Surabaya (beritajatim.com) – Bek Persebaya Surabaya, Yohanes Kandaimu, kembali menjadi korban rasisme saat timnya menghadapi Bali United di pekan ke-16 Liga 1 2023/2024. Kandaimu sangat kecewa dengan kejadian ini dan meminta pelaku diproses hukum.
Kandaimu mengaku mendengar teriakan berbau rasisme dari oknum suporter saat pertandingan berlangsung. Teriakan tersebut dilontarkan dari belakang match commissioner.
“Ada satu hal yang saya mau bilang, kami bermain di dalam, selama 90 menit. Kami kalah, tapi kami terima itu. Saya apresiasi untuk tim lawan kami. Saya sangat kecewa masih ada hal yang terjadi lagi di Indonesia,” kata Kandaimu.
Kandaimu menyayangkan masih ada rasisme di sepak bola Indonesia. Menurutnya, sepak bola adalah olahraga yang seharusnya menyatukan semua orang, tanpa memandang ras, suku, atau agama.
BACA JUGA:
Yohanes Kandaimu Gantikan Dusan Stevanovic Saat Lawan Borneo
“Ini sepak bola, bukan bawa segala hal kulit dan sebagainya. Kami cinta Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Saya fokus, tapi saya mau kepolisian tangani itu,” tuturnya.
Kandaimu juga mengungkapkan bahwa pihak kepolisian sebenarnya sempat menangkap pelaku yang diduga berada di tribun penonton. Namun, sang pelaku kemudian dilepas lagi.
“Saya tidak tahu dia ngomong bagaimana. Saya mau polisi tangani itu biar sepak bola Indonesia lebih baik. Indonesia ini luas dari Sabang sampai Merauke, bukan hanya Jawa saja,” ujar pemain asal Papua ini.
BACA JUGA:
Bek Persita Yohanes Kandaimu OTW ke Persebaya
Kejadian ini bukan kali pertama Kandaimu menjadi korban rasisme. Sebelumnya, dia juga mendapat ungkapan negatif melalui media sosial setelah Persebaya menang 2-1 atas Borneo FC pada 3 September 2023 lalu.
Kandaimu berharap kejadian ini tidak terulang kembali di sepak bola Indonesia. Dia juga meminta semua pihak untuk berperan aktif dalam memerangi rasisme di dunia olahraga. [way/beq]






