Jombang (beritajatim.com) – Pondok Pesantren (Ponpes) Khoiriyah Hasyim Seblak Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang, yang telah berdiri sejak tahun 1921, kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi dan tradisi intelektual.
Pada Sabtu, 18 April 2026, ponpes yang dikenal dengan sejarah panjangnya dalam ilmu falak dan kajian kesetaraan gender ini menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Program Literasi Terpadu. Acara yang digelar di Aula MA Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak ini bertujuan untuk mematangkan kompetensi literasi di kalangan guru dan santri.
H. Fardan Hamdani, S.Fil., M.Ag., Direktur Pendidikan Madrasah Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak, menjelaskan bahwa Program Literasi Terpadu ini bertujuan untuk membangun pondasi literasi yang kuat di kalangan seluruh pengasuh dan pengajar di Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak.
Ia menekankan bahwa salah satu fokus utama adalah menjadikan guru sebagai role model dalam penerapan literasi.
“Guru harus bisa menjadi contoh dalam Program Literasi Terpadu ini. Pengajaran yang baik dan berkelanjutan akan tercipta jika guru menjadi sosok yang memotivasi santri untuk terus berkarya melalui tulisan. Program ini bukan hanya tentang mengajarkan literasi, tetapi juga membangun reputasi akademik para guru dan santri,” jelas Fardan Hamdani.
Program ini juga bertujuan untuk merekam jejak intelektual para guru dan santri di Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak. Selain itu, diharapkan dapat mempertahankan dan memperkaya tradisi literasi yang sudah ada sejak lama di pesantren ini.
Ketua Majelis Pengasuh Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak, Hj. Nur Laili Rahmah, M.Pd.I., menambahkan bahwa Program Literasi Terpadu ini penting untuk menjaga kesinambungan tradisi menulis di Ponpes.
Ia mengajak para guru untuk memulai kebiasaan menulis melalui catatan refleksi setelah pembelajaran, yang dianggap sebagai langkah kecil namun efektif untuk meningkatkan kualitas literasi.
“Guru-guru dapat memulai dengan menulis catatan-catatan refleksi setelah setiap pembelajaran. Ini adalah cara sederhana yang bisa dilakukan oleh semua guru tanpa terkecuali, dan akan membawa dampak besar dalam menciptakan budaya literasi di Ponpes,” ujar Nur Laili Rahmah.
Fasilitator Program Literasi Terpadu, Donny Darmawan, S.Hum., juga menekankan pentingnya rasa percaya diri dalam menulis. Menurutnya, banyak guru yang merasa kurang percaya diri dalam memulai menulis karena keraguan terhadap kemampuan atau hasil tulisan mereka.
“Menulis dimulai dari ketegasan alasan untuk menulis. Jika alasan sudah jelas, maka membuat kerangka konsep tulisan yang sederhana adalah langkah awal yang harus dilakukan. Guru dapat memulai menulis dengan hal-hal kecil, seperti refleksi pembelajaran atau pengalaman mengajar mereka. Ini adalah investasi pengetahuan yang akan terus berkembang,” jelas Donny Darmawan.
Dengan adanya Program Literasi Terpadu, Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak berkomitmen untuk tidak hanya mempertahankan tradisi menulis yang telah ada, tetapi juga memperkuat budaya intelektual di kalangan guru dan santri.
Program ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang yang positif, tidak hanya untuk pengembangan pribadi guru dan santri, tetapi juga untuk kemajuan pendidikan di Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak. [suf]






