Jember (beritajatim.com) – Apa hubungan konsep hukum Archimedes dengan pembuatan dawet? Atau apa pula itu penguapan atau perubahan kalor dalam pembuatan kue putu? Bagaimana teori rotasi dalam pembuatan kue telur gulung?
Semua pertanyaan ganjil itu merupakan bagian dari cara pembelajaran ilmu fisika yang diperkenalkan tiga mahasiswi Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Tiga mahasiswi ini adalah Elma Tri Istighfarini, Audri Mely Prabandarini, dan Haniyah Arifia. Mereka mengembangkan apa yang disebut Kofijatra atau Konsep Fisika Jajanan Tradisional dalam bentuk modul digital (e-Modul).
Kofijatra ini diperuntukkan siswa SMA dan sederajat yang ingin belajar soal ilmu fisika secara lebih menyenangkan dan interaktif. Mereka menjadikan proses pembuatan jajanan tradisional sebagai wahana menjelaskan konsep dan hukum yang ada di pelajaran fisika. “Misalnya saja saat membuat dawet. Saat dawet yang baru dibuat dimasukkan ke dalam air, siswa bisa belajar hukum Archimedes mengenai benda yang terapung, melayang dan tenggelam,” kata Elma.
Pembuatan kue putu yang dikukus juga bisa dijadikan wahana pembelajaran konsep penguapan. “Proses pembuatan kue putu juga menjadi sarana belajar perubahan kalor mengingat panci tempat putu dikukus diberi air. Bahkan siswa bisa belajar gerak rotasi saat pembuatan kue telur gulung,” kata Elma. sebagaimana dilansir Humas Unej, Senin (5/9/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”unej”]
Trio mahasiswi ini bekerjasama dengan pedagang kue putu yang biasa mangkal di kawasan kampus Unej, penjual telur gulung dalam kegiatan car free day setiap Minggu pagi di seputaran alun-alun Jember, dan pedagang jajan pasar di Kecamatan Ambulu.
Para mahasiswi ini memgambul gambar aktivitas pembuatan jajan pasar sekaligus mempromosikan jajanan tradisional khas Indonesia kepada siswa. “Kami berharap generasi milenial paham bahwa di balik pembuatan jajanan tradisional ada kearifan lokal,” kata Elma.
Kearifan lokal ini meliputi pemilihan bahan jajanan tradisional yang memanfaatkan potensi lokal hingga filosofi di balik setiap kue tersebut. “Jangan lupa jajanan tradisonal tidak bisa dilepaskan dari momen-momen spesial di kehidupan masyarakat Indonesia. Cara ini juga kami harapkan menjadi cara menguatkan profil pelajar Pancasila,” kata Audri.
Modul elektronik belajar ini kemudian diujicobakan kepada siswa Kelas X di SMAN 2, SMAN 4 dan SMAN 5 Jember. Hasilnya menggembirakan. Para siswa lebih mudah menangkap konsep dan hukum dalam pelajaran ilmu fisika dengan cara menyaksikan modul tersebut. “Para guru pun senang mengingat e-modul kami selaras dengan kurikulum Merdeka yang kini diaplikasikan di sekolah,” kata Haniyah. [wir/ted]






