Jombang (beritajatim.com) – Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo yang terletak di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, kini tengah mengembangkan proses pembuatan topeng tradisional yang menjadi ikon seni budaya di wilayah tersebut.
Pada Minggu, 19 April 2026, salah satu perajin yang akrab disapa Kopral tampak sibuk memahat kayu Waru menjadi sebuah topeng baru yang akan menambah koleksi topeng milik sanggar tersebut. Dengan alat sederhana, Kopral bekerja telaten menyelesaikan topeng kayu yang menjadi simbol dari seni tradisional Wayang Topeng Jatiduwur.
Kayu Waru, yang digunakan sebagai bahan baku utama topeng, diperoleh dari daerah sekitar, menjadikannya tidak hanya sebagai media ekspresi seni, tetapi juga bagian dari kearifan lokal yang dilestarikan.
Isma Hakim, pengelola Sanggar Tri Purwo Budoyo, menjelaskan bahwa pengembangan pembuatan topeng ini merupakan bagian dari program pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur. “Kita kembangkan pembuatan topeng dan melatih anak-anak untuk menari,” ujarnya.
Selain untuk kebutuhan pementasan, topeng-topeng yang diproduksi juga akan dijadikan merchandise yang dapat dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke sanggar. Isma menambahkan bahwa mereka juga berencana untuk memproduksi seluruh ornamen Wayang Topeng Jatiduwur lainnya, seperti selendang dan koncer.
“Ke depan kami juga akan membuat edukasi untuk anak-anak agar dapat membuat topeng, dan juga bisa menari,” ucap Isma.
Menurut Setyo Yanuartuti, akademisi Unesa, Wayang Topeng Jatiduwur memiliki potensi luar biasa sebagai seni pertunjukan yang dapat berkembang menjadi media kreatif. “Awalnya dari sebuah visual topeng dengan berbagai bentuk karakter. Berawal dari sana kemudian menjadi sebuah pertunjukan yang dilengkapi dengan perangkat-perangkat,” kata Setyo.
Ia juga berupaya agar kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai seni ritual, tetapi juga dapat tampil dalam berbagai event seni.
Lebih lanjut, Setyo menyampaikan bahwa pengembangan topeng, busana, dan musik Wayang Topeng Jatiduwur dapat dijadikan sumber ekonomi kreatif. “Kami pada tahun ini punya program untuk membuat merchandise. Artinya berawal dari karakter yang dimiliki pertunjukan wayang topeng ini, baik topengnya, busananya, maupun musiknya, bagaimana ini bisa dijadikan sumber awal untuk merchandise dikembangkan dalam seni kriyanya,” ungkap Setyo.
“Untuk membangunkan ekonomi kreatif. Kami akan mengembangkan itu bersama-sama dengan Sanggar Tari Tri Purwo Budoyo,” sambung Setyo.
Wayang Topeng Jatiduwur, yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat, kini juga menjadi pusat kreativitas yang membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Jombang. Dari proses pembuatan topeng hingga edukasi bagi generasi muda, seni ini telah menginspirasi banyak pihak untuk melestarikan dan mengembangkan kekayaan budaya lokal. [suf]






