serum.
“Prosedurnya jika ada yang positif maka semua yang kontrak dengan pasien harus juga minum obat Anti Difteri Serum,” imbuhnya.
Umumnya gejala penyakit difteri akan muncul 2–5 hari setelah seseorang terinfeksi bakteri Corynebacterium diphteriae. Setelah itu, bakteri menyebar ke aliran darah dan menimbulkan gejala di bawah ini:
1. Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi amandel dan tenggorokan.
2. Demam dan menggigil.
3. Nyeri tenggorokan dan suara serak.
4. Sulit bernapas atau napas yang cepat.
5. Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher.
6. Lemas dan lelah.
7. Pilek yang awalnya cair, tetapi dapat sampai bercampur darah.
8. Batuk yang keras.
9. Rasa tidak nyaman.
10. Gangguan penglihatan.
11. Bicara melantur.
Tanda-tanda syok, seperti kulit yang pucat dan dingin, berkeringat, dan jantung berdebar cepat.
Pada beberapa orang, penyakit ini bersifat ringan atau tidak ada tanda dan gejala yang jelas sama sekali. Dalam kasus seperti ini, mereka tetap tidak menyadari penyakitnya dan masih bisa menularkannya ke orang lain. (owi/ted)






