Jember (beritajatim.com) – Rawon pecel, makanan khas Kabupaten Jember, Jawa Timur, memiliki keunikan cita rasa yang berpotensi membuat penikmat kuliner. Berbeda dengan rawon atau pecel, kombinasi rawon pecel Jember versi terbaru mendapat sentuhan bumbu petis udang.
Sentuhan petis udang ini diperkenalkan oleh Chef Steby Rafael saat menggelar kelas memasak rawon pecel di alun-alun Jember, Minggu (20/8/2023). “Rawon yang asli harus lengkap bumbunya dan masaknya harus benar. Petis adalah bahan makanan khas Jawa Timur yang banyak mengandung glutamat alami atau penyedap alami,” katanya.
Petis melengkapi kekuatan kluwek sebagai bahan dasar utama rawon. Biji kluwek tidak bisa diolah asal-asalan untuk bisa memperkuat cita rasa rawon agar lebih gurih.
“Saat ada petis di dalamnya, kita mendapatkan rasa gurih atau umami yang tidak bisa diwakilkan kaldu-kaldu bumbu. Kalau umami, cita rasa terasa sampai pangkal lidah. Itu yang membuat rawon, walau terkesan sederhana, cita rasanya harus bulat dalam mulut,” kata Rafael.
Aunurrahman Wibisono, pengamat kuliner dan penulis buku ‘Selama Ada Sambal, Hidup Akan Baik-Baik Saja’, menyebut rawon pecel berpotensi membuat orang penasaran, terutama pecinta kuliner. “Walau tentu tidak menutup kemungkinan akan ada orang-orang yang mengira itu aneh,” jelasnya.
Syaratnya, lanjut pria yang akrab disapa Nuran ini, rawon pecel dikemas dengan promosi yang baik. “Apalagi ditambah sambal petis, itu bisa jadi bahan ‘jualan’ sebagai makanan khas Jember.,” kata alumnus Universitas Jember ini.
Ketua Tim Penggerak PKK Jember Kasih Fajarini terkesan dengan sentuhan petis udang dalam rawon pecel khas Jember. “Ini juga akan memperkuat citra pelaku UMKM pembuatan petis di Jember,” katanya.
Rafael mengapresiasi langkah Bupati Hendy Siswanto yang menobatkan rawon pecel menjadi makanan khas Jember. “Dalam dunia kuliner, tidak ada batasan. Invention atau kreativitas adalah satu hal yang tak dapat dibendung, selama makanan tersebut bisa dinikmati dan disukai banyak orang, apalagi membuat ciri khas suatu daerah, mengapa tidak kita dukung,” katanya.
“Buat sebagian orang mungkin akan menemukan cita rasanya tabrakan. Tapi untuk orang yang lain, mungkin suka. Tak kenal maka tak sayang. Pecel rawon semakin diketahui masyarakat Indonesia. Berari cita rasanya klop dengam cita rasa Indonesia. Kalau ada yang tidak cocok, mungkin karena dia belum biasa atau kenal,” kata Rafael.
Di sinilah, lanjut Rafael, perlunya kampanye. Ia kemudian memberikan saran kepada masyarakat Jember yang ingin membuka luas usaha kuliner rawon pecel.
“Kalau kita bisa masak dan mau memulai usaha, kita harus bisa menjadi guru yang baik bagi pegawai-pegawai kita. Jangan pelit ilmu. Kalau (resep) kita simpan sendiri, saat kita libur, maka standar makanan melenceng. Tapi kalau kita bisa jadi guru yang baik, walau kita tidak ada di tempat, standar cita rasanya akan tetap terjaga,” kata Rafael.
Senada dengan Nuran, Rafael juga menekankan pentingnya promosi rawon pecel sebagai makanan khas Jember. “Bisnis bisa sukses atau tidak, 70 persen tergantung cara promosi, lokasi, pelayanan, dan dari niat kita. Cita rasa hanya 30 persen. Jadi kalau mau bikin usaha, jangan yang terlalu ribet. Sebisa mungkin dengan bahan yang sederhana namun dengan cara yang masak yang benar,” katanya.
Menurut Rafael, jika ada sejumlah restoran atau rumah makan yang memiliki standar yang baik, maka bisnis kuliner di Jember akan maju pesat. Namun higienitas tak boleh ditinggalkan. [wir]






