Blitar (beritajatim.com) – Memasuki ibadah Wukuf di Padang Arafah, 4 orang calon jemaah haji asal Kabupaten Blitar justru masih sakit. Seluruh calon jemaah haji yang sakit tersebut kini masih menjalani perawatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia Makkah dan di rumah sakit Arab Saudi.
Koordinator panitia penyelenggaraan haji Kabupaten Blitar 2023, Khayatul Mahki menyebut 3 jamaah haji sakit setelah mengalami kelelahan fisik sehingga kondisinya drop. Kini semua jemaah yang sakit itu tengah dirawat di klinik dan rumah sakit untuk pemulihan fisik.
“Sedangkan jemaah yang ada di tanah suci yang sakit sekitar ada 2 yang dirawat di klinik kesehatan haji Indonesia Mekkah dan juga di RS Arab Saudi,” kata Mahki, Minggu (2/7/2023).
Selain 3 jemaah itu, ada 1 calon haji asal Kabupaten Blitar yang hingga kini masih mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit Arab Saudi. Jemaah tersebut diketahui mengalami sakit jantung sehingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Secara umum kondisi jemaah haji asal Kabupaten Blitar yang tergabung dalam kloter 12 dan 13 kondisinya sehat. Seluruh jemaah haji pun kini telah menjalankan ibadah puncak haji.
Kemenag (Kementerian Agama) Kabupaten Blitar sendiri berharap agar calon jemaah haji yang masih sakit segera sembuh. “Berharap nanti sebelum tanggal 10 sudah sehat dan bisa bersama-sama pulang jemaah haji kloter 12 dan 13,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Jemaah Haji Tertua Kabupaten Blitar Bahagia Bertemu Menko PMK Muhadjir Effendy di Madinah
Saat ini calon jemaah haji asal Kabupaten Blitar masih melakukan lempar Jumrah. Menurut Kemenag Kabupaten Blitar mayoritas jemaah saat ini tengah mengambil Nafar Tsani dan harus menyelesaikan satu kali lemparan yakni jumroh Wustha, Ula, Akobah.
Hal ini terjadi lantaran padatnya jalan keluar dari Mina. Sehingga para jemaah haji harus menginap satu malam lagi di Mina. “Tapi ada yang ambil nafar awal dan juga ada yang ambil nafar sani, jadi yang ambil nafar Tsani hari masih menyelesaikan satu kali lemparan yakni jumroh Wustha, Ula Akobah,” katanya.
“Kemarin ada yang berniat nafar awal tapi karena padatnya jalan jadi tidak bisa keluar dari Mina batasnya Magrib. Kalau Magrib belum keluar dari Mina mau gak mau jemaah itu harus melakukan nafar assani alias menginap satu malam lagi di Mina dan melakukan lemparan satu kali lagi yaitu Ula, Wustha, Akobah,” lanjutnya.
Nafar awal adalah berniat keluar dari Mina untuk mengambil nafar lebih awal, yakni pada 12 Dzulhijjah setelah melempar jumrah pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah. Tempat berniat untuk nafar awal ini kurang lebih 50 meter dari jumrah Aqabah (di luar Mina dan termasuk daerah Makkah).
BACA JUGA:
Sedih, 2 Calon Jemaah Haji Asal Blitar Mendadak Batal Berangkat
Batas waktu untuk Nafar awal ini adalah Magrib, jika hingga waktu itu jemaah belum bisa keluar dari Mina maka harus ikut Nafar Tsani. Nafar tsani adalah jemaah baru meninggalkan Mina setelah melontar ketiga jumrah pada tanggal 13 Dzulhijjah, sementara nafar awal adalah jemaah meninggalkan Mina setelah melontar jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah) yang masing-masing dilempar sebanyak tujuh kali pada 12 Dzulhijjah.
Kemenag Kabupaten Blitar menyebut jemaah yang sebelumnya mengambil Nafar awal yang sudah berada di Kota Mekkah, namun masih berkoordinasi karena belum adanya layanan bus salat. Jadi jemaah masih istirahat dulu di hotel dan belum bisa ke Masjidil Haram atau sekitaran Kabah. “Saat ini masih di hotel belum bisa kemana-mana,” pungkasnya. [owi/suf]






