Sorotan

Liga 1 Pekan 25

Karena Kita Memilih Bertanya kepada Api GBT yang Menyala

Kerusuhan usai Persebaya melawan PSS Sleman. (foto: Wahyu Hestiningdiah)

Sependek ingatan saya, terakhir Bonek mendominasi foto utama halaman muka sejumlah surat kabar nasional pada 2014. Saat itu, kerusuhan terjadi di Tol Simo, Surabaya, menyusul aksi warga dan Bonek yang menghadang rombongan bus Aremania yang pulang dari Gresik.

Malam yang menegangkan. Pasukan kepolisian membubarkan massa yang marah dengan menyemprotkan gas air mata. Wali Kota Tri Rismaharini yang berusaha menenangkan massa ikut terkena semprotan gas air mata.

Setelah itu berita soal Bonek tidak lagi mendominasi media massa. Ada beberapa insiden saat Persebaya bertanding tandang. Namun tidak cukup kuat untuk menjadi artikel berita di halaman muka surat kabar nasional.

Juga saat Bonek mendirikan panti asuhan secara swadaya, menjadi satu-satunya kelompok suporter yang mengirimkan tim relawan ke lokasi bencana di Nusa Tenggara Barat dan Palu, atau melemparkan ribuan boneka untuk dihadiahkan kepada anak-anak penderita kanker. Tak ada yang cukup kuat di mata media nasional untuk diletakkan di halaman pertama.

Lalu datanglah insiden Selasa (29/10/2019) malam itu. Persebaya diterkam PSS Sleman 2-3 di Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya, dalam pertandingan pekan 25 Liga 1. Ratusan Bonek melakukan pitch invasion: turun ke lapangan setelah pertandingan usai dan membakar sejumlah papan reklame dan jala gawang.

Tentu saja, ini peristiwa berkualitas halaman pertama bagi media yang percaya: kabar buruk adalah berita baik. Apalagi insiden ini hanya terpaut beberapa hari setelah ada pengumuman kemungkinan Surabaya menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Piala Dunia U20 tahun depan.

Narasinya jelas: Bonek kecewa dan tidak bisa menerima kekalahan tersebut. Ini narasi ringkas paling mudah untuk menjelaskan insiden tersebut. Kasat mata. Terang-benderang. Namun tentu saja terlalu menyederhanakan persoalan.

Tentu saja tak ada yang menyukai apa yang dipertontonkan Persebaya sore itu. Saya menguap berkali-kali melihat Persebaya memainkan bola-bola panjang yang tak akurat dan terburu-buru ketimbang membangun serangan dari lini belakang melalui operan kaki ke kaki. Saya bisa membayangkan betapa jengkelnya Bonek melihat begitu mudahnya pertahanan Persebaya ditembus pemain PSS.

Gol pertama PSS yang dicetak Jepri Kurniawan pada menit 16 menunjukkan betapa rapuhnya lini tengah dan belakang Persebaya. Dave Mustaine, pemain depan PSS, berhasil merebut bola dari gelandang bertahan M. Hidayat dan dengan bebas bisa berlari masuk ke zona pertahanan Persebaya tanpa ada kawalan. Bahkan empat pemain PSS bergerak bersama di lini depan dan dihadapi tiga pemain belakang Persebaya.

Saat tiga pemain belakang Persebaya kebingungan menerka bola akan dialirkan ke mana, Dave menyodorkannya ke Jepri yang berlari kencang di sisi kanan. Masuk kotak penalti, dari sudut sempit, ia menghajar jala gawang Miswar Saputra. Tak ada pemain yang menghadang. Pemain terdekat dengan Jepri justru Irfan Jaya yang susah-payah berlari dari depan untuk membantu pertahanan. Ruben Sanadi terlambat kembali ke posisinya di bek kiri.

Gol kedua PSS pada menit 41 juga diakibatkan keteledoran lini pertahanan mengantisipasi bola mati. Bola tendangan bebas Guilherme Batata dari sisi kiri pertahanan Persebaya dengan mudah ditanduk Haris Tuharea ke dalam gawang Miswar. Tak ada pemain terdekat dengan Haris yang melompat untuk menghalau arah bola dari depan. Pemain terdekat dengan Haris adalah Abu Rizal Maulana yang justru tak melompat untuk mengganggu manuver Haris.

Dua menit berselang, gol ketiga yang dicetak Yevhen Bokhashvili semakin menenggelamkan mental pemain Persebaya. Mirip dengan gol pertama, pemain-pemain PSS berhasil menggagalkan serangan Persebaya dan melakukan recovery segera. Bola digiring Batata tanpa pressing dan disodorkan kepada Bokhashvili yang hanya berhadapan dengan dua pemain Persebaya, Aryn Williams dan Syaifuddin. Bokhashvili sempat meliuk sebentar sebelum menaklukkan Miswar.

