Ponorogo (beritajatim.com) – Hasil utama dari budidaya tanaman Cengkeh adalah bunganya. Ya, saat kelopak bunga itu belum mekar, saat itulah waktu yang pas untuk memanen. Bunga cengkeh itu menghasilkan cuan, sebab digunakan sebagai salah satu bahan baku untuk membuat rokok kretek. Rokok yang merupakan khas dari Indonesia.
Namun, bukan hanya bunganya saja yang bisa menghasilkan cuan, daun dari tanaman yang bernama latin Syzigium aromaticum itu pun juga bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Caranya yakni dengan mengolahnya menjadi minyak daun cengkeh. Khasiat daun cengkeh ini banyak dimanfaatkan pada bidang kesehatan.
Usaha pembuatan minyak daun cengkeh inilah yang saat ini ditekuni oleh Wajib, warga Desa Jurug Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo. Pengolahan daun cengkeh menjadi minyak itu, membuat dirinya bisa menghasilkan rupiah. Bahkan penghasilannya dalam sebulan bisa sampai jutaan.
Usaha minyak daun cengkeh yang dijalankan Wajib ini, berawal dari banyaknya sampah daun cengkeh di desanya. Dari dulu, Desa Jurug Kecamatan Sooko memang sudah terkenal dengan tanaman cengkehnya. Hampir setiap warga di ujung timur Kabupaten Ponorogo ini, memiliki tanaman cengkeh. Baik itu yang ditanam di lahan maupun di pekarangan rumah. Sehingga tidak heran jika di wilayah tersebut banyak ditemukan sampah daun cengkeh.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sampah”]
“Kebanyakan warga menanam pohon cengkeh ya untuk diambil bunganya, dijual untuk bahan membuat rokok kretek. Sedangkan lainnya ya dibiarkan begitu saja. Bahkan daunnya yang berguguran malah menjadi sampah,” kata Wajib mengawali cerita usaha minyak daun cengkehnya, Minggu (2/10/2022).
Tak ingin hanya dibakar begitu saja, sampah daun cengkeh oleh Wajib mencoba untuk dioleh, hingha akhirnya menjadi minyak daun cengkeh. Proses pembuatan minyak daun cengkeh ini, ialah pengumpulan daun cengkeh. Untuk menambah ekonomi warga, Wajib membeli daun cengkeh dari warga. Ia membeli daun cengkeh dengan harga Rp 2.000 per kilogramnya. “Daun cengkeh kita kumpulkan dari warga, sampah daun cengkeh dibeli seharga Rp 2.000 per kilogramnya,” ungkap Wajib.
Daun cengkeh itu lalu dijemur dibawah terik matahari hingga kering. Saat dipastikan daun-daun itu sudah kering, baru dilakukan proses penyulingan. Dalam sehari penyulingan itu, dibutuhkan sebanyak 14 kuintal daun cengkeh kering. Dari bahan sebanyak itu, nantinya akan menghasilkan sebanyak 38 kilogram minyak daun cengkeh. “Kalau dalam sebulan, kita bisa mampu memproduksi sebanyak 500 kilogram minyak daun cengkeh,” katanya.
Bukan daun cengkeh saja, Wajib juga mengolah daun sereh, juga untuk diambil minyaknya. Prosesnya pun sama seperti mengolah daun cengkeh. Namun bedanya, ketersediaan daun sereh sangat terbatas, sehingga produksinya tidak bisa dikerjakan setiap hari. “Untuk minyak daun sereh tidak bisa diproduksi setiap hari, karena keterbatasan bahan baku,” katanya.
Minyak daun cengkeh dan minyak sereh yang diproduksi Wajib, sebagian besar diambil oleh sebuah perusahaan. Minyak-minyak itu untuk bahan dasar kosmetik dan juga bahan farmasi. Sementara sisanya dikemas dalam botol kecil, dan dipasarkan untuk masyarakat sekitar. Dalam sebulan, Wajib mengaku mampu memperoleh penghasilan antara Rp 80 juta hingga Rp 100 juta, tergantung harga minyak dipasaran.
Ke depan, Wajib akan mengembangkan usahanya ini dengan mengajak para petani untuk bertanya sereh. Ia berharap usaha yang digelutinya ini juga bisa membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. “Kita ingin meningkatkan produksi untuk minyak daun sereh. Salah satu yang dilakukan ya mengajak warga sekitar yang merupakan petani untuk menanam sereh,” pungkasnya.
Salah satu warga bernama Pujiana mengaku bahwa masyarakat sudah mengenal minyak daun cengkeh dan sereh banyak khasiatnya. Selain aromanya yang wangi, minyak tersebut juga bisa digunakan untuk mengobati pegal-pegal dan juga rasa capek usai beraktivitas. “Minyak cengkeh dan minyak sereh bisa mengobati pegal-pegal atau rasa capek. Jadi jika habis, saya selalu order ke Pak Wajib,” katanya. (end/kun)






