Sidoarjo (beritajatim.com) – Yayasan Bakti Lentera Kasih (YBLK) Sidoarjo kembali menggelar workshop homecare pertemuan ketiga pada akhir pekan ini di Jalan Kombes Pol M Duryat 66.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para peserta dalam merawat lansia dan pasien yang sakit, khususnya dalam hal menjaga kebersihan tubuh dan mengenali kondisi kegawatdaruratan.
Materi kali ini dibawakan oleh Sri Wulandari, seorang praktisi homecare berpengalaman yang telah lama menangani pasien di wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Sebelum terjun di dunia homecare, Mbak Ndari sempat bekerja di beberapa rumah sakit besar di Surabaya salah satunya Siloam Hospital.
“Menjadi petugas homecare itu tidak hanya soal merawat, tapi juga memahami kondisi pasien secara menyeluruh, mulai dari ujung kepala hingga kaki, baik bagian depan maupun belakang tubuh,” ujar Ndari saat membuka sesi pelatihan, Sabtu (17/5/2025).
Ia menekankan pentingnya observasi fisik pasien, bahkan untuk petugas nonmedis. Menurutnya, meskipun diagnosa medis dilakukan oleh tenaga kesehatan, pemahaman dasar oleh petugas homecare sangat penting dalam situasi darurat. Dalam hal ini, pendekatan kegawatdaruratan ABCDE menjadi dasar yang perlu dikuasai.
“Minimal paham sampai poin C, yakni sirkulasi. Kalau ada kendala seperti pasien sesak napas atau tidak sadar, petugas harus tahu tindakan awal sebelum menghubungi tenaga medis,” jelasnya.

Dalam sesi materi, Mbak Ndari juga mengingatkan bahwa merawat lansia memiliki tantangan tersendiri. Seiring bertambahnya usia, fungsi organ tubuh menurun sehingga perlu perhatian ekstra, terutama dalam pemberian cairan dan mengevaluasi ekskresi melalui urin.
“Keseimbangan cairan masuk dan keluar sangat penting. Jika lansia jarang bergerak atau batuknya lemah, risiko terkena pneumonia juga meningkat,” tambahnya.
Beberapa permasalahan umum lain yang sering terjadi pada lansia antara lain risiko jatuh, luka tekan (decubitus), ruam popok, serta infeksi jamur yang dapat memburuk pada pasien diabetes.
Selain keterampilan medis, Sri juga menekankan pentingnya sentuhan humanis dalam pelayanan homecare. “Petugas harus bisa berimprovisasi dengan alat seadanya, karena tidak semua pasien memiliki biaya besar. Seni dalam merawat itu penting agar pasien merasa nyaman,” tutur Sri.
Pelatihan dilanjutkan dengan praktik langsung, mulai dari memandikan pasien, membantu buang air besar dan kecil, mengganti pakaian, hingga mengganti sprei tempat tidur. Suasana kelas berlangsung meriah karena para peserta sangat antusias dan aktif bertanya, baik berdasarkan pengalaman pribadi maupun dari materi yang diberikan.
“Kami senang bisa belajar langsung dan praktik, karena sering kali di rumah menghadapi kondisi serupa tapi bingung harus mulai dari mana,” ungkap salah satu peserta.
Workshop ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan keterampilan para peserta, sehingga mampu memberikan pelayanan homecare yang aman, nyaman, dan berkualitas, terutama bagi pasien yang membutuhkan perawatan jangka panjang di rumah. (ted)






