Gresik (beritajatim.com) – Wisata heritage Kampung Pecinan Gresik, atau biasa disebut kota lama terus dibenahi. Bangunan yang berdiri sejak abad 14 itu disulap menjadi ikon destinasi wisata toleransi di Indonesia.
Selain wisata heritage kampung pecinan, ada kampung yang sama dalam proses revitalisasi yang diambil dari anggaran APBN sebesar Rp 47 miliar. Kampung yang dimaksud yakni kampung kemasan atau pribumi, dan kampung arab.
Disamping kawasan kampung yang direvitalisasi. Sejumlah jalan juga dilakukan hal yang sama. Jalan itu, antara lain Jalan Kramatlangon, Jalan Malik Ibrahim, Jalan Agus Salim, Jalan KH Zubair, Jalan Basuki Rahmat, Jalan AKS Tubun, dan Jalan Setia Budi.
Pembangunan kawasan semua itu, disesuaikan dengan ciri khasnya masing-masing. Di Kawasan kampung pribumi misalnya, semua infrastruktur akan dibuat dengan konsep kolonial. Di kampung arab juga akan dibangun seperti nuansa di Saudi Arabia. Begitu juga di kawasan kampung Pecinan seperti nuansa negara China.
“Wisata heritage semua itu akan kami kembangkan sebagai ikon wisata baru di Gresik, dan tidak dimiliki di daerah lain,” ujar Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Selasa (12/07/2022).
Mantan Ketua DPRD Gresik itu menuturkan, di abad ke 14 Gresik merupakan daerah bandar terbesar di Pulau Jawa. Tidak salah bila banyak multi etnis melakukan perdagangan lintas pulau.
“Wisata heritage seperti itu, akan terus kami kembangkan sehingga bisa menghidupkan ekonomi kreatif,” ungkap Fandi Akhmad Yani.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gresik”]
Ia menambahkan, setelah dibenahi warga harus memanfaatkan moment ini. Sehingga, bisa membangkitkan kembali ekonomi masyarakat yang sempat terpuruk akibat tingginya kasus pandemi covid-19.
“Pemerintah desa juga harus ikut andil membangun dan menjaga. Bila perlu anggarannya juga dikeluarkan agar saling merasa memiliki. Jaga lingkungan agar menjadi identitas Gresik yang mana memiliki kota peradaban yang kuat terkait dengan sejarah. Disini ada banyak etnis berkumpul jadi satu. Ada kampung kolonial, pecinan, arab melayu. Ini adalah sejarah yang merupakan simbol identitas Gresik,” imbuhnya.
Sementara Kepala Dinas Cipta Karya Perumahan dan Kawasan Permukiman Pemkab Gresik, Ida Lailatus Sa’diyah mengatakan, penataan tempat wisata ini sekaligus untuk mempromosikan Gresik sebagai kota bandar.
“Ini merupakan wisata heritage dari beberapa etnis di Kabupaten Gresik, sekaligus penataan promosi Gresik Kota Bandar yang sejak abad 14 Pelabuhan Gresik menjadi tempat transit rempah-rempah dari penjuru dunia,” katanya.
Revitalisasi secara bertahap lanjut dia, ditargetkan selesai pada tahun ini. Dengan beberapa tahapan yang sudah dimulai dari bulan Februari 2022 lalu.
Menurut dia, desain grafis saluran drainase untuk revitalisasi di kawasan heritage itu dengan estimasi 240 hari dari tujuh ruas jalan, dengan anggaran dari APBN tahun 2021-2022.
“Kedepan akan terus dilakukan sejumlah perbaikan lainnya, seperti menjadikan area bebas kabel di wisata heritage. Selain itu, saat proses revitalisasi drainase juga akan dilakukan rekayasa lalu lintas, sehingga masyarakat, dan pengendara tidak terganggu dengan pembangunan destinasi wisata ini,” pungkasnya. (dny/ted)