Tiga gol akibat tidak jelasnya pola permainan Persebaya membuat sebagian Bonek mulai gerah. Ribuan suporter di tribune utara yang tergabung dalam Green Nord memilih keluar dari stadion. “Kami sepakat WO,” kata Husin Ghozali, salah satu tokoh Bonek di tribune utara.

Persebaya memang mencetak dua gol balasan, melalui kaki David da Silva pada menit 34 setelah mendapat umpan matang Oktafianus Fernando dan dicetak Diogo Campos Gomes pada menit 76 melalui titik penalti. Namun dua gol tersebut bukan berasal dari serangan yang rapi, melainkan karena militansi Da Silva dan Rendi Irwan yang terus berlari mengejar bola.

“Kami WO bukan karena kalahnya Persebaya. Tapi apa yang perlu didukung, kalau para pemain bermain tidak dengan hati, tidak merasa bangga membela Persebaya dan memble alias ambyar. Suporter sudah berjuang maksimal, tapi apa balasan dari mereka, para pemain dan manajemen,” kata Husin.

Enam pertandingan tanpa kemenangan (dua hasil imbang dan empat kali kalah) sudah cukup menunjukkan bagaimana kinerja tim ini. Stadion Gelora Bung Tomo semakin ditinggalkan penonton. Pertandingan melawan PSS ditonton 21.111 orang. Tak sampai separuh dari kapasitas stadion yang mencapai 50 ribu penonton. Sebelumnya, pertandingan kandang melawan Borneo FC hanya disaksikan 9.027 orang.

Mereka yang hanya terpaku pada satu insiden Selasa malam itu (terutama jika memang sejak awal memiliki bias opini terhadap Bonek) akan menampik alasan, juga latar belakang yang menjelaskan motif terjadinya kerusuhan. Penjelasan tidak dibutuhkan untuk penghakiman. Namun justru di situlah persoalannya: kita tak melihat akar persoalan secara utuh, dan ujung-ujungnya gagal melakukan antisipasi. Kita tak pernah berhenti sejenak dan bertanya: ada apa.

Saya kira ini memang tabiat khas negeri ini untuk semua hal, bukan hanya sepak bola: lebih tersita oleh momentum, dan mengabaikan rangkaian variabel yang membentuk momentum tersebut.

Selama bertahun-tahun setelah eksistensi Persebaya diakui kembali oleh PSSI, Gelora Bung Tomo tak selamanya mencatatkan kejayaan, tapi juga kekalahan. Saat Liga 1 2018, tercatat Persebaya mengalami tiga kali kekalahan, tapi tak ada aksi pembakaran fasilitas stadion seperti yang terjadi Selasa malam itu.

Bahkan dalam kerusuhan tersebut, tak ada suporter Persebaya yang menyerang dan melukai pemain maupun pendukung PSS Sleman. Mereka sepenuhnya mengarahkan amarah kepada pengelola klub yang dinilai gagal memahami nilai-nilai yang membentuk Persebaya: permainan bermartabat yang menghargai filosofi keberanian.

Tapi banyak orang yang tidak melihat ini semua, termasuk pejabat pemerintah dan federasi yang dengan mudah melepaskan kecaman serta mengungkapkan kesedihan, maupun manajemen Persebaya yang mendadak terkaget-kaget: terbawa perasaan oleh api yang menyala-nyala malam itu.

Saya tidak tahu, mengapa kita lebih suka bertanya pada api yang menyala, yang membakar papan-papan reklame dan memusnahkan jala gawang ketimbang mengidentifikasi pangkal soal. Mengapa kita tidak sejak awal mengacuhkan kemarahan dan ketidakpuasan suporter saat hanya berupa teriak sumbang dan nyanyian penuh umpatan. Mengapa kita mengabaikan mereka yang memilih mengosongkan tribune dan meninggalkan stadion sebagai ekspresi kekecewaan.

Tidak ada yang layak dipuji dari tindakan Bonek Selasa sore itu, memang. Saya pun tak akan memberikan pembelaan untuk mereka jika PSSI menjatuhkan sanksi berat bagi Persebaya. Suka atau tidak, kerusuhan hanya mengembalikan stempel buruk kepada mereka yang bertahun-tahun berusaha untuk diperbaiki. Setelah api padam, lampu-lampu stadion dimatikan, dan Gelora Bung Tomo kembali sunyi, yang tersisa adalah penantian ketukan palu vonis untuk Persebaya.

Namun, mungkin kita harus berhenti untuk mudah terkaget-kaget, mengecam, mendadak bijak, untuk melihat kerusuhan suporter sepak bola di negeri ini. Setiap kekacauan memiliki cerita, setiap keributan memiliki pangkal dan muasal. Berhentilah bertanya kepada api yang menyala, karena jauh sebelum api itu berkobar, selalu ada kesempatan untuk memadamkan baranya: dengan mendengarkan dan menghargai apa yang mereka inginkan. Hanya mendengarkan. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar