Blitar (beritajatim.com) – Tren gangguan kesehatan di masyarakat mulai bergeser. Saat ini, kasus Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau gangguan asam lambung kronis tengah marak ditemukan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar.
Menariknya, fenomena ini tidak lagi didominasi oleh kelompok lansia, melainkan justru menghantui masyarakat di usia produktif, terutama kaum perempuan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr. Etha Dini Widiasi, mengungkapkan bahwa pasien dengan keluhan lambung kini menjadi langganan tetap di layanan poliklinik. Bahkan, tidak sedikit pasien yang harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena serangan yang muncul secara mendadak dan berat.
“Banyak pasien datang dengan keluhan asam lambung naik yang disertai kepala pusing hebat. Mayoritas berada di rentang usia 20 hingga 40 tahun, dan paling sering kami temui adalah wanita usia produktif,” ujar dr. Etha.
Berdasarkan temuan medis di lapangan, dr. Etha menyoroti satu faktor psikologis yang sering kali diabaikan masyarakat yakni kebiasaan overthinking. Stres dan kecemasan berlebih terbukti memiliki korelasi langsung terhadap peningkatan asam lambung.
“Stres, kurang tidur, sampai kebiasaan begadang itu sangat memengaruhi. Kondisi psikologis ini biasanya muncul bersamaan dengan pola makan yang ikut terganggu,” tambahnya.
Tekanan pekerjaan, beban ujian bagi mahasiswa, hingga kecemasan akan masa depan disinyalir menjadi pemicu utama mengapa kelompok usia muda lebih rentan terkena gangguan ini.
Selain faktor pikiran, dr. Etha menjelaskan bahwa GERD bersifat multifaktorial. Ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari menjadi pemicu utama, di antaranya:
Kebiasaan melewatkan sarapan, lalu balas dendam dengan makan berlebihan di siang hari. Selain itu, nakan menjelang tidur atau camilan tengah malam yang memaksa lambung bekerja ekstra saat tubuh seharusnya beristirahat.
Obesitas atau kelebihan berat badan yang meningkatkan tekanan di dalam perut. Kebiasaan merokok dan konsumsi kafein berlebih yang dapat melemahkan katup kerongkongan bawah.
Kelola Stres, Atur Nutrisi
Guna menekan angka kasus GERD di Blitar, pihak RSUD Ngudi Waluyo mengimbau masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup sehat secara konsisten. Mencegah GERD bukan sekadar menjaga apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana mengelola mental dan waktu istirahat.
“Semua faktor itu saling berkaitan. Sangat penting untuk menjaga pola makan yang teratur, memastikan waktu tidur cukup, dan yang paling krusial adalah mengelola stres agar GERD tidak mudah kambuh,” tutup dr. Etha.
Bagi masyarakat yang sering mengalami keluhan perih di ulu hati, dada terasa panas (heartburn), hingga pusing yang berulang, disarankan untuk segera melakukan konsultasi medis sebelum kondisi berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius. (owi/ian)






