Malang (beritajatim.com) – Yayasan Pendidikan Tekhnologi Waskito (YPTWT) selaku penyelenggara lembaga STM Turen dan SMP Bhakti di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, memberikan jaminan penuh bahwa proses belajar mengajar siswa akan langsung kembali ke sistem tatap muka. Kepastian ini diberikan dengan syarat pihak pengurus Yayasan Pendidikan Tekhonologi Turen (YPTT) segera keluar dari lingkungan sekolah demi menjaga kondusivitas pendidikan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kuasa Hukum YPTWT, Ahmad Hadi Puspito, usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama jajaran Forkopimda di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Malang, Selasa (20/1/2026). Meskipun agenda mediasi dalam RDPU tersebut diputuskan untuk ditunda dan dijadwalkan ulang, pihak YPTWT tetap mengedepankan hak pendidikan para siswa.
“Ditunda mediasinya, RDPU akan diagendakan ulang. Kalau dari kami, kami komitmen, menjamin pendidikan lancar tidak terganggu, seperti yang sudah kami lakukan belasan tahun lalu. Sehingga, yang kami minta, kembalikan situasi sekolah di STM Turen seperti sediakala sebelum peristiwa tanggal 28 Desember 2025 terkait aksi premanisme,” tegas Hadi.
Hadi menjelaskan bahwa keinginan agar pihak YPTT meninggalkan area sekolah bukan hanya datang dari manajemen yayasan, melainkan aspirasi langsung dari para guru dan siswa. Kehadiran pihak lain di lingkungan internal sekolah dinilai telah memberikan dampak negatif terhadap suasana belajar.
“Jadi bukan hanya dari kami saja. Menurut beberapa guru, kehadiran YPTT di lingkungan sekolah mengganggu psikis mereka. Kalau dari anak anak siswa ada yang takut, ada yang khawatir terjadi sesuatu hal seperti kejadian tanggal 28 Desember 2025. Itu kan ada cctv-nya,” ujar Hadi merujuk pada insiden penabrakan pagar sekolah beberapa waktu lalu.
Ketidaknyamanan tersebut menjadi faktor utama yang menghambat optimalisasi KBM. Menurut pihak YPTWT, penguasaan kantor yayasan oleh pihak luar telah menciptakan tekanan psikologis bagi warga sekolah.
“Kami tidak mengatakan mereka (YPTT) mengganggu. Hanya saja siswa kami sama guru yang tidak nyaman kehadiran mereka (YPTT). Kami menjamin sekolah tatap muka apabila mereka (YPTT) keluar dari sekolah, karena Itu keinginan dari siswa dan guru, itu juga keinginan kami,” bebernya.
Sebagai lembaga yang telah menaungi STM Turen dan SMP Bhakti dalam kurun waktu yang lama, YPTWT mengklaim telah membuktikan kredibilitasnya dengan meluluskan ribuan siswa tanpa ada kendala keamanan berarti sebelum pecahnya konflik ini.
“Siswa belajar tidak nyaman sejak kejadian premanisme di tanggal 28 Desember 2025. Karena sejak tahun 2009 juga tidak ada gangguan, semua nyaman. Kami bahkan sudah meluluskan ribuan siswa,” tambah Hadi.
Terkait dengan adanya tudingan provokasi terhadap siswa yang menyebabkan kerusakan pada kantor yayasan, pihak YPTWT memilih untuk tidak menanggapi secara berlebihan dan menyerahkan pembuktian kepada pihak yang menuduh.
“Soal tudingan kami memprovokatori siswa merusak kantor yayasan, kami tidak bisa berstatmen soal itu. Siapa yang menuding itu ya silahkan membuktikan,” pungkas Hadi. [yog/ian]






