Banyuwangi (beritajatim.com) – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudapar) Banyuwangi, M. Yaniarto Bramuda menyebut, kedua korban pengeroyokan di pantai Pulau Merah, Kecamatan Pesanggaran, diduga mabuk. Pernyataan itu terlontar berdasarkan hasil kroscek ke pengelola Pulau Merah.
Bramuda mengatakan, total ada tiga rombongan mobil yang datang ke Pulau Merah sekitar pukul 02.00 dini hari. Awalnya salah satu wisatawan asal Jember itu sedang bertengkar dengan pasangannya. “Sehingga diingatkan, namun malah marah dan melakukan perlawanan kepada kelompok yang mengaku anak PM (Pulau Merah),” ungkap Bramuda, Selasa (20/9/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”pengeroyokan”]
Meski demikian, pihaknya tidak gegabah mengambil kesimpulan karena informasi itu bersifat dugaan. Bramuda lebih memilih menyerahkan kasus ini ke pihak kepolisian. “Sementara kasus ini sedang diselidiki oleh pihak kepolisian untuk mengetahui kebenaran pastinya. Masih tahap penyelidikan,” pungkasnya.
Sebelumnya, dua korban atas nama dua Dimas Febri Listiyanto dan Abdul Muksi mendapat perlakuan kekerasan saat berlibur ke Pulau Merah. Saat ini sudah kembali ke daerahnya di Ledokombo, Kabupaten Jember. Meskipun demikian, usai peristiwa itu mereka sempat mendapat perawatan medis di Puskesmas lantaran menderita luka di kepala.
Selain mendapat perlakuan keras, dua korban ini juga harus menerima kenyataan karena barang berharganya juga raib. Handphone korban beserta dompet berisi uang senilai Rp 1,8 juta raib digondol pelaku. (rin/kun)






