Tuban (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban meminta masyarakat mewaspadai ancaman Virus Nipah (NiV) yang dapat menular melalui kelelawar. Imbauan ini diterbitkan pada Kamis (5/2/2026) menyusul risiko tinggi penularan zoonosis di wilayah yang memiliki populasi kelelawar besar.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Tuban, Syahrul Afifa Ratna Sari, menyoroti keberadaan Wisata Goa Ngerong yang menjadi ikon kelelawar. Selain itu, kebiasaan warga mengonsumsi buah sisa gigitan kelelawar (codot) serta minuman legen mentah meningkatkan kerentanan penularan.
Syahrul Afifa Ratna Sari menjelaskan bahwa buah yang sering menjadi sasaran kelelawar antara lain mangga, belimbing, dan jambu. “Biasanya kalau orang Tuban menyebutnya mangga dimakan codot (kelelawar) nah bekas itu gak boleh, kalau mau makan buah dikupas dulu kulitnya, dicuci bersih. Sebab, kelelawar itu kan makannya buah ya,” ujar Ratna.
Virus Nipah memiliki karakteristik yang hampir menyerupai Covid-19, namun memiliki tingkat fatalitas yang jauh lebih mengerikan bagi manusia. Perbedaan utamanya terletak pada ketersediaan obat dan vaksin yang hingga saat ini belum ditemukan untuk mengatasi infeksi Virus Nipah.
Gejala awal infeksi meliputi demam, nyeri otot, muntah, hingga pneumonia berat dan kejang-kejang yang memicu penurunan kesadaran atau pingsan. Tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) virus ini sangat tinggi, yakni mencapai kisaran 40 hingga 75 persen.
“Gejalanya itu awalnya demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, nyeri tenggorokan, pusing, penurunan kesadaran atau pingsan, pneumonia berat sesak nafas, sampai dengan kejang-kejang. Untuk kemungkinan meninggalnya CFR sekitar 40-70 persen, ini tinggi sekali,” jelas Ratna.
Sejauh ini belum ditemukan kasus penularan pada manusia di Indonesia, termasuk di wilayah Kabupaten Tuban yang masih berstatus nihil. Namun, keberadaan virus tersebut telah terdeteksi pada populasi kelelawar di Kalimantan Barat serta kawasan Pasar Hewan Magelang.
Ratna berharap Tuban tetap aman, namun masyarakat tetap harus mengubah pola konsumsi buah dan minuman tradisional secara lebih higienis. “Harapannya mudah-mudahan di Kabupaten Tuban tidak ada. Namun, masyarakat harus waspada, seperti tidak memakan makanan yang bekas gigitan kelelawar, sementara tidak minum legen yang langsung turun dari pohonnya, lebih baik di olah dulu,” tuturnya.
Pencegahan utama dapat dilakukan dengan memanfaatkan suhu panas karena virus zoonosis ini akan mati jika terpapar panas yang cukup. Masyarakat disarankan untuk memasak minuman legen terlebih dahulu dan selalu mengupas kulit buah setelah dicuci bersih menggunakan air mengalir.
Berdasarkan pemantauan serologi pada hewan ternak babi di sejumlah wilayah Indonesia, petugas belum menemukan adanya antibodi terhadap NiV. “Termasuk babi juga, berdasarkan survei dari Serologi dengan ELISA pada hewan babi di RPH Jakarta, Medan, beberapa peternakan di Riau, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sulawesi Utara ternyata tidak ditemukan antibodi terhadap NiV,” pungkasnya. [dya/beq]






