Meskipun Indonesia resmi diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah atas (Upper-Middle Income Country/UMIC) oleh Bank Dunia, gegap gempita perayaan ini terasa hambar di akar rumput
KUMPULAN BERITA sorotan
Ada paradoks yang menyayat hati dalam potret tata kelola publik kita hari ini. Diberbagai forum para penentu kebijakan gemar pamerkan angka ekonomi makro.
Seorang kawan mengatakan, penampilan penjaga gawang Persebaya Andhika Ramadhani seperti kolas atau lotre. Kita tidak tahu kapan akan beruntung atau…
Dalam setiap diskusi mengenai arah bangsa, kita sering terjebak pada perdebatan angka: berapa kilometer jalan yang dibangun, berapa triliun anggaran yang diserap
Ekonomi seringkali berbicara melalui angka-angka yang dingin di atas kertas, namun denyut nadinya paling terasa di jalan raya. Jika kita melihat data penjualan mobil awal tahun 2026
Indonesia hari ini seolah sedang berdiri di depan cermin besar sejarah. Di satu sisi, kita melihat kemegahan pembangunan fisik dan stabilitas makro yang terjaga.
Di warung-warung kopi, kita akrab dengan sachet kopi “3-in-1”. Praktis, cepat, dan manis. Cukup seduh dengan air panas, lalu teguk. Rasa kantuk hilang seketika
wajah politik Indonesia menampilkan anomali yang membingungkan. Di satu sisi, pembangunan infrastruktur tampak masif dan stabilitas politik terjaga.
Dalam narasi ekonomi global, angka sering kali berbicara lebih lantang daripada janji. Revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch Ratings dari “stabil” ke “negatif” pada Maret 2026 bukanlah sebuah vonis mati
Perekonomian Indonesia memasuki babak baru. Tahun 2025 menjadi penanda penting ketika ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,11 persen.






