Surabaya (beritajatim.com) – Di banyak kampus, urusan pengamanan PKKMB lazimnya ditangani mahasiswa senior. Tapi di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pendekatannya berbeda. Yang berjaga bukan kakak tingkat, melainkan sosok yang dulu menjaga kedaulatan negara.
Adalah Peltu (Purn.) Hartoyo. Dahulu ia bertugas menjaga batas negara. Kini, ia menjadi Koordinator Keamanan dan Ketertiban PKKMB Untag 2025 untuk mengawal mahasiswa baru. Tugasnya bukan sekadar mengawasi, tapi juga menanamkan disiplin sejak hari pertama.
“Kami tekankan 3S. Senyum, Sapa, Salam. Karena yang kami hadapi mahasiswa baru, tantangan utama adalah menjaga keteraturan,” ujar Hartoyo, Rabu (6/8/2025).
Sistem penjagaannya pun cukup ketat. Personel keamanan dibagi menjadi tiga shift. Pagi 11 orang, sore 10, dan malam 7 orang. Penjagaan dilakukan nyaris 24 jam, di seluruh titik kegiatan. “Di setiap waktu harus ada personel yang siaga,” tegas Hartoyo.
“Kami juga berkoordinasi dengan Sie Kesehatan, agar jika ada mahasiswa yang kelelahan atau mengalami gangguan kesehatan, bisa langsung ditangani,” tambahnya.
Tim keamanan ini juga akan bertugas saat puncak acara PKKMB pada 4 Oktober mendatang, yakni Campus Expo. Mereka bertanggung jawab atas pengamanan area tamu undangan, artis pengisi acara seperti Juicy Luicy, serta logistik acara seperti sound system dan genset.
Tapi lebih dari itu, sejatinya bagi Untag Surabaya, pelibatan purnawirawan bukan sekadar urusan teknis. Ini merupakan bagian dari penanaman karakter sejak dini.
Sebagai Kampus Patriotik, Untag menempatkan nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan, dan patriotisme sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan kampus. Sejak berdiri pada 1958, kampus ini didirikan untuk melanjutkan semangat kemerdekaan di bidang pendidikan tinggi.
Identitas ‘Merah Putih’ terlihat jelas dari bagaimana cara kampus menanamkan nilai-nilai kebangsaan secara langsung kepada mahasiswanya. Salah satunya melalui sistem pengamanan yang tak biasa ini.
Momen PKKMB ini, mahasiswa baru dihadapkan langsung pada atmosfer tertib dan tanggung jawab. Ini adalah cara Untag Surabaya menanamkan kedisiplinan. Bukan lewat ceramah, tapi praktik nyata. Sebab, disiplin bukan tekanan, tapi kebiasaan. [ipl/ted]






